Ageng Priyatno, El Comandante OI Crisis Center Jawa Tengah

Ageng Priyatno, El Comandante OI Crisis Center Jawa Tengah

Daftar Isi

Sore itu, Matahari sedang merangkak menuju peraduan, pemandangan langit yang seharusnya berwarna -gradasi antara - ungu dan merah itu tak nampak di langit Kinahrejo, sebuah Dusun di lereng Gunung Merapi , Pelemsari, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman)

Hari itu, tanggal 4 November 2010 tepat 9 hari wafatnya Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi yang meninggal dunia akibat diterjang awan erupsi Merapi menyembur sejak 25 Oktober 2010.

Syahdan, jarum jam menunjukkan pukul 17.02 WIB, suasana -syahdu menatap lembayung- yang seharusnya bisa dinikmati sore itu, seolah pecah dengan dentuman Merapi. "Bum" ... Merapi memuntahkan kolom abu setinggi 18 km dan mengeluarkan puluhan aliran piroklastik, beberapa mencapai jarak hingga 10 km

"Dusun Kinahrejo terletak sangat dekat dengan puncak Gunung Merapi, yakni berjarak sekitar 5 km. Posisi Kami waktu itu berada di pos pantau Merapi di radius 7 Km. Ledakan itu sangat terasa, dan suasana mencekam" ujar Ageng mengenang peristiwa ini

Pemilik nama lengkap Ageng Priyatno ini, bertugas di Posko Merapi. Perannya begitu vital,- sebuah amanah Bakti Kemanusiaan- yang tak bisa di anggap ringan. Keberadaannya, menjadi sandaran bagi para pengungsi yang -siap- kehilangan segalanya, ketika sebuah Bencana melanda. 

Ketika puncak erupsi Merapi terjadi, lanjut Ageng, radius sterilisasi zona merah diperluas menjadi 10 km, sehingga lokasi posko yang dianggap terlalu dekat dengan titik semburan awan panas, -terpaksa- digeser jauh ke selatan, tepatnya di daerah Kasihan, Bantul

25 hari berselang, tepat tanggal 30 November 2010 -erupsi mereda- dan Merapi memberikan "nafas" bagi para penghuni di kaki gunung, yang sebelumnya bergelut dengan abu. Ya, Nafas segar itu akhirnya bisa di nikmati, sebab di posko, ratusan relawan -harus- terbiasa nafas sesak akibat menghirup bau belerang

Abu vulkanik Merapi -sering kali -disertai bau belerang (sulfur) yang menyengat akibat pelepasan gas saat erupsi. Kendati telah mereda, para relawan tetap menghimbau warga untuk menggunakan masker karena kandungan belerang dapat menyebabkan iritasi. 

"Bertugas menjadi relawan Kemanusiaan di Merapi benar-benar perjuangan yang tak terlupakan, selama lima bulan penuh, Tim OI Crisis Center bertahan mendampingi pengungsi di masa darurat hingga membantu proses pemulihan pasca-bencana yang melelahkan"ujarnya 

BACA JUGA : 

Kiprah Ageng dan Relawan OI Crisis Center di Merapi seolah menjadi portofolio (Bukti Nyata) Bakti Kemanusiaan. ia turut terjun saat kejadian erupsi serupa di Gunung Kelud dan bersiaga menyiapkan jalur evakuasi di Gunung Slamet. 

Sejak saat itu, namanya seolah menyatu dengan titik-titik merah di peta bencana Indonesia. Pengabdiannya beserta OCC melintasi berbagai medan dan jenis bencana, seperti penanganan paska bencana banjir di Jakarta, Pekalongan, Purworejo, Demak, hingga banjir bandang Sungai Cimanuk di Garut.

