Bluluk, Kilas Sejarah Kemakmuran Hijau di Lamongan

Bluluk, Kilas Sejarah Kemakmuran Hijau di Lamongan

Daftar Isi

Kecamatan Bluluk, yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Lamongan, secara ekologis termasuk dalam zona peralihan dataran rendah–perbukitan kapur yang sejak masa klasik dikenal sebagai kawasan wana (hutan produksi).

Pada abad ke-14, wilayah ini berada dalam orbit kekuasaan Majapahit, dan lebih spesifik lagi sebagai kawasan administratif yang tercatat dalam Prasasti Biluluk II (1391 Masehi). Prasasti ini tidak hanya administratif, tetapi juga menjadi bukti penting tentang: sistem pajak (titiban), klasifikasi komoditas, dan—yang paling penting—basis produksi lokal.

Tinta sejarah menorehkan nama "bluluk" sebagai pusat perdagangan yang berada di jantung pantura. Letaknya strategis di jalur pesisir pantai utara Jawa -yang dikenal- sebagai pintu masuk pedagang dari belahan penjuru dunia mulai Jazirah Arab hingga China. 

Kisah ini bukan -fiksi- melainkan tervalidasi oleh sejarah -yang memuat catatan, para pedagang Arab "diperkirakan" masuk ke Pulau Jawa sekitar abad ke-11 Masehi. Bukti arkeologis tertua yang mendukung kehadiran komunitas Muslim Arab di Jawa, adalah penemuan nisan Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, yang wafat pada tahun 1082 M (475 H).

Syahdan, bukti diatas menjadi penguat "fakta" jalur perdagangan di Lamongan, sangat ramai oleh pedagangan yang menjadi nadi perekonomian -jalur ekspor- Majapahit. 

Dalam prasasti Bluluk, terdapat Baris frasa yang menjadi kunci keberadaan produk  "sahaá¹…, cabe, kumukus, kapulaga

Keempat Komoditas ini -bukan sekadar- komoditas dagang, melainkan -sangat mungkin- produk lokal Bluluk dan sekitarnya. Pada frasa "sahaá¹…" di artikan Lada Hitam (Piper nigrum), yang dikenal luas di Asia Tenggara, termasuk Jawa. 

Potensi Lada Hitam di Bluluk sangat erat dengan kondisi "mikro iklim" yang memiliki kelembaban sedang, dengan tutupan lahan berupa pohon bertajuk sedang, sangat cocok untuk media tumbuh. 

Sekedar informasi, tanaman Lada -termasuk jenis- komoditas tropis yang tumbuh merambat hingga 15 meter, membutuhkan tiang panjat (panjatan) untuk tumbuh optimal. Lada tumbuh baik di lingkungan panas, lembap, dan intensitas cahaya 50-75%. 

Melihat fakta ini, Kawasan Bluluk yang dahulu -di dominasi - hutan, sangat di memungkinkan menjadi sentra budidaya lada dalam sistem agroforestri kontemporer kala itu. Dengan kata lain, Bluluk bukan wilayah marginal, tetapi bagian dari zona produksi rempah bernilai tinggi.

Di prasasti Bluluk, juga memuat kata "Cabe" yang sangat mungkin di artikan Cabe Jawa. Sebab, cabai Amerika (Capsicum), karena belum masuk Asia abad ke-14. Komoditas yang dikenal sebagai "Cabe Jamu"  (Piper retrofractum) ini sangat cocok, bila dikaitkan erat iklim monsun Bluluk- dengan tanah kapur. 

Cabe Jamu, yang kerap di jadikan rempah dapur, bahan jamu, menjadi komoditas ekspor (dicatat Portugis abad ke-16), menjadi indikator kuat bahwa Bluluk memiliki tanaman endemik bernilai ekonomi tinggi. 

Rangkaian empat lempeng tembaga -Prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit (abad ke-14) itu, juga di muat nama Kemukus / Cubeb yang merupakan Endemik Jawa

BACA JUGA :

Beberapa sumber asing menyebutnya sebagai komoditas khas Jawa. Tanaman dengan nama latin "Piper cubeba" ini memiliki buah kecil bertangkai, rasa pedas + citrus dan dapat Tumbuh di hutan dataran rendah–menengah.

Dan komoditas terakhir adalah Kapulaga Jawa, -berbeda dengan kapulaga india" . Tumbuhan dengan nama latin "Amomum compactum" ini di budidayakan di bawah naungan hutan, dan membutuhkan kelembaban mikro.

Kawasan hutan dan semak tropis sangat cocok sebagai habitat spesies lokal Asia Tenggara itu, ia dapat tumbuh di tepian sungai kecil. Hal ini menunjukkan adanya "potensi" diversifikasi tanaman rempah -telah ada- dalam satu klaster wilayah kecil kala itu. 

Keempat komoditas ini menjadi istimewa bagi pemerintahan Majapahit sehingga dalam prasasti di tuliskan “luput iá¹… titiban” (bebas pajak tertentu). Dari sini, dapat di tarik kesimpulan, komoditas diatas bukan barang impor, melainkan komoditas lokal strategis, yang mungkin dibebaskan pajak untuk mendorong produksi, menjaga rantai pasok (supply chain), atau sebagai hak istimewa komunitas tertentu.

Lantas, apa sgnifikansi bagi Sejarah Lamongan? 

Pertanyaan ini tentu wajib di jawab dengan strategi kebijakan Pemkab Lamongan untuk membuat "Peta Jalan Komoditas Unggulan" terlebih secara geografis, topografi dan mikro iklim telah terbukti ke empat komoditas ini pernah berjaya di era Majapahit. 

Di era Majapahit, Lamongan bukan pinggiran atau wilayah Miskin, namun telah bagian dari ekonomi rempah global. Maka, untuk mengembalikan Kejayaan itu tentu harus di kuatkan dengan Narasi "Green Prosperity" sebuah Kemakmuran Hijau sebagai Benteng Ketahanan Ekonomi yang berbasis Ekologi menuju Pembangunan Berkelanjutan

Penulis : Priyo Kalacakra  | Rumah Sejarah dan Budaya Lamongan

Posting Komentar

Flag Counter