Diakritik Akṣara Sirna, Bunyinya Tak Lagi Bermakna
Daftar Isi
Bagi Anda yang pernah berkunjung ke Yogjakarta, tentu anda akan merasakan atmosfer yang berbeda. Selain jalanan yang kian macet, protret cikar yang sedang menanti penumpang, dan papan nama jalanan yang memakai aksara carakan. Yang saya sebut terakhir ini adalah potret eksotisme Yogja dalam melestarikan budaya.
Jujur dalam hati, saya merasa iri dengan Yogja, yang sampai detik ini begitu memegang teguh budaya, sementara di kabupaten lain justru berlomba menjadi "ingin seperti eropa".
Editorial kali ini, bukan bermaksud sarkas, tapi di balik potret dan upaya pelestarian akṣara di Yogja, di situ menyimpan perjuangan keras para penggiat akṣara yang menolak punah.
Sekali lagi, bagi saya diksi "menolak punah" ini terasa lebih pas sebagai penguat makna a (tidak) kṣara ( punah), ya penguat sekaligus pengingat bahwa saat ini kita di hadapkan pada problem kompleks "penjajahan diakritik".
Semua bermula ketika pemerintah kita beralih ke alfabet Latin dan terjadi penyederhanaan kata pada penulisan huruf latin
Setiap frasa serapan dari bahasa daerah mulai masuk, dan di saat yang sama banyak detail halus yang hilang karena penyederhanaan yang kebablasan. Inilah - yang di tuding jadi - penyebab kebingungan (kerancuan).
Nah, kejadian saya di Yogja kali ini bisa dijadikan studi kasus.Syahdan, ketika saya berkunjung ke Yogja, disana bertemu seseorang. Singkat cerita ia bertanya "Badhe tindak pundi mas?", saya jawab "Badhe tindak Solo".
Lelaki paruh baya itu dengan nada menebak berkata, "Jenengan pasti bukan orang Jawa Tengah." Sejurus kemudian, saya terdiam dan berpikir, bagaimana ia tahu kalau saya bukan orang Jawa Tengah, apakah dari cara berpakaian (menggendong backpack), sehingga dianggap pelancong?
Belum genap penasaran saya, lelaki itu berkata: 'klo orang Jawa Tengah, pasti ngomongnya Sålå bukan Solo'. Disinilah saya baru menyadari bahwa pengucapan kata Sålå ini mulai hilang pada penulisan aksara latin, bukan karena sejatinya tidak ada kota Solo, sebab yang tepat adalah Kota Surakarta.
Nah, makin bingung khan? Baiklah, mari kita bedah, siapkan kopi dan gorengan karena kita akan masuk pada ruang diskursus yang mungkin saja membuat lidah Anda kesleo.
*********
Secara historis, nama kota Solo (tulisan yang kita baca hari ini) adalah Sala (ditulis dengan Akṣara Sa dan La). Bunyi aslinya dalam bahasa Jawa, huruf 'a' di akhir kata terbuka (tanpa konsonan penutup) dibaca membulat seperti huruf 'o' pada kalimat toko kodok
Sampai disini paham khan? Kenapa kata Solo harusnya di tulis Sålå agar membedakan pengucapan 'O' seperti pembeda huruf o di kalimat berikut: soto vs poso
Masih bingung atau lidah keselo? Mari kita lanjutkan!. Dalam aksara Jawa yang sudah bersifat Abugida, pada penulisan Sålå terjadi perbedaan konsonan, sebuah kondisi -dalam studi linguistik -di sebut sebagai krisis konsonan dental versus retrofleks. Tulisan Sålå pada Aksara Jawa menggunakan [a] jejeg.
Arah Perubahan pengucapan Sålå menjadi "Solo", terjadi di era kolonial Belanda dan kemudian penutur bahasa Indonesia mendengar bunyi [a] tersebut mirip 'o', dan mereka menuliskannya sebagai Solo.
Problem diakritik ini, lantas di dijadikan bahan otokritik oleh penggiat literasi dan akṣara Jawa. Sebab, kata Solo yang ditulis dalam huruf latin menyebabkan perubahan bunyi, orang cenderung membacanya dengan vokal 'o' taling (seperti pada kata Soto atau Toko). Padahal, pengucapan yang benar harusnya menggunakan vokal 'o' yang lebih berat/bulat (seperti poso / puasa).
*********
Pegiat Akṣara Jawa Kuna, Ali Soejono secara tegas menyoroti hal ini sebagai bentuk perubahan Kritik Budaya. Sebagai seorang pendidik, Ali menganggap bahwa penghapusan atau pengabaian tanda diakritik, lanjutnya, bukan sekadar tentang "ejaan," namun ada problematika mendalam tentang perubahan fonologi (sistem bunyi) dan semantik (makna) bahasa Jawa itu sendiri.
"Pemerintah fokus pada penutur bahasa Jawa, dan belum menyentuh substansi permasalahan akṣara. Misalnya, konsistensi penempatan diakritik pada penulisan aksara latin, tentu secara nyata ikut berkontribusi dalam menjaga kepunahan bahasa." ujar Ali Soejono
Hal senada di ungkapkan Lucky Mardianto, ketika tanda diakritik dan pembeda konsonan ini hilang dalam tulisan sehari-hari (di media sosial atau buku teks yang disederhanakan), akan terjadi beberapa homograf yang membingungkan, sebab kata yang tulisannya sama tapi bunyinya beda meningkat pesat, membuat pembelajar baru merasa bahasa Jawa itu "tebak-tebakan."
Sebagai pegiat akṣara Jawa Kuna yang kini aktif memberikan materi pembelajaran akṣara, lucky menilai upaya pelestarian aksara melalui penulisan diakritik harus terus di gencarkan. Misalnya penggunaan kata Wedi (Takut) memakai da, membacanya harus menempatkan lidah di belakang gigi, sedangkan Wedhi memakai Dha, cara membaca lidah ditekuk ke atas
Dalam kajian yang sering di gelar di lembaga Widya Aksara, ia kerap menyampaikan keprihatinannya kepada generasi muda saat ini, mereka mulai kehilangan kemampuan artikulasi dha dan tha yang tebal, sehingga cara bicara mereka terdengar "tipis" atau terlalu kaku (terpengaruh pola bunyi bahasa Indonesia).
"Bahasa Jawa adalah bahasa yang sangat presisi dalam bunyi. Maka untuk mengembalikan makna bahasa Jawa, tentu harus di mulai dengan cara penulisan yang benar, agar saat membaca, lidah kita bisa menyesuaikan" ungkap Lucky
Kritik untuk Pemerintah tentu harus disampaikan dalam wujud karya, dan kontribusi nyata. Bagi saya, hadirnya Ali Soejono (Pegiat Aksara - Gresik, dan Lucky (Widyā akṣara Lor Wilis) di harapkan mampu membawa Arah Perubahan nyata dalam menjaga spirit dan budaya pelestarian Akṣara
Nah, sekarang setidaknya kita sudah memahami bahwa Jokowi dan Gibran sejatinya tak pernah menjadi Walikota Solo, sebab mereka berdua adalah "Mantan" walikota Surakarta #eh
Editorial |Arah Perubahan

Posting Komentar