Iranophobia, Narasi Kebencian Iran
Situasi di Timur Tengah per Maret 2026 memang sedang berada di titik didih yang sangat ekstrem. Trump dalam siaran pers yang dirilis Centcom menghendaki gencatan senjata sementara pemerintahan Teheran mengajukan syarat, kesepakatan ini lantas dikenal sebagai 15 tuntutan ke Teheran
Lima belas syarat untuk mengakhiri perang di Timur Tengah dari Amerika itu berisi Penghentian Program Nuklir Iran, Penutupan situs nuklir utama, Pembatasan Rudal, Jaminan Keamanan Selat Hormuz, Penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan, Gencatan senjata sementara untuk jeda konflik, Pertukaran Tahanan, hingga Pencabutan seluruh sanksi AS dan bantuan untuk energi nuklir sipil
Iran dilaporkan menolak atau memberikan isyarat penolakan terhadap proposal tersebut, menganggapnya sebagai upaya menutupi kegagalan militer, dan tetap bersikeras mengajukan tujuh syarat yakni penutupan semua pangkalan militer AS di Teluk, kompensasi finansial, penghentian serangan Israel ke Hizbullah, dan pencabutan sanksi, yang bertujuan menjamin kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Di editorial kali ini, kita tidak akan membahas hasil perundingan itu, namun ada sisi gelap lain yang muncul di dunia maya, yakni narasi kebencian Iran, seperti apa isinya ?
Siapkan kopi pahit tanpa gula, karena kita akan membahas ledakan narasi di ranah digital yang bernama Iranophobia
**********
28 Februari 2026, sebuah operasi dengan kode auman singa (Operation Lion's Roar) di gelar oleh Israel dan Amerika Serikat (ISAM). Pengerahan militer gabungan besar-besaran diluncurkan untuk menggempur markas Garda Revolusi, pangkalan rudal balistik, dan pusat pemerintahan di Teheran.
Banyak media barat menyebut operasi ini sebagai Operation Epic Fury, untuk menggambarkan betapa dahsyat amukan ISAM yang melibatkan pasukan tempur udara canggih.
BACA JUGA :
- Perang Israel - Iran Dimanakah Posisi Indonesia
- Momok Megathrust, Jika Negara Abai Berbuah Petaka
- Dunia Tak Lagi Berwarna
Selama satu bulan terakhir, kita menyaksikan bagaimana pertempuran kedua belah pihak terjadi. Ya, dari layar kaca, pemberitaan media, bahkan lini massa, kita di jejali informasi tentang perang. Mulai dari profil kekuatan militer, analisa kekuatan dan potensi siapa yang menang dan kalah
Di titik ini, kita seolah ajak masuk kedalam narasi yang di bangun kedua belah pihak, baik IRGC maupun Centcom saling klaim kemenangan. Pertanyaannya, jika sudah menang kenapa masih terus berperang ?
Dibalik fakta perang itu, di panggung media sosial juga terjadi perang opini, dan yang paling menarik adalah Narasi Iranophobia, yang bertujuan untuk memojokkan Iran, padahal sejak awal kita tahu siapa yang memicu peperangan.
Hal ini menujukkan bagaimana media bukan sekadar pelapor berita, melainkan instrumen perang itu sendiri. Media Barat secara intensif mengangkat isu tindakan keras pemerintah Iran terhadap protes Januari 2026.
Meskipun isu hak asasi manusia itu nyata, narasi ini kemudian dikemas sedemikian rupa untuk membangun opini bahwa "invasi militer adalah bentuk pembebasan rakyat," sehingga serangan rudal dianggap sah secara moral.
Dalam pekan terakhir, muncul narasi "The Irrational Actor", Pemerintahan Teheran digambarkan sebagai pihak yang tidak bisa diajak bernegosiasi dan dianggap sebagai monster yang tidak punya logika keamanan selain kehancuran.
Tengok saja dalam pemberitaan media ketika Israel melakukan serangan, media sering menggunakan kalimat pasif atau teknis (misal: "Sebuah fasilitas terkena dampak"). Namun, saat Iran melakukan serangan balik, bahasanya berubah menjadi aktif dan emosional (misal: "Iran meluncurkan serangan mematikan ke pusat populasi"
********
Terlepas dari narasi diatas, ada hal yang lebih mengerikan dalam gerakan "Iranophobia". Yakni muncul strategi Sektarianisasi Politik yang bisa di lihat dari FYP di lini massa, puluhan konten seolah netral tiba-tiba menulis status "Iran memang negara Islam, tapi "Iran adalah Islam yang berbeda"
Konten ini -seolah- meyakinkan publik bahwa Iran bukan bagian dari "kita" (umat Islam arus utama) dengan menyematkan label "berbeda" atau bahkan "menyimpang", dengan tujuan menghilangkan solidaritas.
Jika publik menganggap Iran bukan bagian dari "Umat", maka penindasan, sanksi, atau serangan militer terhadap Iran tidak akan memicu kemarahan solidaritas Islam global.
Dalam teori Sektarianisasi yang menjadi hipotesa Nader Hashemi dan Danny Postel, menyebut sektarianisme bukan penyebab konflik, melainkan alat yang diproduksi secara sadar oleh elit politik untuk mempertahankan kekuasaan.
Narasi "Islam yang berbeda" adalah distraksi strategis yang dipakai untuk memastikan bahwa ketika ISAM menyerang Iran diserang, justru publik digiring untuk menyalahkan Iran, dan menyalahkan Iran karena menyebabkan ketidakstabilan kawasan
Publik -digiring untuk - tidak melihat serangan itu sebagai bentuk agresi militer terhadap sebuah negara berdaulat, melainkan sebagai "konsekuensi logis" akibat identitas Iran yang - dianggap - berbeda.
Hasilnya bisa di lihat, bagaimana netizen dari negara-negara Muslim -seperti Indonesia- mulai ikut terbawa arus untuk membenarkan operasi ISAM melawan Iran, karena Iran diposisikan sebagai "ancaman internal" dari ISLAM yang lebih berbahaya daripada pihak luar ISAM.
*********
Akhir kata, apakah kita akan terseret kedalam arus informasi itu? sebab di hal yang paling mengerikan adalah ketika narasi kebencian Islam Sunni dan Syiah ikut menancap di otak kita dan membawa kita ke dalam permusuhan saudara kita sendiri
Sekedar mengingatkan kembali kisah Nabi Ibrahim saat memasuki negeri zalim, Nabi Ibrahim berkata kepada Sarah: "Wahai Sarah, di muka bumi ini tidak ada orang mukmin (Islam) selain diriku dan dirimu. Orang -utusan raja zalim - itu bertanya kepadaku tentang dirimu, dan aku katakan kepadanya, bahwa "Kamu adalah Saudaraku Seiman. Maka jangan mendustakanku,".
Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar