Momok Megathrust, Jika Negara Abai Berbuah Petaka
Pernahkah kita bayangkan kenapa semangkuk sayur di masak beberapa hari yang lalu, masih bisa kita nikmati hingga berhari hari. Eits jangan keburu berpikir kita makan sayur basi, sebab ada metode jitu masyarakat Nusantara untuk mengolah makanan.
Dalam khasanah Gastronomi, nenek moyang kita menyebutnya sebagai Sayur Blendrang, merujuk pada masakan bersantan yang sengaja didiamkan, lalu dipanaskan/direbus berulang kali selama berhari-hari agar bumbu meresap sempurna, tekstur sangat lunak, dan kuah kental
Itulah kondisi kita hari ini, sebuah analogi untuk menggambarkan bahwa kita pribumi yang sedang berada di atas panci (sirkum pasifik dan mediterania) dengan kobaran api (magma) yang menyala di perut ibu pertiwi. Ya, kita sedang di masak setiap hari, dan lingkaran api yang mengelilinginya itu disebut Ring Of Fire
*****
Analogi berdiri di panggangan api bukan yang berlebihan, sebab ada hal yang tidak di miliki bangsa lain. Ibarat makanan "Fresh from di the oven", di hangatkan setiap saat inilah yang menyebabkan tanah kita subur. Sebab setiap ada kobaran lava pijar dari gunung berapi, bumi sedang melakukan detoksifikasi dan pemupukan alami.
Gunung berapi melepas sulfur ke udara membawa beragam unsur hara makro sekunder esensial yang berperan penting dalam pembentukan klorofil, sintesis protein, asam amino (sistein, metionin), dan aktivasi enzim untuk fotosintesis.
Tajuk narasi Arah Perubahan kali ini bukan untuk membesarkan hati kita, namun di balik kesuburan Bumi Nusantara, ada ancaman besar yang setiap saat mengintai kita. Apa yang di tulis Prof Santos tentang Atlantis yang hilang bukanlah dongeng, dan itu boleh jadi benar terjadi di Nusantara, tentang moyang kita yang pernah di hantam bencana maha dahsyat bernama Megathrust
Prof. Arysio Nunes dos Santos, Ph.D seorang fisikawan nuklir dan ahli geologi menulis sebuah teori yang menempatkan secara definitif bahwa Atlantis tersebut berada di wilayah Indonesia, Malaysia, Thailand dan Brunei.
Dalam sebuah acara yang digelar Aruna Books Publishing, Frank Joseph Hoff, mengungkapkan, dalam semua parameter yang disebut Plato, mulai dari sistem irigasi, kekayaan logam, hingga letusan besar yang menenggelamkan daratan, Indonesia selalu relevan.
Hoff yang menjabat sebagai Presiden Atlantis Publications, mengatakan bahwa Santos tidak sedang membual,
Ia menampilkan peta topografi purba, citra satelit, kutipan teks-teks kuno, serta grafik elevasi Laut Jawa dan Selat Sunda yang mendukung hipotesis riset.
Asisten riset utama Prof. Santos ini juga menyebut jejak mitos banjir besar di berbagai budaya lokal, dari Nusa Tenggara hingga Kalimantan, sebagai sinyal bahwa wilayah Indonesia pernah mengalami peristiwa geologis besar yang paralel dengan narasi tenggelamnya Atlantis.
******
Riset berisi kesimpulan bencana besar di Nusantara yang di lakukan Santos ini, seolah menjadi justifikasi kuat bahwa Nusantara berpotensi mengalami bencana dahsyat. Tanpa bermaksud mendahului takdir, maka tak salahnya kita mengantisipasi hal tersebut sebagai bagian ikhtiar mitigasi
Pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang di perbaharui dan dirilis beberapa waktu lalu, terdapat update jumlah zona megathrust menjadi 14 titik di bandingkan rilis tahun 2017. Peta ini juga menampilkan potensi bahaya yang lebih tinggi, terlihat dari kontur bahaya yang semakin rapat di beberapa wilayah.
Sejumlah wilayah di selatan Nusantara (mulai dari barat Sumatera, selatan Jawa, hingga Bali dan Nusa Tenggara) berhadapan langsung dengan zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang menyimpan potensi gempa megathrust.
Penambahan zona megathrust ini juga menjadi sorotan Profesor Kosuke Heki, ia menyatakan kemiripan kondisi geologi Indonesia dengan kawasan Nankai Trough,
Peneliti dari Hokkaido University inipun menyebut Nankai sebagai salah satu zona megathrust paling aktif di dunia memiliki gempa dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun dengan kekuatan 8 magnitudo
Pertanyaannya, apakah kita siap jika bencana itu benar-benar terjadi di Indonesia? BMKG dalam penyataan resminya mengatakan ada dua zona wilayah yang tidak melepaskan energi besar, masing-masing sejak gempa terakhir pada 1757 dan 1797.
Dua zona megathrust yang masih berada dalam kondisi seismic gap, yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Itu artinya, kita sedang berada dalam "status idle "selama ratusan tahun. Kata diam disini cukup menarik, sebab "seolah" kita sedang menanti, bukan untuk memprediksi kapan gempa akan terjadi. Namun akumulasi energi yang masih tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar, bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat.
*****
Istilah Idle (diam) tentu tidak bisa diartikan berpangku tangan, sebab kita bukan seekor katak dalam sebuah panci panas. Ya, mari kita beranalogi "metafora katak rebus", Jika katak diletakkan di air mendidih, ia akan melompat keluar, tetapi jika air dingin dipanaskan perlahan, ia akan beradaptasi hingga mati. Ini hanya sebuah istilah / anekdot yang menggambarkan bahaya ketidaksadaran terhadap perubahan lambat / lama
Metafora perubahan lambat, sering digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan manusia dalam merespons ancaman atau perubahan besar yang terjadi secara bertahap, seperti perubahan iklim, masalah sosial, atau korupsi, hingga bencana besar seperti yang pernah terjadi, dan akhirnya terlambat untuk bertindak.
Sudah sepatutnya, pemerintah kita menentukan Arah Perubahan dalam kebijakan mitigasi bencana, mulai dari ancaman bencana hidrometrologi, hingga megatrust. Tak perlu kita malu untuk berguru kepada Jepang, sebab dengan siklus 50 -100 tahun sekali, kondisi geologi Jepang yang mirip dengan Nusantara bisa di antisipasi.
Antisipasi yang di maksud bukan berarti mencegah, namun upaya pengurangan resiko bencana. Jika merujuk pada UU No. 24 Tahun 2007, Kebijakan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Indonesia, maka fokus yang dilakukan adalah pendekatan sistematis, termasuk analisis dan pengurangan faktor penyebab bencana.
Kebijakan ini menekankan mitigasi, kesiapsiagaan, serta integrasi dalam pembangunan, melibatkan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Serta bertujuan membangun budaya tangguh bencana, meningkatkan ketahanan komunitas, dan meminimalisir dampak kerugian.
Sudahkah hal itu optimal saat dilakukan ?
Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar