Perang Israel - Iran Dimanakah Posisi Indonesia
Syahdan, memasuki 2026, dunia mulai bergolak, perang Rusia vs ukraina menjadi pemicu, disusul krisis energi dan pangan, hingga di awal tahun kita di pertontonkan panggung "perang" udara yang didalamnya tak lebih seru dari tontonan anak kecil bermain remot kontrol (RC). Ya, saya lebih suka menyebutnya adu teknologi RC, yang di dominasi drone bermuatan peledak.
Mungkin, para pemimpin dunia itu sedang bernostalgia dengan masa kecil, - dan seperti halnya saya atau mungkin Anda, - main perang perangan itu seru.
Lihat saja, Trump (79 tahun) bersama Netanyahu (76 tahun) tiba tiba ngeroyok Ali Khamenei (86 tahun). Bagi orang awam yang tidak suka kekerasan, melihat tingkah mereka bak kumpulan kakek tua yang main perang2 di panti jompo.
Bayangkan, di panti Jompo ada satu kakek berinisial TRP yang dominan, merasa berkuasa lalu tiba-tiba melontarkan niatnya untuk menyerang kakek lain IRN yang dituding menyimpan mainan bom nuklir di lemari panti. Ya, nuklir itu bahaya, apalagi memiliki, menyimpan dan mengedarkan itu dilarang, persis kalau kita memiliki Narkoboy,
Sejurus kemudian, ikutlah kakek lain IS ikut nimbrung dan ngroyok IRN hingga meninggal di dalam tragedi "perang" panti jompo itu. Jadi, saat sekumpulan kakek berantem, tentu yang gemes adalah anak-anak muda yang melihatnya.
Sebenarnya apa yang terjadi pada kakek-kakek ini, kenapa mereka tiba-tiba suka berantem? apakah ini bagian dari fase childish? sebuah kondisi ketidakmatangan emosional lansia -meski- telah menua secara fisik, namun menunjukkan perilaku kekanak-kanakan, egois, impulsif, dan kesulitan mengelola emosi.
Biar lebih seru menikmati cerita perang-perangan, mari kita buka tabir apa yang ada di balik perilaku para lansia ini. Siapkan kopi dan camilan, karena kita akan masuk ke dalam pikiran "kekanak kanakan" para pemimpin tua dunia.
******
Rasanya sulit bagi kita untuk memahami apa yang sedang terjadi, meski di media digambarkan sedang terjadi perang besar.
Tengok saja, berita meninggalnya Ali Khamenei, akibat di keroyok Trump dan Netanyahu di media massa ditulis dalam judul yang berbeda, kompas menulis "Pemimpin Tertinggi Iran Tewas Terbunuh". CNBC Indonesia memuat judul "Khamenei Meninggal", AntaraNews Aceh menulis "Ali Khamenei Gugur", dari tiga judul diatas, setidaknya kita bisa menilai di posisi mana mereka berdiri.
Dari pantauan lini massa, hiruk pikuk perang di gambarkan dalam berbagai perspektif. Pertama, perspektif psikologi "Legacy", yang menyangkut usia, sebab motivasi utama seorang pemimpin tua sering kali bergeser dari sekadar mempertahankan kekuasaan menjadi pembentukan warisan sejarah.
Legacy atau keinginan mewariskan sebuah kebijakan dan ingin dikenang, mencuat menjadi sebuah tindakan. Pemimpin tua umumnya menyadari keterbatasan (usia) dan cenderung mengambil langkah dramatis untuk memastikan nama mereka tercatat sebagai "pahlawan" atau "pemersatu" dalam buku sejarah.
Dalam konteks perang Iran - Israel yang melibatkan Amerika Serikat -bahkan proxy lain seperti Rusia dan China -, menjadi jelas bahwa perspektif diatas bisa di terima. Lihat saja, usia Putin (73 tahun dan Xi Jinping (72 tahun), dan keduanya ikut perang di balik layar mendukung Iran.
Sementara di posisi Netral, ada Perdana Menteri India, kakek Narendra Damodardas Modi, (75 tahun), serta Presiden Indonesia, Prabowo (74 tahun).
Bagi generasi muda yang menginginkan Arah Perubahan, tentu situasi ini menimbulkan tanya besar, - meski sekali lagi sulit bagi kita memahami- apa yang sebenarnya ada di benak kakek - kakek itu.
Satu yang bisa di kita tangkap dan menganalisa adalah kemiripan lansia dengan fase anak-anak dalam hal "ego dan tak mau mengalah" atau sekedar mengakui kesalahan.
Dalam konteks geopolitik, fase ini lebih merupakan manifestasi dari narsisme politik, di mana identitas negara dianggap identik dengan identitas pribadi sang pemimpin.
Jika kita mau sedikit menarik ke belakang, para pelaku perang diatas merupakan pemimpin yang berusia diatas 70 tahun. Mereka tumbuh dan besar di era Perang Dingin. Generasi di era ini cenderung melihat dunia dalam skema hitam-putih (blok Barat vs blok Timur) dan menggunakan proxy sebagai instrumen standar, mirip dengan cara mereka melihat dunia 40 tahun lalu.
Keterlibatan tokoh seperti Putin atau Xi Jinping melalui pihak ketiga (proxy) Iran menunjukkan strategi pengaman stabilitas, meski sejatinya ada konsekuensi logis yang harus di tanggung kelak, karena alih alih melindungi rakyat mereka justru memindahkan risiko dari rakyat mereka sendiri ke medan tempur negara lain.
