Petuah Eko Prastowo, Legenda Kopi Alas Jawa Timur

Petuah Eko Prastowo, Legenda Kopi Alas Jawa Timur

Daftar Isi

Nama Eko Prastowo mungkin terdengar asing bagi orang awam, namun bagi pecinta Alam khususnya di komunitas para pendaki di pulau Jawa, Om Pras - begitu ia kerap di panggil - adalah sosok yang cukup dikenal dan menjadi legenda Kopi Alas Jatim

Di usia yang -tak lagi muda- menginjak kepala 6, Om Pras -masih sering terlihat- di puncak gunung. Ia bersama Komunitas Pecinta Alam Bebas Jawa Timur, kerap menggelar agenda open trip, sebuah istilah pergi berlibur / mendaki bersama orang lain -yang mungkin belum saling kenal - dalam satu group dengan tujuan yang sama.

Mendaki, bagi om pras, bukan sekedar aktivitas berjalan kaki, mendaki bukit, atau menaiki gunung melalui jalur tertentu sebagai bentuk rekreasi, olahraga, atau petualangan di alam terbuka.  

Namun, saat kaki -melangkah- menapaki lereng terjal, para pendaki -seperti halnya om pras- menyadari gunung tidak pernah menaklukkan kita; kitalah yang harus menaklukkan diri sendiri. 

Pendakian itu simulasi "mini" dari perjalanan hidup seorang manusia. Bagi yang usia 40 keatas aktivitas pendakian lebih menitik beratkan pada upaya membangkitkan romantisme (kenangan) dan refleksi serta kontemplasi diri.

Bagi yang muda, lanjut Om Pras, aktivitas mendaki tak lepas dari kegiatan olahraga, berpetualang, serta mencoba sesuatu yang baru, bahkan -tak sedikit anak muda- ikut tren agar memperoleh eksistensi (pengakuan) yang di representasikan pada postingan medsos

Sebagai sosok Psikolog, Om Pras juga melihat ritual mendaki gunung kerap dijadikan sebagai "ziarah vertikal." Di balik kelelahan fisik dan beban carrier yang berat, terdapat ruang batiniah yang luas untuk melakukan tadabbur alam dan kontemplasi diri.

"Ketika berada di puncak gunung, suara bising kota digantikan oleh suara angin, gesekan daun, dan detak jantung sendiri. Kelelahan fisik yang berbalut peluh -keringat- seolah sirna di hempaskan kesunyian alam. Di balik keheningan ini, seorang pendaki bisa "mendengar" pesan-pesan alam yang sering terabaikan" ujarnya

Sesepuh Kopi Alas Jawa Timur ini juga kerap mengajak anggota yang ikut dalam open trip pendakian agar tetap menjaga erat solidaritas, sebab ketika berada di Gunung, kita bukan siapa-siapa, bahkan topeng sosial sering kali ditanggalkan. 

"Di Gunung tidak ada lagi jabatan atau status sosial dan seseorang dipaksa untuk jujur pada rasa takut, rasa malas, dan rasa pedulinya terhadap sesama pendaki " imbuhnya

Saat mendaki di Gunung Sindoro tahun 2018,  ia mengaku bertemu pendaki yang kelelahan -akibat- di tinggal oleh rekannya sesama peserta open trip, dan ini menjadi pengingat bagi Kopi Alas, bahwa seduluran tanpa batas adalah mutlak bagi semua anggota

Eko Prastowo, yang berprofesi sebagai Dosen Akper Gresik ini menjelaskan fenomena kejadian pendaki meninggalkan rekannya adalah bentuk nyata dari social loafing (melepas tanggung jawab sosial) atau bahkan insting bertahan hidup yang primitif yang tidak terkendali.

Dalam psikologi hal ini disebut Character Revelation untuk mengetahui apakah seseorang pendaki itu layak disebut giver (pemberi) atau taker (penerima) dan disinilah "Karakter Asli Pendaki" menjadi nampak nyata.

Beliau mencontohkan kejadian pendaki yang mengalami kelelahan ekstrem (fisik dan mental), maka mekanisme kontrol self-regulation (pengaturan diri) -kemungkinan - akan hilang. Akibatnya, pendaki tidak lagi memiliki energi untuk "bersikap manis" atau berpura-pura peduli -jika memang aslinya- tak punya rasa empati yang kuat.

Kasus pendaki yang di tinggal oleh rekannya, umumnya di alami pendaki muda yang melihat alam bebas dan gunung sebagai arena, atau ajang pembuktian fisik dan mental. 

"Maka, tak heran bila kita mendengar ejekan atau perundungan bagi pendaki yang -dianggap- lemah" ujarnya

Fenomena ini, menurut beliau, tidak bisa diteladani, sebab Pendaki sejati hanya melihat puncak sebagai bonus dari sebuah proses, sementara perjalanan adalah inti. 

"Disinilah pentingnya kita ber-kontemplasi, mengajarkan bahwa hasil akhir tidak ada artinya tanpa proses yang benar dan kesadaran untuk kembali pulang (turun) dengan selamat." Ungkap Om pras yang kini di percaya sebagai Psikolog di RSJ Menur Surabaya. 

****

Bagi Kopi Alas, aktivitas pendakian tak berhenti pada rasa kagum saja (Tadabbur Alam), melainkan berlanjut pada aksi pemulihan. Melihat hutan yang gundul atau sungai yang tercemar saat mendaki sering kali memicu kontemplasi tentang tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi.

BACA JUGA : 

Itulah sebabnya, berbagai aksi penanaman di hutan juga kerap di lakukan, Mulai dari aksi tanam di Gunung Wilis Desa Bajulan 2015, Tanam Pohon di Pos II Sumbing, Kaliangkrik tahun 2017,  aksi konservasi di Kunjorowesi, Gunung Penanggungan hingga penanaman Mangrove di Gresik

Di Kopi Alas, imbuhnya, beragam kegiatan juga dilakukan, tak hanya jadwal rutin pendakian, namun juga edukasi. Kegiatan sharing berbagai pengalaman hingga diskusi kerap di gelar sebagai sarana mempererat tali persaudaraan.

Kini, Eko Prastowo mulai membangun Basecamp Kopi Alas di Kaki Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. 

Untuk meneguhkan kembali spirit Senasib Sepenanggungan, agar menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup itu seperti Gunung. Ketika belum mencapai puncak, maka engkau belum boleh turun, dan saat turun jangan tinggalkan saudaramu. 

Terakhir, om pras berpesan kepada generasi muda bahwa tujuan mendaki gunung adalah tiba kembali di rumah dengan selamat. 

Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar

Flag Counter