Ragam Kudapan di Brunei, Sajian Khas Ala Sultan Saat Lebaran

Ragam Kudapan di Brunei, Sajian Khas Ala Sultan Saat Lebaran

Daftar Isi

Bayangkan, Anda tinggal di sebuah negara yang bersih, tidak macet, udara segar. Sungai mengalir dengan air yang jernih, tak nampak sampah berserakan. Bahkan, saat berkendara mobil SUV, anda tak perlu merogoh kocek terlalu dalam hanya demi membeli bensin. dan yang terakhir, saat lebaran tiba Anda dan keluarga mendapat uang tunai

Ya, Anda tidak sedang membayangkan dunia Utopia,- seperti yang di tulis Sir Thomas More. - sebuah konsep masyarakat atau negara imajiner yang memiliki kualitas sempurna, ideal, dan bebas dari kejahatan, korupsi, maupun penderitaan.

Jika 510 tahun lalu, Sir Thomas bisa teleportasi ke masa kini, mungkin ia akan terkejut dan kagum dengan kisah ini. Sebab, apa yang disebut Utopia -dalam bahasa yunani - yang berarti "tidak ada tempat" ternyata benar2 ada, yaitu di Brunei Darussalam

Seperti apa kisah negeri Sultan yang memanjakan warga saat Idul Fitri, simak ulasan khusus yang dipandu langsung oleh Budiono,  Sahabat Diaspora Indonesia di Brunei Darussalam. Jangan lupa, siapkan kopi dan kue nastar, karena kita melihat lebih dekat, suasana lebaran di Brunei

********

Brunei, sebuah negara kecil dengan luas setara pulau Bali, jika di bandingkan Luas Brunei 5.765 km2, sedangkan luas pulau Bali 5.780 km2.  Negara kecil ini memiliki tradisi Islam yang sangat kental. Saat Idul Fitri tiba, warga bersuka cita menyambut hari raya ini dengan beragam aktifitas. 

Salah satu keunikan utama di Brunei adalah tradisi Open House di Istana Nurul Iman. Selama tiga hari pertama Idulfitri, istana dibuka untuk umum (baik warga lokal maupun turis).  Saat Idul Fitri, setiap warga yang hadir di jamu makanan yang mewah khas brunei  - apa saja makanan-nya, bisa di baca : Gastronomi Brunei, Jajal Masakan di Negeri Sultan

"Kita -warga Brunei- bisa menikmati makanan sepuasnya, beragam kue juga di sajikan, dan Sultan Brunei juga membagikan uang THR kepada seluruh warganya" ujar Budiono 

Dalam budaya Brunei, tradisi berbagi THR ini dikenal dengan sebutan pemberian "Duit Raya". Mirip di Indonesia, dimana orang dewasa yang sudah bekerja atau sudah berkeluarga akan memberikan sampul duit raya kepada anak kandung, keponakan, maupun cucu, juga berbagi kepada orang tua dan mertua (sebagai tanda bakti). hingga Anak tetangga yang datang berkunjung.

Secara sosiologis, ada beberapa perbedaan mencolok dari fenomena eidia ini, yakni budaya yang lebih tertib mengingat mengingat jumlah penduduk yang sedikit dan tingkat kesejahteraan yang tinggi. 

Di Brunei, fenomena "anak-anak mengantre seperti pengemis" hampir tidak ditemukan. Pemberian dilakukan dalam suasana yang sangat sopan dan tenang. 

*******

Saat lebaran (idul fitri ) tiba, rasanya kurang pas bila umat muslim tidak menyiapkan kue lebaran, sebagai sajian kepada para tamu yang berkunjung. Hal ini juga nampak dari banyaknya varian kue yang di sajikan saat "open house" di Istana Nurul Iman.

BACA JUGA :

Informasi yang berhasil di himpun Sahabat Diaspora Indonesia di Brunei menyebut, Pihak Istana tetap mempertahankan cita rasa lokal dengan menyajikan kudapan tradisional khas Brunei yang disebut (Kuih-Muih) dan menjadi kebanggaan masyarakat Brunei

"Ada Kue Bahulu, yakni Kue spons kering berbentuk bunga atau cermai, ada juga Selurut (atau Celurut), Kue manis lembut yang terbuat dari tepung beras dan santan, dibungkus daun nipah berbentuk kerucut." ujar Budiono.

Jika di Indonesia kita mengenal Wajik (Jawa) atau Pulut Manis (Sumatera Utara), maka di Brunei kita juga bisa menjumpai kudapan serupa bernama Wajid Temburong.  Camilan dari ketan manis yang dimasak dengan gula melaka, biasanya dibungkus daun nyirik.

"Sesuai namanya, kudapan ini berasal dari Temburong, dan rasanya sangat legit karena namun lebih lembut, berminyak (karena santan yang kental). Berbeda dengan Wajik di Indonesia, dengan teksturnya sedikit lebih "kokoh" atau kenyal" tandasnya

Akulturasi kuliner di negara serumpun, lanjut Budi, juga nampak dari varian kue Pinyaram (Penyaram), dari sisi bentuk serupa dengan kue cucur di Indonesia, memiliki pinggiran yang renyah dan bagian tengah yang empuk. 

Ada pula kue Cincin - kudapan renyah berbentuk cincin - terbuat dari gula merah dan tepung beras, dan mirip dengan Kue Cincin khas Betawi atau Kue Ali Agrem di Jawa Barat dan terakhir kue Sapit - mirip dengan kue semprong di Indonesia-, bentuknya tipis dan renyah

Selain makanan tradisional, Istana Nurul Iman juga menyajikan kue modern dan sajian "dessert" Internasional. Hal ini bisa di temukan di area prasmanan (buffet) yang luas, tersedia stasiun khusus pencuci mulut yang menyajikan kue-kue modern seperti hidangan mewah berupa Lapis Legit yang selalu ada dalam perjamuan resmi di wilayah Melayu.

Di meja besar juga nampak Puding paja -puding tradisional Melayu - yang terbuat dari bahan pisang, kacang, dan buah-buahan kering. 

Umat muslim di Brunei seolah di manjakan saat tradisi open house ini, sebab  setiap tamu yang pulang akan diberikan kotak bingkisan eksklusif berisi satu loyang kecil kue (rich chocolate cake atau fruit cake) yang dikemas mewah dengan kartu ucapan selamat hari raya dari Sultan dan keluarga kerajaan

Semua kemewahan ini tentu tidak dapat di bandingkan dengan kondisi di Indonesia, sebab Brunei adalah negara kesejahteraan (welfare state), yang menganut konsep "Kurnia" atau anugerah dari pemimpin ke rakyat, yang kemudian ditiru oleh masyarakat dalam skala keluarga sebagai bentuk syukur atas kemakmuran negara.

Akhir kata, tanpa bermaksud membandingkan antar kedua negara, namun penulis hanya ingin berbagi kebahagiaan yang dialami saudara kita di Brunei

Kita tak perlu iri dengan kemewahan warga disana, sebab di Indonesia -negeri yang "Gemah Ripah Loh Jinawi" - ini setidaknya kita "wajib" selalu bersyukur, -seperti- yang sering kita baca di story WA bertuliskan "Bahagia itu Sederhana" dengan gambar "Nasi Pecel dan Lauk Rempeyek" 

Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar

Flag Counter