Sekali lagi, dunia tidak bisa di pandang sebagai "papan catur" yang menempatkan para pemain utama di belakang meja sambil minum kopi, sementara bidak-bidak (tentara) di lapangan menanggung konsekuensi nyata.
*******
Pertanyannya, dimanakah posisi Indonesia dan India kini ? sebab jika di telaah dalam bingkai sejarah, konflik Israel dan Palestina telah berlangsung sejak 1948, dan selama itu pula Indonesia memainkan posisi strategis sebagai poros penyeimbang.
Ketika PBB selama 50 tahun tidak mampu menyelesaikan konflik Israel dan Palestina, kini muncul organisasi multilateral baru bernama Board Of Peace.
BACA JUGA :
- Dunia Tak Lagi Berwarna
- SEAbling vs Knetz : Popularitas Hallyu Kian Layu
- Momok Megathrust, Jika Negara Abai Berbuah Petaka
Direktur Kerja Sama Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI), Aisha Rasyidila Kusumasomantri dalam wawancara dengan CNN Indonesia mengatakan Indonesia harus memastikan posisi daya tawar yang tinggi, dan menjadi aktor mandiri tanpa di kendalikan oleh Amerika Serikat. Kendati itu hal yang mustahil sebab inisiator BOP adalah Kakek Tua bernama Donald
Sementara itu, Akademisi FISIP Universitas Merdeka Malang, Eko Agus Susilo, S. Sos, M. Si. melihat penyebab konflik yang terjadi antara Iran vs Israel ini melalui kacamata ekonomi.
Sebagai Dosen Administrasi Bisnis, Eko menggaris bawahi tentang konfik yang terjadi di kawasan Arab (Arab Spring) erat berkaitan dengan bisnis.
Dalam perspektif Ekonomi, dominasi Amerika sebagai negara Adidaya, lanjut Eko, menempatkan minyak bumi sebagai pilar utama penjaga hegemoni ekonomi Amerika Serikat, sebuah konsep yang dikenal sebagai Petrodollar, dan di jalankan Amerika Serikat sejak runtuhnya sistem Gold Standard (Standar Emas) pada awal 1970-an
"Artinya, nilai tukar dollar sangat bergantung pada minyak, dan ketika Negara pengekspor minyak seperti Venezuela, bahkan Arab berpotensi beralih ke mata uang lain, maka Amerika akan turun untuk melakukan intervensi" ujarnya
Dalam sejarah konflik di dunia, ada tiga variabel yang selalu menjadi "justifikasi" untuk memulai peperangan, yakni Energi, Pangan, Agama. Dalam konteks ini, posisi dan kesiapan Indonesia sangat di perlukan. Mengutip teori Dependensia (Teori Ketergantungan), Eko bisa melihat posisi Indonesia yang rapuh dalam kemandirian energi akibat kebijakan yang kurang tepat.
"Jika kita mau jujur, kebijakan konversi minyak tanah ke Elpiji merupakan pilihan yang salah, sebab Indonesia memiliki potensi LNG yang besar, namun kenapa pemerintah saat itu memiliki LPG, inilah yang saya sebut Ironi" ujarnya
Menyikapi konstelasi geopolitik yang memanas, Eko menegaskan Indonesia harus tetap fokus pada ketahanan nasional. Menurutnya, penguatan sektor pangan, dan energi dalam menghadapi konstelasi geopolitik saat inil, di pandang sebagai sebuah keniscayaan. "Segera perkuat sektor Energi, dan Pangan, sebab kedaulatan sebuah negara di ukur dari dua hal itu" ujarnya
Kenapa kita tidak memperkuat sektor pertahanan? saat di tanya demikian, Eko menyebut sektor pertahanan -jika yang di maksud alutsista - merupakan domain militer, namun menurutnya di butuhkan pendekatan dalam membangun daya tahan nasional, yakni lewat integrasi instrumen bela negara, sektor pertanian, dan memastikan ekologis sebagai satu kebijakan utuh dan menyeluruh
Terkait sektor pangan, pria asal Nganjuk ini hendak mengajak semua masyarakat di Indonesia agar berdaya, tanpa tergantung pasokan negara lain. "Ketika perang benar-benar terjadi, maka yang pertama hancur, adalah mereka yang memiliki ketergantungan (pangan) pada negara lain" imbuhnya
Posisi geografis Indonesia, lanjut Eko, memiliki kelebihan karena berada di garis ekuator, yang mendapatkan sinar matahari selama 12 jam sehari, dan 6 bulan setahun. Maka saka guru ketahanan pangan kita adalah pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan.
*********
Akhir kata, perang "belum akan" usai dalam waktu dekat. Di Indonesia, kita tentu berharap kakek tua yang memimpin negeri ini tidak ikutan main perang-perangan, sebab ada ratusan juta rakyat Indonesia yang kini sedang berjuang dan bertahan dalam krisis, bahkan anak-anak muda kita, sedang berjuang mencari kerja.
Oh ya, jika kita tak bisa berharap banyak ke generasi tua, apalagi kakek - kakek, maka pertanyaan terakhir: Mas Gibran - yang konon katanya merepresentasikan anak muda- sekarang ada dimana ya? Sebab banyak anak muda yang berteriak "mas Gibran. Aku wongmu lho mas"
Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar