Aksara jadi Algoritma, dari Lontar Menuju Unicode

Daftar Isi

A.ksara bukan sekedar fonetik, ia adalah DNA utama peradaban yang menurunkan genetika kebudayaan hingga kita jalani saat ini. Tak berlebihan bila dalam perkembangannya Aksara kerap memainkan peran penting dalam peran memajukan sebuah peradaban bangsa

Dalam perjalanan diaspora manusia melintasi benua dan zaman, Aksara menyebar berubah bentuk, namun tetap dalam konteks yang selaras dengan bunyi. Seolah ia selaras dengan perubahan aksen bicara dan budaya lisan dari para penuturnya

Aksara, yang berasal dari kata A (tidak) Ksara ( punah), seakan menegaskan artinya yang sejati menolak punah, kendati media yang di pakai terus bermetafora. 

Dalam buku Homo Deus: A Brief History of Tomorrow" karya Yuval Noah Harari, peran aksara (tulisan) menduduki posisi sebagai teknologi yang mengubah realitas. Di era persimpangan revolusi berburu menuju bercocok tanam, peran kognitif mengubah paradigma manusia. 

Harari berpendapat bahwa selama ribuan tahun (masa pemburu-pengumpul), memori manusia bersifat biologis. Namun, ketika Revolusi Agrikultur terjadi dan masyarakat menjadi lebih kompleks, otak manusia tidak lagi mampu menyimpan data pajak, inventaris lumbung, dan hukum secara akurat.

Disinilah Arah Perubahan di mulai, dan transformasi peradaban menorehkan pahatan awal pada media batu dan logam.  Aksara menyimpan keputusan hukum, aturan kelompok (dalam koloni kecil), perjanjian dan penetapan sima (wilayah bebas pajak), hingga nilai-nilai toleransi

Harari menyebut, Aksara tampil sebagai bagian "Memori Eksternal" yang dapat di simpan secara kolektif dan di pahami dalam lintas wilayah dan waktu, ia menjadi titik balik arah perubahan di mana manusia mulai beralih dari memori biologi ke algoritma pemrosesan data luar tubuh. 

Hingga pada titik ini, Aksara dipakai untuk mengunci data yang melampaui kapasitas ingatan kolektif penduduk suatu wilayah. Tesis Harari secara kritis menyinggung peran Aksara yang memungkinkan manusia menciptakan entitas yang tidak ada di alam fisik (seperti negara, korporasi, dan uang), namun diyakini bersama.

Di Jawa, sebuah tulisan yang memuat teks suci dan hukum kerajaan memiliki otoritas. Bahkan, aksara Kawi dalam naskah Negarakretagama, bisa jadi lebih dari sekadar laporan, melainkan alat politik untuk membangun legitimasi Majapahit sebagai entitas yang "hidup" dalam pikiran jutaan orang kala itu.

***

Dalam perkembangan Aksara Jawa, prasasti dan manuskrip bak sebuah "kotak hitam", sebab tanpa pemahaman aksara, data sejarah hanya akan menjadi benda mati di museum.  Sebut saja, Serat dan Kakawin yang memuat ilmu pengetahuan mulai dari tata kota, taru pramana (jamu herbal), hingga astronomi (pranata mangsa

Transformasi pun berlanjut, transliterasi Aksara terus dinamis dari selembar daun lontar menjadi Daluang ( kertas tradisional asli Indonesia yang terbuat dari pepagan (kulit kayu) pohon paper mulberry) hingga kini menjadi format unicode, yang dapat di baca dalam berbagai format bahasa pemrograman. 

Menurut Ali Soejono, Pegiat Aksara Jawa Kuna asal Gresik, perkembangan teknologi masa kini dan perubahan media tulis dan komunikasi yang sangat cepat, menuntut upaya kreatif para pegiat aksara dan kreator digital yang berbasis font aksara nusantara untuk berkompetisi dengan percepatan teknologi.

Arah Perubahan aksara pun bergerak menuju Algoritma, hal ini menurut Ali Soejono, membentuk kesadaran bahwa aksara nusantara mempunyai ruang besar dalam ranah digital khususnya terkait dengan keamanan data digital. 

Dalam sisi lain, pada bidang profesi desain grafispun juga memberikan nilai tawar kepada konsumen atau pengguna agar memiliki opsi nilai estetika pada desain visual (seni kaligrafi)

-----

Di Jawa, keberadaan aksara (mulai dari Pallawa, Kawi, hingga Hanacaraka) merupakan fondasi utama dalam proses Pemajuan Kebudayaan sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 5 Tahun 2017. Kedudukan aksara sebagai obyek pemajuan kebudayaan, tidak dapat di pisahkan, sebab ia menyatu dalam Manuskrip, Tradisi Lisan, Pengetahuan Tradisional dan Seni.

Dalam skema Pemajuan Kebudayaan, aksara berperan sebagai fungsi pelindungan dan pemanfaatan. Program digitalisasi aksara di harapkan mampu menjalankan peran dokumentasi yakni mencatat kembali prasasti dan naskah yang mulai aus. 

Bahkan melalui transliterasi, nilai-nilai dalam aksara kuno tidak sekedar menjadi romantisme masa lalu, namun diharapkan masuk ke ruang lebih dalam seperti kurikulum pendidikan atau menjadi inspirasi industri kreatif.

Editorial | Arah Perubahan

.

Ilustrasi diatas merupakan Kallgrafi Aksara Jawa Kuna karya Ali Soejono bertuliskan "tansah lembah manah, tan sumelang kasoran dhiri" (Selalu merendah tanpa merendahkan diri sendiri)

Posting Komentar