Suwito, Penjaga Wana Gunung Argokelono
Ya, Bukit Salju, Anda tidak salah membaca, tapi kata "Salju" bukan merujuk pada kristal es putih -dari uap air di atmosfer saat suhu titik beku-, melainkan Salam Judeg, sebuah dusun paling tinggi di Desa Blongko, Kec, Ngetos, Kab.Nganjuk
Dari deretan kendaraan yang parkir itu, bisa di simpulkan - mereka - tidak hanya berasal dari Karesidenan Kediri saja, melainkan dari Surabaya, Sidoarjo dan Gresik.
Pemandangan ini tentu tak biasa, sebab puluhan orang justru berkumpul di bawah pinus, di dalam Kawasan Wisata Bukit Salju yang kini terbengkalai itu, jelas bukan sedang berwisata.
Singkat cerita, puluhan orang ini sedang menggelar Aksi tanam pohon di Gunung Argokelono -salah satu gunung -dari gugusan Pegunungan Wilis.
Sebelum memulai penanaman, upacara (apel) di gelar, doa di panjatkan, dan sejurus kemudian barisan massa itu membubarkan diri, berpencar mengambil bibit pohon, serta menenteng alat tangan kecil berbentuk sekop mini dengan bilah logam yang lazim di sebut Cetok
Di antara massa itu, menyeruak sosok pria, ia berdiri memberikan arahan dan petunjuk agar rombongan bergerak naik ke selatan. Tampak postur tubuhnya yang tegap dengan bahu jenjang, mengenakan sepatu bots dan orang orang memanggilnya mas Wito
Suwito, sebuah nama singkat yang secara etimologi berasal dari dua frasa yakni "Su-" berarti baik/bagus dan "wito" berkaitan dengan awal/kelahiran. Sehingga nama Mas Wito ini berarti awal yang baik atau lahir dengan baik.
Bagi kaum awam nama Suwito tak banyak dikenal, ia hanya pria yang lahir di desa, dan menjadi pesanggem di lahan Perhutani. Kesehariannya, menanam buncis, labu siam (manisah) hingga merawat alpukat dan kopi yang di tanam di sela-sela pohon, di lahan hutan produksi.
Bagi para pelestari dan pecinta Alam yang pernah menginjakkan kaki di Gunung Argokelono, Suwito cukup dikenal sebagai sosok yang sederhana, "humble" serta "ringan tangan" jika menyangkut kegiatan pelestarian hutan lindung di kawasan Argokelono.
*******
Tapi, siapa sangka di balik kesederhanaan itu ada kisah perjuangan heroik yang dilakukan Suwito bersama warga desa Blongko ketika terjadi Kebakaran Hutan di Gunung Wilis tahun 2018.
BACA JUGA :
- Petuah Eko Prastowo, Legenda Kopi Alas Jawa Timur
- Agus Marlin : Pejuang Sunyi Asal Dusun Turi
- Sedekah Sampah, Mengurai Masalah Menjadi Berkah
Kala itu, Suwito sedang berada di hutan, ia melihat asap membumbung tinggi di sisi timur dan bergegas turun - bukan untuk lari - tapi mengajak rekan yang lain untuk "berjuang" memadamkan api
"Saat terjadi kebakaran, angin berhembus dari sisi timur (wilayah kediri), kobaran api semakin membesar menuju ke barat (wilayah Nganjuk). " ujarnya
Upaya pencegahan pun di lakukan, Suwito dan Tim Destana Blongko bekerja keras membuat "sekat bakar", sebuah teknik yang dikenal sebagai Backfire (Api Balas) atau bagian dari operasi Burn Out.
Dalam skenario mitigasi bencana kebakaran, prinsipnya memutus rantai segitiga api (oksigen, panas, dan bahan bakar). Dengan membakar area di depan kepala api secara terkendali, maka menghilangkan bahan bakar (serasah, rumput kering, semak) sebelum api utama mencapainya.
"Ketika api utama tiba di area yang sudah "hitam" (terbakar habis), api akan mati dengan sendirinya karena tidak ada lagi yang bisa dibakar." ujar Suwito berkisah.
Teknik ini, lanjut Suwito, hanya bersifat antisipatif dan tidak berlaku jika Api sudah terlanjur membesar. Pada kasus kebakaran hutan di tahun 2018, kobaran api tak terkendali bahkan mengepung para relawan.
Bayangkan, Anda berada di tengah Hutan pinus, dan di kepung kobaran api. Saat itu musim kemarau dan tidak cukup air untuk memadamkan. Pasrah berarti terpanggang, melarikan diri itupun sama halnya bunuh diri.
Disinilah kunci keberanian Suwito bersama rekan Destana. Mereka memutuskan untuk menerjang kobaran api.
Eits, tapi jika Anda berpikir, mereka menjauh menuju ke barat, maka itu jawaban yang salah. Sebab, menurut Suwito, justru ia berlari menuju ke timur -arah angin berhembus.
Teknik itu kerap disebut "logika melompati garis api", artinya ketika angin bertiup dari timur, api bergerak sangat cepat ke arah barat.
Area di sebelah barat (di depan api) adalah area penuh bahan bakar yang belum terbakar, yang akan segera menjadi "neraka" panas. Sebaliknya, area di sebelah timur (di belakang garis api) adalah Burned Area (daerah hangus).
Kisah Heroik menyelamatkan hutan di Gunung Wilis ini pun di dengar oleh Gubernur Jawa Timur dan menganugrahi penghargaan sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana) Terbaik se-Jawa Timur.
********
Suwito yang aktif sebagai Aktivis di Pelestari Kawasan Wilis ini juga kerap menggelar aksi pelestarian dan Konservasi Mata Air. Sejak 2020, ia aktif memimpin kegiatan penanaman di Gunung Argokelono.
Pada tahun 2021, ia bersama Waka Adm Perhutani KPH Kediri naik hingga ketinggian 1400 mdpl untuk memantau secara langsung areal buffer zone (zona penyangga) Hutan Lindung yang akan dijadikan areal tangkapan air
Di tahun yang sama, Suwito bersama Leppami (Lembaga Pariwisata dan Pecinta Alam Mahasiswa Islam) di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melakukan gerakan bersih gunung Argokelono.
Ia di percaya menjadi leader dalam upaya "babat alas" yang di gelar untuk memetakan kondisi kemiringan lereng, pendataan flora dan fauna, sekaligus merumuskan upaya mitigasi potensi kebakaran hutan di Argokelono.
Pada tahun 2022, Suwito tergabung dalam Ekspedisi Mata Air Nganjuk dan melakukan pendataan titik mata air di desa Blongko, dan menemukan fakta kondisi 13 titik mata air yang mulai kritis.
Berkat hasil pemetaan ini, dukungan dari berbagai pihak akhirnya mengalir. Salah satunya dari Perum Jasa Tirta I (salah satu BUMN) yang memberikan dukungan penyediaan bibit alpukat, sebagai bagian dari aksi konservasi sumber daya air
"Sepanjang tahun sejak 2020 - 2025 (musim penghujan) kami aktif menanami Gunung Argokelono dengan tanaman MPTS (buah-buahan) agar kelak -hutan- kembali lestari" ujarnya
Suwito, mungkin hanyalah potret Local Heroes asal Dusun Salam Judeg, namun langkah kecilnya lewat aksi penanaman hutan kini mulai membuahkan hasil.
Areal bekas kebakaran hutan itu, kini mulai hijau. Mungkin -bagi redaksi- tak berlebihan jika Suwito layak di sebut sebagai Penjaga Wana Gunung Argokelono.
Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar