Joglo Atap Terakota , Desain Peka Jaman Tahan Gempa

Joglo Atap Terakota , Desain Peka Jaman Tahan Gempa

Daftar Isi

Siang itu, Minggu 27 Mei 2007 sebuah panggilan masuk ke ponsel NGage, di layar ponsel tertulis nama Mersita Daelyana, seorang sahabat yang tinggal di Yogya. Di ujung panggilan itu, ia mengabarkan telah terjadi bencana gempa yang melanda Yogja dan sekitarnya. "mas, aku siki ngungsi, nyuwun dungone mugi apik2 kabeh" ujarnya singkat sambil mengakhiri panggilan

Gempa Yogja di tahun 2007 bukan sekedar gempa, sebab kala itu di ikuti oleh luncuran awan panas dari puncak Gunung Merapi. Ternyata, gempa yang baru saja terjadi memicu aktivitas vulkanik dalam perut merapi. 

Bayangkan saja, pagi itu pukul 05.57 WIB, Anda sebagai warga Yogja sedang bersiap memulai aktivitas, tiba-tiba atap genteng rumah bergetar, dari kejauhan terdengar orang berteriak "lindu, lindu" dan berhamburan keluar rumah. Belum reda kepanikan, sekira 2 menit berselang tampak dari kejauhan puncak merapi menyemburkan awan panas yang di kerap di juluki wedhus gembel. 

Bak jatuh tertimpa tangga, belum reda kepanikan akibat gempa yang nampak dari retaknya dinding tembok rumah, warga harus di hadapkan dengan ancaman awan panas. 

Terjebak pada situasi ini tidak ada keputusan lari selain masuk kedalam rumah. Selama beberapa hari, awan panas itu terus bergerak, abu vulkanik mulai menumpuk di atas rumah warga

Saat penumpukan abu terakumulasi, hujan gerimis tiba-tiba turun menambah beban yang harus ditanggung oleh rangka bangunan rumah. Hingga akhirnya "Krak dan brak" atap rumah dari asbes dan seng itupun runtuh, menghujam ruang tamu, bahkan kamar tidur serta dapur. Sementara, di seberang jalan, tampak rumah Joglo beratapkan terakota masih berdiri kokoh seolah ia tak terjadi apa-apa. 

Bagaimana ini bisa terjadi, ada apa dengan rumah Joglo, apakah rumah adat Jawa memiliki aura mistik sehingga lindu, dan awan panas seolah enggan mengusik? bagi yang penasaran, simak ulasan berikut ini, jangan lupa siapkan kopi dan tape gorengnya, karena kita akan masuk dalam rahasia pengetahuan konstruksi cerdas yang di buat nenek moyang kita dahulu. 

******

Sejarah Rumah Joglo tidak bisa lepas dari persilangan budaya di pesisir Jawa yang menjadi bukti evolusi arsitektur Nusantara. Di balik bangunan ini, ada sebuah rekayasa yang brilian, dan menjawab tantangan dari arsitektur, "bagaimana sebuah kontruksi bisa menopang atap yang sangat berat di atas ruangan yang luas tanpa dinding penyangga di tengah"  

Secara mekanis, kontruksi rumah adat Jawa jauh berbeda bangunan modern yang kaku dan terikat kuat ke tanah, Joglo menggunakan sistem rangka yang bersifat fleksibel (ductile).  Semua sambungan kayu menggunakan sistem takikan, pen, dan lubang (knock-down). Saat terjadi gempa, sambungan ini tidak patah, melainkan bergerak mengikuti gelombang seismik untuk menyerap energi getaran.

Saat gempa, kerangka Joglo bisa miring beberapa derajat lalu kembali ke posisi tegak semula (self-centering). Kondisi ini terjadi karena tiang utama tidak ditanam ke tanah, namun hanya diletakkan di atas batu datar bernama Umpak, yang berfungsi sebagai isolator getaran. 

BACA JUGA : 

Fakta lain menyebutkan, paska gempa ada beberapa Joglo yang runtuh, namun hal ini bukan disebabkan oleh patahnya struktur, melainkan jika guncangan sangat ekstrem sehingga tiang Saka Guru bergeser keluar dari permukaan batu umpak. 

Disinilah rahasia kekuatannya, selama tiang Saka masih berpijak di atas umpak, bangunan akan tetap berdiri. 

