Sisi Gelap Vespa, Simbol Kemapanan dan Perlawanan

Sisi Gelap Vespa, Simbol Kemapanan dan Perlawanan

Daftar Isi

Vespa, nama merek kendaraan otomotif asal Italia yang hingga kini masih menghiasi jalanan dengan bodi khasnya. Dalam dunia otomotif, bentuk bodi vespa ini dikenal sebagai monokok, merujuk pada struktur kendaraan di mana bodi luar dan rangka disatukan menjadi satu kesatuan tunggal (unibody) untuk menopang beban, menyerupai prinsip kulit telur.

Maha karya desain Corradino D'Ascanio itu sejak diciptakan oleh Piaggio pada 1946 hingga kini tak pernah berubah. Sejarah mencatat, vespa masuk ke Indonesia tahun 1960 setelah sebelumnya menjadi ikon skuter Italia, sebagai solusi transportasi murah, praktis, dan elegan pasca-Perang Dunia II. 

Namun, siapa sangka di balik bentuk yang terlihat buntal -melengkung mirip kodok jika di amati dari samping- itu, ada rahasia perlawanan "anti kemapanan" yang mengajak kita merenung kembali, tentang arti sejati dari sebuah "kemewahan" .

Biar lebih seru, seperti biasa sruput kopinya, dan siapkan camilannya, karena tulisan ini menguak ke sisi gelap kaum marginal yang menolak vespa sebagai simbol kemewahan. 

************

Syahdan era 70an, Vespa pernah mengalami puncak popularitas di Indonesia. Ia merebut hati penggemar lewat kesan prestise paska Pemerintah Indonesia menghadiahkan Vespa kepada Pasukan Garuda III yang baru pulang dari misi perdamaian di Kongo (PBB). 

Apresiasi itu menjadi titik balik Vespa - bahkan hingga kini- varian Kongo menjadi buruan kolektor. Padahal jika menelisik lebih dalam -Vespa Kongo - lebih tepat disebut simbol heroisme, terlebih pada seri VBB/VBA terdapat logo garuda di bodi depan

Hingga di titik ini, kita bisa di memahami kenapa kaum kelas menengah ke atas menjadikan Kongo sebagai simbol prestise

Fenomena ini dijelaskan oleh Pierre Bourdieu, dalam teori pembedaan (Distinction) yang menempatkan kelas sosial tidak hanya diukur oleh kekayaan, tetapi juga oleh modal budaya (selera, pengetahuan, gaya hidup termasuk di dalamnya hobi /kolektor)

Eksklusivitas pemilik vespa bak menjelma menjadi penegasan selera lebih tinggi, yang tak bisa dibeli -sekadar- dengan uang, melainkan kepemilikan sebuah barang yang dianggap langka (terbatas). 

Munculnya Vespa matic di awal 2000 an (pada seri LX, Primavera, Sprint modern) mempertegas status kemapanan ini. Perbedaan harga yang jauh di atas rata-rata motor matic buatan Jepang, Vespa tak lagi pilihan transportasi, melainkan menjelma menjadi produk gaya hidup. 

Mengutip kalimat Georg Simmel "Gaya hidup adalah alat untuk menyatukan satu kelas sosial sekaligus memisahkan mereka dari kelas lainnya."

******

Kita kembali ke awal tahun 80 an, memiliki Vespa berarti kemewahan yang sama halnya memiliki mobil saat ini. Di periode ini muncul budaya subkultur Vespa di Indonesia di ikuti tren motor skuter di kalangan mahasiswa dan pekerja dan disaat yang hampir bersamaan popularitas punk juga makin menggeliat

Di komunitas akar rumput, pertengahan hingga awal 90 - an mencuat gerakan penyatuan etos Punk x Vespa, Tren ini merujuk pada komunitas Vespa Extreme atau Vespa Sesap, di mana kendaraan bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan kanvas pernyataan politik dan sosial.=

Dalam jurnal vespa milik Henry Kik, menulis tentang cara kaum jelata mengekspresikan diri maka lihatlah komunitas penggemar vespa gembel.(brekele) atau istilah kerennya Rat scooter. 

"Jika kebanyakan orang suka pamer kemewahan, mereka justru pamer kegembelan. Inilah antitesis dari parade kemewahan di sekitar kita" tulis Henry Kik

Pertanyaannya, kenapa mereka mau menggembel-gembelkan diri? Henry lantas mengaitkannya dengan faham kebebasan yang mereka anut. "Mereka ingin merombak pandangan orang yang sering menilai orang lain dari penampilan luarnya" tulisnya pada jurnal Vespa Style Never Last

Ya, dalam kacamata pegiat Vespa Extreme, sebuah kemapanan sering diidentikkan dengan konsumerisme, keseragaman, dan standar kecantikan/kebersihan yang kaku. Vespa dipilih sebagai alat perlawanan lewat sabotase simbolik. 

Lewat aksi ini mereka "seolah" hendak berkata "Inikah simbol yang kau banggakan itu, padahal hanya seonggok besi bermesin yang beri merek". Dengan kata lain, ketika seorang anak punk membuat Vespa menjadi ceper hingga menyentuh aspal atau memasang botol-botol bekas, mereka sedang melakukan "sabotase" terhadap simbol borjuis.

"Benda yang kalian anggap prestisius ini, di tangan saya, hanyalah besi tua yang tunduk pada kreativitas saya, bukan pada harganya."

****

Hingga kini, di jalanan di Indonesia masih kerap kita jumpai kelompok Rat Scooter yang mengendari vespa unik dan subversif. Mereka berkendara dengan vespa yang telah dimodifikasi dengan cara aneh, misalnya panjang 6 meter, dan dibalut karung goni, bahkan saat berbelok harus digotong beramai-ramai. 

Di tengah cibiran dan upaya pemberontakan estetika yang mereka lakukan, tak sedikit pihak yang memuji. Di Jalanan beraspal yang keras dan panas, mereka dikenal melalui solidaritas tinggi, Maka tak heran bila kita kerap melihat mereka membantu pengendara lain sedang mogok, meski bukan sesama pengguna vespa.  

Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar

Flag Counter