Melika Azizi, Memerangi Tuhan dan Hukuman Mati

Melika Azizi, Memerangi Tuhan dan Hukuman Mati

Daftar Isi

Di tengah kemelut perang ISAM (israel Amerika) melawan IRAN, tiba-tiba pena media tertuju pada sosok gadis berusia18 tahun bernama Melika Azizi

Nama Azizi, kini sedang menjadi perhatian serius lembaga Hak Asasi Manusia Internasional karena ia berada dalam risiko eksekusi yang sangat tinggi (imminent risk).

Melika Azizi ditangkap saat berlangsungnya gelombang protes nasional - yang berkaitan - dengan protes "Woman, Life, Freedom" yang sebelumnya memicu kematian Mahsa (Jina) Amini di bulan September 2022.

Penangkapan Melika Azizi ini menandai gejolak yang lebih baru pada awal 2026, ia ditahan di Penjara Lakan, dekat Rasht, Iran dan menghadapi dakwaan berat, termasuk "Enmity against God" (Moharebeh) dan pembakaran bendera Republik Islam di kota Masal. 

Apa yang sebenarnya terjadi di Iran hingga menerapkan hukuman berat -yang sebagian besar - berujung pada kematian terdakwa. Dan, apa saja tindakan yang di sebut sebagai Moharebeh - Tindakan melawan Tuhan- itu? 

Siapkan kopi dan camilannya, karena kita akan mengungkap sisi gelap dari Rezim Teokrasi Iran

**********

Dalam konteks hukum "ISLAM" di Iran, Moharebeh kerap diartikan sebagai tindakan melawan pemerintah - rezim berkuasa- dengan tujuan menimbulkan ketakutan di masyarakat, mengganggu keamanan publik, atau menyerang individu/negara.

Merujuk pasal 282 KUHP Islam Iran, hukuman pelaku -melawan TUHAN- akan diganjar hukuman mati (gantung), penyaliban, amputasi tangan kanan dan kaki kiri, atau pengasingan. Sementara, di sisi lain, sejumlah tahanan politik,-seringkali- mendapatkan hukuman mati

Seperti dilansir sejumlah media, Pemerintahan "Teokrasi" Teheran ini sering memberlakukan pasal ini secara elastis. Sejumlah tindakan seperti memblokir jalan saat protes, merusak fasilitas umum, atau sekadar berpartisipasi dalam demonstrasi anti-pemerintah yang dianggap "mengancam stabilitas" dapat dikategorikan sebagai Moharebeh.

BACA JUGA : 

Berapa jumlah pastinya? hingga kini tak ada media yang bisa menyebut angka "pasti" sebab pemerintah Iran tidak merilis data transparan mengenai eksekusi politik, namun berdasarkan catatan organisasi HAM internasional (seperti Amnesty International dan Iran Human Rights), sejak 1979, jumlah total orang yang dihukum mati dengan dalih "memerangi Tuhan" atau tuduhan politik serupa diperkirakan mencapai puluhan ribu jiwa.

******

Kisah Melika Azizi semakin menarik perhatian Internasional di tengah "tudingan" kampanye "demokrasi" untuk mengganti sistem pemerintahan "Teokrasi" Iran menjadi "Demokrasi"   

Sebuah teori konspirasi akhirnya mengemuka, bahwa Aksi protes "Woman, Life, Freedom" pada akhir 2022 hingga awal 2026, di danai oleh Amerika dan Sekutu. 

Kendati tidak ada fakta empiris untuk membuktikan teori ini, namun strategi atau teori mengenai penggantian rezim (regime change) di Iran yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya mencapai puncaknya saat memasuki tahun 2025-2026.

Isu "sumir" kemudian mencuat dan menuding ISAM memberikan dukungan terhadap "Iranian Agency" sebuah metode pemberdayaan Oposisi - melalui proxy (agen ) aktivis lokal di Iran. 

Di lini massa yang menyatakan pro terhadap Iran menganggap bahwa perubahan rezim yang berkelanjutan harus datang dari rakyat Iran sendiri, bukan paksaan asing

Itulah sebabnya, tudingan "ISAM" yang menunggangi demonstran serta menggunakan forum internasional untuk mendelegitimasi rezim secara moral, serta memperkuat gerakan seperti "Woman, Life, Freedom".

Ketika para pendemo meneriakkan slogan "Zan, Zendegi, Azadi" (Perempuan, Kehidupan, Kebebasan), itu bukan sekadar yel-yel, melainkan manifestasi dari tuntutan rakyat Iran terhadap rezim teokrasi dan menghendaki Arah Perubahan di Iran - kembali - ke sistem Demokrasi.

*******

Kini, Azizi sedang menanti hukuman mati karena dianggap telah melakukan tindakan melawan hukum -menghina simbol negara para Mullah-, dan membakar foto Ali Khamenei. Beberapa Media menyebut Melika Azizi telah dieksekusi hukuman gantung oleh pemerintah Iran, pada awal Maret 2026.  

Kematian Azizi menjadi "Alarm" bagi seluruh warga Iran. Sebab, dibalik kematian Gadis -yang disebut media barat- sebagai aktifis Demokrasi itu, ada Ancaman yang lebih berbahaya. 

Para ahli geopolitik memperingatkan bahwa jika rezim teokrasi runtuh tanpa persiapan yang matang dari pihak oposisi sipil, Iran berisiko berubah menjadi negara yang sepenuhnya dikontrol oleh militer (IRGC) secara brutal, yang mungkin lebih agresif daripada rezim ulama saat ini.

Editorial | Arah Perubahan 

Posting Komentar

Flag Counter