Rumah Joglo yang ideal dibangun dengan kayu jati berkualitas (tua dan kering). Dengan konstruksi yang presisi tanpa paku, sebuah Joglo mampu bertahan pada guncangan dengan intensitas VIII hingga IX pada Skala Mercalli (MMI). 

Dalam Skala Magnitudo, guncangan itu setara dengan gempa dangkal berkekuatan 6,5 hingga 7,5 SR pada radius dekat. Artinya, saat terjadi lindu, rumah Joglo tidak melawan getaran, melainkan "menari" bersamanya. 

Nah,sekarang mari kita bandingkan dinding rumah modern (tembok) yang retak akibat gempa. Hal itu mustahil terjadi pada dinding kayu jati pada joglo yang memiliki serat, sehingga mampu mengalami deformasi elastis. 

Pada konstruksi atap bagian tengah dibuat tinggi, menyerupai piramida terbalik, didukung oleh tumpangsari. Inilah yang disebut Brunjung, sebuah mekanisme cerdas yang ramah terhadap hujan vulkanis. 

Ketika hujan turun maka abu vulkanis yang menumpuk di atas atap langsung terhempas, sebab sudut kemiringan brunjung (bagian atas/puncak) rumah Joglo berkisar sekitar 45 derajat.

Kondisi paska gempa nampak jelas melalui media massa kala itu. Kita bisa menyaksikan dinding tembok rumah yang retak, bahkan atapnya runtuh, hal ini disebabkan oleh kegagalan desain konstruksi saat merespon gempa. 

Rumah modern (tembok dan semen) dibangun kokoh untuk melawan getaran (Inersia Tinggi), sedangkan bangunan Joglo dari Kayu Jati dipilih oleh leluhur Jawa karena mampu mengikuti getaran

*****

Pada jurnal berjudul Perilaku Struktur Bangunan Joglo Lambang Gantung Pendapa Agung Dalem Mangkubumen Yogyakarta akibat Gaya Lateral, yang di tulis Bayu Dwi Wismantoro menyebut sisi kompleksitas dan sistem sambungan bangunan joglo juga termasuk yang paling rumit dan lengkap dibanding yang lainnya. Bentuk joglo memiliki sistem struktur penahan beban lateral yang berbeda dengan rumah Jawa jenis lain. 

Perbedaan tersebut terletak pada struktur penahan gaya lateral melalui pembebanan pusat bangunan yang berupa soko guru dan tumpang sari 

Desain ini menyebabkan bangunan menjadi lebih berat dan stabil bila terkena gaya lateral. Oleh karena itulah kestabilan kuda-kuda Saka Guru dijamin dengan angka keamanan yang cukup tinggi (Nelza, 2009).

Arsitektur Jawa yang di pilih leluhur kita menjadi bukti bahwa sejak dulu, kita memiliki paradigma pengurangan resiko bencana melalui pemilihan kontruksi dan rancang bangun. 

Nenek moyang kita, selama ber abad abad telah "berdamai" dengan gempa, tanpa perlu membaca retorika akademis yang berbelit belit, hanya demi meyakinkan bahwa kita berada di zona megathrust.

Sementara itu, ditinjau dari perspektfif estetika, bangunan Joglo memiliki tampilan yang peka jaman (evelasting) dan tidak. terpengaruh oleh zaman. 

Jika boleh membandingkan, mari kita tengok saja bangunan modern yang mengadopsi konsep kekinian. Tampilan desain itu terlihat mewah, namun 10 tahun kemudian, muncul desain baru, sehingga desain sebelumnya terlihat usang. 

Hal ini tak berlaku pada Joglo, sebab ia tetap menampilkan kesan mewah (sophisticated ) kendati bentuknya tidak pernah berubah

Akhir kata, arah perubahan yang kini di anggap modern dan lebih maju dalam aspek ketahanan teknis dan bahkan desain, ternyata tidak selalu relevan dengan kondisi tanah yang kita pijak.

Arsitektur Nusantara, menjadi solusi teknis yang sangat maju untuk tantangan alam. Maka, saatnya, kita kembali memaknai kearifan lokal sebagai bahan kajian (studi literasi) agar menjadi generasi yang berkarakter dan menjaga warisan budaya Nusantara.

Editorial | Arah Perubahan 

Posting Komentar

Flag Counter