Dunia Tak Lagi Berwarna
Fenomena hilangnya warna ini sering disebut sebagai "The Greying of the World" (Pengabuan Dunia) atau "Color Minimalism".sebuah tren yang menandai pergeseran estetika global.
Di era 70-an , tren penggunaan colortone di dominasi warna-warna cerah, dekorasi warna yang berani, dan kini mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, muncul warna palet monokromatik seperti abu-abu, putih, krem, dan warna-warna earth tone yang lembut.
Apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa warna-warni itu menghilang atau sengaja di hilangkan hingga menyisakan dominasi identitas milik satu kelompok "kaum warna warni".
Eits, ini bukan kampanye kaum pelangi. Namun agar lebih jauh bahasannya, yuk siapkan kopi dan camilan. Karena kita akan menelusuri sisi paling kelam bernama "penyeragaman" dan ancaman dunia yang mulai kehilangan warna
*******
Penganut teori konspirasi mungkin sepakat bila kini ada upaya menyeragamkan umat manusia. Meski rasanya kurang tepat jika upaya itu dilakukan oleh elit global.
Tapi, tunggu dulu, bukankah orde baru bisa diartikan tatanan dunia baru ? kenapa saya menyebut orde baru, sebab rezim ini selalu gencar mempromosikan ideologi seragam dan penyeragaman.
Kala itu, warna partai politik sangat beragam hingga di buat fusi pada tahun 1973, yang dimaknai sebagai penyederhanaan -jika tak boleh menyebut penyeragaman- sistem kepartaian oleh pemerintahan Orde Baru. Tujuannya jelas menciptakan stabilitas politik. Warna partaipun hanya hijau, kuning dan merah, dan ketiganya dianggap mewakili identitas parpol.
Bagi ideologi kanan, di seragamkan warna hijau, sedangkan instrumen kekaryaan termasuk birokrat berwarna kuning, dan terakhir nasionalis di beri warna merah,. Nah, sampai disini paham khan kenapa Soeharto bisa berkuasa hingga 32 tahun.
Seiring berjalannya waktu, upaya penyeragaman warna juga nampak pada interior dan eksterior, seolah ada pihak di balik layar yang "kompak" memilih komposisi warna yang makin sedikit dan monoton.
Bagi para arsitektur atau penggiat desain, tren ini dipengaruhi oleh prinsip "Less is More". Warna-warna soft dan netral (seperti greige atau abu-abu kecokelatan) dianggap memberikan kesan mewah sophistication.
Keputusan memilih salah satu warna bisa jadi dianggap bagian dari pengikut satu kelompok atau aliran, maka pilihan warna netral lantas menjadi pilihan dan diartikan sebagai warna kemewahan yang tenang (quiet luxury).
BACA JUGA :
- Karya Perupa, Dari Seni Benda Jadi Seni Data
- Lukisan Abstrak, Memaknai Arti Sebuah Imajinasi
- Diakritik Aká¹£ara Sirna, Bunyinya Tak Lagi Bermakna
Sementara itu, fenomena lain di picu oleh penggunaan material bangunan. Jika sebelumnya, desain mengikuti warna material lokal seperti bata, kayu dan genteng. Maka makin kesini, dominasi warna mengikuti material. seperti besi, semen dan paving.
Disinilah Arah Perubahan itu bermula, saat para arsitek dapat order membuat desain estetik, mereka "dipaksa" memasukkan variabel efisiensi, sehingga di pilih warna senatural mungkin selaras warna dasar bahan. Hasilnya, bertebaran warna abu-abu pada ruang kafe industrial dan desain bangunan modern.
Faktor efisiensi melalui pewarnaan minimalis terbukti efektif, bahkan ada kisah epic dalam sejarah pewarnaan terjadi selama ratusan tahun lalu. Yakni saat para elit kerajaan di seluruh dunia "menghindari" warna ungu pada interior.
Bayangkan, Anda seorang bangsawan / raja yang sedang bertahta. Tiba2 sang permaisuri sedang ngidam untuk di buatkan kamar warna ungu. Karena, tidak ingin mengecewakan permaisuri, maka Anda memerintahkan ribuan warga untuk berburu siput bernama Tyrian Purple.
Perburuan siput secara masif pun dimulai. Demi mendapatkan pewarna ungu seberat 1,4 gram, dibutuhkan 12.000 ekor siput. Sebab, 1 ekor siput menghasilkan satu tetes cairan bening dan seketika berubah ungu saat terpapar sinar matahari.
Ya, selama ratusan ribu tahun, peradaban manusia belum mampu membuat warna ungu hingga di tahun 1856, seorang remaja berusia 18 tahun bernama William Henry Perkin, melakukan percobaan membuat obat kina untuk malaria, dan secara tidak sengaja menciptakan pewarna ungu sintetis (buatan)
****
Kini, tanpa kita sadari, dunia makin kehilangan warna, Lihatlah disekeliling kita, langit tak lagi cerah dulu, warna dedaunan mulai memudar, bahkan lautan biru yang dulu sering di tulis pada prosa, sajak atau puisi seolah kehilangan kebiruannya, menyisakan kalimat galau ala gen Z yang menulis status di whatsapp "I am Feeling Blue, like a deep ocean"
Sekali lagi, makin kesini seolah kita makin kesana, rotasi bumi seolah bergerak menuju arah perubahan bumi yang menjadi monokrom, hal ini disebabkan berbagai faktor, mulai dari degradasi lingkungan, deforestasi hutan, polusi, dan perubahan iklim telah membawa dampak serius bagi kehilangan habitat burung, tumbuhan.
Berdasarkan data dari IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan berbagai studi literatur biologi (studi Ceballos et al., 2015), menyebutkan terdapat 400 hingga 500 spesies telah punah dalam 100 tahun terakhir. Sementara, studi tahun 2019 yang diterbitkan dalam jurnal Nature, Ecology & Evolution mengungkapkan bahwa 571 spesies tumbuhan telah punah dari alam liar dalam 250 tahun terakhir.
Laju kepunahan ini tercatat 350 kali lebih cepat daripada rata-rata historis, terutama didorong oleh kerusakan habitat, dan jumlahnya lebih dari dua kali lipat total kepunahan mamalia, burung, dan amfibi.
Sejenak, mari kita renungkan tentang punahnya bunga berwarna cerah, hutan tak lagi hijau serta berkurangnya ragam warna satwa liar, disinilah kita menyaksikan lanskap bumi tempat kita berpijak semakin kusam.
Bahkan, di saat yang sama perubahan "kognitif" manusia juga mengalami pergeseran. Paradigma berpikir kita mulai masuk dalam wilayah Abu Abu. ya Grayscale, sebuah pilihan warna yang masuk kedalam ruang berpikir kita yang tak lagi lugas dalam bersikap, dan memilih zona Abu-Abu.
Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar