Lamongan di Bingkai Sejarah dan Politik Ingatan

Lamongan di Bingkai Sejarah dan Politik Ingatan

Daftar Isi

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan daerah dan kompetisi identitas lokal hari ini, satu pertanyaan mendasar jarang diajukan secara serius: sejak kapan sebuah wilayah benar-benar "ada" dalam sejarah?

Banyak wilayah mendasarkan keber"ada"an mereka melalui cerita legenda, tutur, mitos, juga babad lokal yang ditulis jauh sesudah wilayah tersebut tumbuh dan berkembang. Pun demikian dengan Surabaya dan Lamongan secara umum.

Untuk Lamongan, dalam tulisan kali ini jawaban tidak datang dari legenda, melainkan dari lempeng perunggu—dari sebuah prasasti abad ke-13 yang nyaris terlupakan: "prasasti Sångå". Dua lempeng perunggu yang sekarang tersimpan membisu di museum Leiden.

Di dalamnya, terdapat satu baris pendek namun menentukan: "Ing Lāmoṅan…”¹ Dua kata itu cukup untuk mengguncang cara kita memandang sejarah Lamongan.

*******

Lamongan, bukan sekadar nama sebuah daerah, namun sebuah fakta administratif. Hal ini bisa dilihat dari "sejarah" di balik nama itu. 

Jika Anda menganggap nama itu berasal dari folklor -seperti halnya - daerah lain, dengan toponimi cerita tutur yang sering kali cair dan berubah, maka Lamongan lahir dalam sebuah prasasti yang -di dalamnya- memuat dokumen resmi negara pada masanya. 

Dalam prasasti Sångå -mencatat keputusan, hadiah, dan struktur kekuasaan-, Lamongan muncul bukan sebagai mitos, melainkan sebagai unit administratif yang konkret. 

Disebutkan adanya pejabat lokal: “juru samya, kuda rimoṅ..."

Istilah juru samya mengindikasikan adanya struktur sosial yang terorganisasi—semacam pejabat komunitas atau pengelola wilayah. Sang juru samya ini, bahkan menerima hadiah berupa kain (wdihan) dan satuan nilai uang (māṣa), tanda adanya sistem ekonomi dan redistribusi yang berjalan.

Artinya jelas,  pada abad ke-13, Lamongan sudah menjadi bagian dari sistem birokrasi Jawa Kuna.

*********

Fakta lain menyebut kata Janggala, sebagai representasi "tatanan masyarakat" yang hingga kini masih lekat dalam memori kolektif masyarakat. Ya, sebuah "bayangan Negara" yang masih hidup di era kontemporer Singhasari. 

Terbukti, dalam prasasti ini juga menyebut "panugraha śrī jaṅgala....."

Nama Janggala sering dianggap sebagai kerajaan yang telah lama lenyap sejak konflik pasca pembagian oleh Airlangga pada abad ke-11. Namun bukti epigrafis menunjukkan hal yang lebih kompleks.

BACA JUGA : 

Dalam Prasasti Mula-Malurung, Janggala masih muncul sebagai entitas politik di bawah bayang-bayang Singhasari.

Hal Ini, setidaknya memberi kita gambaran penting, "Janggala bukan hilang—ia bertransformasi menjadi wilayah administratif."  Dan jika Lamongan disebut dalam konteks ini, besar kemungkinan wilayah ini termasuk dalam jaringan Janggala tersebut.

**********

Syahdan, Lamongan pun berada di persimpangan, namun memuat garis linear, seolah menegaskan sebuah benar merah sejarah sebagai Alat Legitimasi. 

Sebuah jejak, yang tidak berhenti di abad ke-13, di catat dalam Prasasti Balawi (1305), nama Śrī Harsawijaya muncul sebagai tokoh penting yang kemudian dikaitkan dengan Raden Wijaya, pendiri Majapahit

Raden Wijaya bahkan mengukuhkan kembali kebijakan lama yang dibuat leluhurnya. Di sini kita bisa melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar sejarah masa lalu, yang digunakan untuk membangun legitimasi kekuasaan.

Sejarah tidak hanya diingat—ia dipilih, disusun, dan digunakan.

*******

Dalam bingkai pemahaman sejarah, kita kerap terjebak dalam romantisme masa lalu, dan itu - berarti- masalah. Hari ini, kita kembali di bayangi pertanyaan besar! Apakah Sejarah Lamongan, dapat menjadi sebuah Kebanggaan atau Ketergelinciran

Renungan seperti ini sering kali langsung ditarik ke dalam narasi kebanggaan daerah: "Lamongan sudah ada sejak abad ke-13!

Pernyataan ini tidak salah—tetapi bisa menyesatkan jika tidak dipahami secara kritis. Sebab, Nama bisa bertahan, tetapi struktur bisa berubah sedangkan wilayah administratif bukan berarti identitas budaya yang sama.

Mari kita sejenak berkaca dari kisah peradaban di seluruh dunia, selama ribuan tahun, tinta sejarah -tidak selalu- ditulis dengan garis lurus, melainkan lapisan-lapisan yang saling menimpa, hingga pada titik ini dibutuhkan kehati-hatian, sebab sejarah mudah berubah menjadi alat klaim, bukan sumber pemahaman.

*****

Mengapa Ini Penting? Di era politik yang semakin pragmatis, kebudayaan sering diposisikan sebagai ornamen—sekadar festival atau seremoni. Padahal, data seperti prasasti Sångå menunjukkan bahwa identitas lokal memiliki akar yang dalam dan kompleks

Bagi Lamongan, ini membuka peluang strategis, penguatan narasi sejarah berbasis data yang di dalamnya wajib di "kupas" dalam diskursus publik yang lebih kritis, dan -bahkan- bisa menjadi instrumen diplomasi budaya di tingkat regional

Namun semua itu hanya mungkin jika sejarah diperlakukan sebagai pengetahuan, bukan sekadar kebanggaan.

Penulis : Priyo Kalacakra  | Rumah Sejarah dan Budaya Lamongan

Posting Komentar

Flag Counter