Badai Super El Nino, Ancaman Kekeringan Parah 2026
Climate Change is Real ! Indonesia bersiap menghadapi Badai Super El Nino di tahun 2026, sepintas berita ini terdengar mencekam, terlebih pada badai El nino -sebelumnya - yang pernah terjadi di Indonesia menyebabkan dampak signifikan berupa bencana kekeringan
Sejarah mencatat di Indonesia pernah terjadi bencana El Niño dalam siklus 2 hingga 7 tahun, dengan intensitas yang bervariasi Pada tahun 1982–1983, menjadi salah satu bencana terhebat di abad ke-20, hingga menyebabkan kekeringan hebat.
Di tahun 2026, data terkini dari BMKG dan BRIN pada Maret 2026, merilis fenomena El Niño yang diprediksi menguat pada pertengahan hingga akhir tahun 2026 akan memberikan dampak yang signifikan di seluruh Indonesia.
Seperti apa dampaknya di Indonesia, dan bagaimana kesiapan kita untuk melakukan mitigasi (upaya pengurangan resiko bencana), siapkan kopi pahit sedikit gula karena kita akan membahas hal ini dengan mode serius namun tetap santai dan penuh kesiapsiagaan.
*******
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melalui Climate Prediction Center, merilis laporan terkait peluang terbentuknya El Niño antara Juni hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 62 persen. Artinya, prediksi akan ancaman bencana kekeringan menjadi alarm bahaya bagi masyarakat Indonesia
El Niño, sebuah sistem iklim global yang dikenal sebagai El Niño-Southern Oscillation atau ENSO yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur meningkat, sehingga membawa dampak perubahan pola angin dan cuaca di penjuru dunia dan membawa fase hangat
Peningkatan fase hangat El Niño, tak hanya terjadi di kawasan Pasifik, namun menyeluruh global. Kondisi ini memicu perubahan drastis pada pola hujan, sehingga wilayah tertentu menjadi lebih kering, sementara daerah lain justru berisiko mengalami banjir.
Secara garis besar, wilayah Indonesia bagian Barat dan Selatan akan mengalami kekeringan ekstrem, sementara wilayah Timur justru berpotensi mengalami anomali curah hujan tinggi.
Hasil analisa prediksi cuara dari BMKG menunjukkan peta wilayah terdampak Kekeringan Ekstrem (Bawah Normal) yang datang lebih awal (Maju), lebih kering, dan durasinya lebih panjang (hingga 5–9 bulan) antara lain Pulau Jawa, terutama di sepanjang Pantura (Pantai Utara).
Di Jawa Timur, sekitar 75% wilayah diprediksi mengalami kemarau yang lebih gersang dari biasanya. Selanjutnya, Bali dan Nusa Tenggara (NTB & NTT), Wilayah ini akan menjadi titik awal masuknya masa kering (mulai April 2026) dan diperkirakan mengalami durasi kekeringan terpanjang.
![]() |
| foto : foxweather |
Sebagian besar Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan diprediksi masuk dalam zona risiko tinggi kekeringan dan kebakaran hutan (Karhutla) mulai Juli 2026.
Berikut ini adalah lokasi terdampak
- April - Mei (Awal Kemarau): Kekeringan mulai "maju" lebih cepat. Wilayah Nusa Tenggara (NTT, NTB) dan Jawa Bagian Timur/Tengah adalah yang pertama merasakan dampak, ditandai dengan tanah yang mulai retak dan penurunan debit irigasi awal.
- Juni - Juli (Penguatan): Fenomena El Niño menguat. Defisit hujan meluas ke barat. Wilayah Sumatra (seperti Riau, Sumsel) dan Kalimantan mulai mengalami penurunan muka air waduk yang signifikan.
- Agustus (Puncak Ekstrem): Ini adalah fase kritis (paling gersang). Matahari digambarkan membakar. Krisis air bersih meluas, risiko Puso (Gagal Panen) sangat tinggi di Jawa, dan kabut asap akibat Kebakaran Hutan (Karhutla) mulai menutupi Sumatra dan Kalimantan.
- September+ (Kemarau Panjang): Meskipun wilayah lain mungkin mulai melihat awan, Nusa Tenggara, Sebagian Jawa, dan Lampung diprediksi mengalami kemarau yang "mundur" jauh, memperpanjang masa krisis air.
*********
Prediksi yang di sampaikan BMKG maupun analisa cuaca dari NOAA cukup mengejutkan publik, sebab bila kita lihat tingkat keparahan Super El Niño di tahun 1997, menyebabkan lebih dari 2 juta hektar hutan dan lahan terbakar. Bahkan, sejarah mencatat Indonesia harus mengimpor beras dalam jumlah besar untuk menjaga stabilitas pangan.
Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai miliaran dolar AS akibat gangguan transportasi udara dan aktivitas ekonomi yang lumpuh karena asap.
Apa yang kita bisa lakukan untuk mengurangi resiko bencana ini? Petani dapat mulai beralih ke sistem irigasi tetes (drip irrigation) atau irigasi curah (sprinkler) di lahan pertanian untuk mengurangi evaporasi berlebih pada lahan pertanian.
Sementara itu, skenario adaptasi perubahan iklim untuk sektor pertanian yakni menggunakan benih padi atau palawija yang memiliki siklus hidup pendek (genjah) dan kebutuhan air rendah.
Di sektor pengelolaan Sumber Daya Air, di perlukan rehabilitasi jaringan Irigasi dengan memastikan tidak ada kebocoran pada kanal irigasi primer hingga tersier agar distribusi air efisien.
Pola tanam diversifikasi juga perlu di pertimbangkan yakni beralih dari padi ke tanaman palawija (jagung, kedelai, sorgum) yang lebih tangguh terhadap suhu panas.
Selain itu, upaya Mitigasi dalam jangka panjang yang harus dilakukan antara lain melakukan kegiatan konservasi di wilayah hulu DAS dengan penanaman bambu, Aren untuk menjaga sekaligus mempertahankan siklus hidrologi
Editorial | Arah Perubahan


Posting Komentar