Bahkan, ketika terjadi bencana tanah yang bergerak, ia menembus medan longsor di Banjarnegara, Ponorogo, Nganjuk, Bandung, hingga Banyumas. Kontribusinya semakin nyata saat ikut serta menangani paska bencana Gempa Bumi danTsunami

"Naluri Kemanusiaan saya benar-benar tersentuh tatkala berada di tengah puing gempa. Baik di Pidi Jaya (Aceh), gempa Cianjur. Saat itu saya menyaksikan rumah berantakan, bahkan menemukan mayat yang tertimbun reruntuhan. Dan, kengerian itu masih terbanyang hingga kini" Imbuhnya

 

Berbekal kengerian itu, Ageng memandang bahwa bencana yang terjadi bukan -hanya- soal siklus alam, melainkan ada peran manusia yang merusak alam, seperti bencana longsor dan banjir. Paradigma ini semakin memantapkan diri untuk mengabdi atas nama Kemanusiaan. 

Baginya, menjadi relawan bukan hanya tentang -tanggap darurat -datang saat bencana terjadi, namun ikut andil dalam mitigasi dan pencegahan. 

Salah satu upaya Mitigasi yang paling krusial adalah menginisiasi pemasangan Emergency Warning System (EWS) di Gunung Slamet dan Gunung Kelud dengan melibatkan warga lokal agar mereka berdaya secara mandiri.

Selama berkiprah di bidang kebencanaan di berbagai daerah di Indonesia, ia tak lantas melupakan tanah kelahirannya. Pria asli Cilacap ini juga terlibat dalam aksi menanam mangrove di Segara Anakan Cilacap dan aksi bersih pantai sebagai benteng alami terhadap abrasi.

Tahun 2022, Ageng tergabung dalam Tim Ekspedisi Bengawan Solo yang selama 30 hari menyusuri Sungai sejauh 462 kilometer, melintasi 491 desa yang berada di 12 kabupaten di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur

"Pada ekspedisi paling epic ini, saya menyaksikan langsung betapa sungai yang dulu di mulaikan kini telah tercemar, tumpukan sampah di bantaran sungai menandakan kebiasaan "buruk" masyarakat yang belum sadar tentang pentingnya mitigasi bencana" ujarnya

Di tahun yang sama, Ia dan anggota OI Crisis Center juga tergabung dalam Ekspedisi Mata Air Nganjuk, dan bergiat memetakan titik mata air di sektor selatan meliputi Kecamatan Loceret, Ngetos dan Sawahan. Selama 15 Hari, ia naik - turun Lereng Wilis, menjelajah setiap titik sumber mata air dan berhasil menemukan 173 titik sumber mata air.  

"Data yang kami kumpulkan ada sebanyak 80 sumber mata air yang kritis, dengan debit air kurang dari 10 liter per detik. Bahkan, ada 23 titik sumber air di Kecamatan Loceret Kab Nganjuk yang sangat kritis karena hanya mengeluarkan air sebanyak 2 liter per detik" ungkapnya 

Kondisi ini, lanjut Ageng, menjadi catatan khusus dan dilaporkan ke Sekretariat Pusat Oi Crisis Center,  selanjutnya di tindak lanjuti agar mendapatkan perhatian semua pihak untuk memberikan intervensi kebijakan pemulihan sumber mata air. 

******

Kini, kiprah dan kontribusi Ageng telah mencapai level manajerial yang strategis. Ia diberi mandat besar untuk membentuk jejaring relawan di wilayah Jawa Tengah.

Hasilnya bukan sekadar angka, melainkan kekuatan terorganisir, dengan 20 perwakilan yang kini telah terbentuk dan tersebar di hampir setiap kabupaten di Jawa Tengah. Ia tidak lagi bergerak sendiri; ia telah membangun sebuah pasukan kemanusiaan yang siap bergerak kapan saja ibu pertiwi memanggil.

"Bencana Alam -mungkin- tak dapat kita hindari, namun kesiapsiagaan adalah cara kita menghargai kehidupan, dan Kegiatan Bakti Kemanusiaan adalah wujud dari doa yang Nyata" tuturnya.

Kisah ini -seakan- mengingatkan kembali pada kita, dan semua pihak bahwa di balik angka-angka statistik bencana, ada individu-individu yang merelakan waktu, tenaga, dan keselamatan pribadinya demi memastikan orang lain bisa melihat hari esok dengan lebih tenang. Salam Bakti Kemanusiaan

Editor | Arah Perubahan

Posting Komentar

Flag Counter