Diaspora Gastronomi New York, Ketika Makanan Jadi Paspor Budaya
Jika Indonesia ada Yogya, maka di Amerika Serikat ada New York (baca: nuu york), Saat di baca sepintas terdengar sama, tapi keduanya berada di 2 belahan benua berbeda, terpisah oleh Samudera Biru bernama Pasific.
Dari segi budaya, keduanya punya kesamaan yakni kota pusat perkembangan seni, termasuk budaya gastronomi yang kian dinamis
Yogya, kini sedang bertahan di tengah gempuran menghadapi dekulturasi pangan, ketika anak muda -perlahan- beralih ke makanan fast food. Tengok saja, masuknya waralaba global menciptakan pergeseran lanskap kuliner yang cukup signifikan.
Lantas bagaimana dengan New York ? kenapa kita perlu berkaca pada kota di negeri paman Sam itu ?
Simak ulasan kali ini, jangan lupa siapkan kopi dan camilannya, karena kita akan menelusuri lebih jauh bagaimana kuliner bisa menjadi "agen rahasia" yang merubah perilaku suatu wilayah.
By the way, karena lokasinya jauh dari Indonesia, maka kita akan di pandu oleh Nunik Sulistyawati, seorang sahabat Arah Perubahan yang kini menjadi diaspora Indonesia di Amerika Serikat, tepatnya New York.
*******
New York seperti halnya Yogya, adalah kota yang menjadi kiblat kebudayaan dan seni, Jika Yogya punya Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, maka New York punya Broadway, kedua tempat ini sama - sama punya panggung - berkapasitas 500 kursi - yang di gunakan banyak musisi untuk menunjukkan kemampuan akting dan vokal mereka dalam format teater.
Nama besar seperti Bruce Springsteen, Josh Groban hingga Usher pernah perform di Broadway. Sementara itu, Taman Budaya Yogyakarta juga pernah kedatangan Sungha Jung, hingga Vincent van Amsterdam.
Bisa jadi ini alasan bagi masyarakat di seluruh penjuru dunia datang New York untuk belajar seni, dan ke Yogya untuk berwisata.
Oke, kita berhenti membahas New yok karto, eh kita sekarang menuju ke New York. Kota yang sempat jadi Ibukota Amerika Serikat di tahun 1785 - 1790.
Awalnya, penduduk asli kota New York adalah suku Algonquin, dan setelah kontak dengan bangsa Eropa, terutama Prancis dan Belanda, mereka menjadi aktif dalam perdagangan bulu, hingga pada pada 1624 dibangun Belanda menjadi Kota New Amsterdam. di tahun 1664, Inggris merebutnya dan berganti nama New York
Di masa Kolonial, New York menjadi kota pelabuhan utama, dan menjadi tujuan imigran selama berabad-abad, maka tak heran -bila kini - identitas asli Algonquin seolah sirna. Dalam perspektif sosial, kota ini telah mengalami erosi budaya bahkan dalam hal kuliner, kota ini telah kehilangan "rasa" yang asli di ganti oleh kuliner Global.
Pengaruh gastronomi global terhadap New York City bukan sekadar fenomena kuliner, melainkan sejarah migrasi yang membentuk identitas kota tersebut.
Kini, New York tak ubahnya laboratorium di mana tradisi kuliner dari berbagai belahan dunia bercampur dan beradaptasi.
BACA JUGA :
- Gastronomi Brunei, Jajal Masakan di Negeri Sultan
- Vespa Sejuta Saudara, Simbol Kemapanan dan Perlawanan
***********
Sosok Diaspora Indonesia di New York, Nunik Sulistyawati, mengatakan di Amerika (terutama NY) banyak sekali orang yang berimigrasi dari seluruh dunia, dan menetap, sehingga setiap gelombang imigran membawa "bahasa" rasa mereka sendiri yang kemudian menetap di distrik-distrik tertentu
"Jadi untuk hal memasak itu tergantung dari masing roots (akar budaya) nya dari mana" ujarnya
Nunik menambahkan, perpaduan teknik (akulturasi kuliner) bangsa Eropa juga mempengaruhi teknik memasak warga disini. Misalnya, teknik "Sheet Pan Dinner" atau variasi dari "Roasted Vegetables/Meats" yakni memasak dengan bahan seperti olive oil, bawang bombai, bawang putih, garam, lada, lalu dipanggang atau dimasak cepat.
Teknik memasak ini di pengaruhi budaya Mediterania dan Italia, sehingga kaum urban di NYC -sebutan untuk New York City - menjadi akrab dengan Roasted Chicken and Vegetables (Ayam Panggang Loyang), yang di masak secara sederhana.
Pesona "kuliner" Indonesia yang kaya rempah, ternyata belum menembus pasar "The City That Never Sleeps". Di Kota yang tak pernah tidur itu, menuntut banyak hal instan bahkan soal sajian makanan. Dan itu bisa diartikan buku resep "gastronomi" Nusantara yang kaya rempah - seolah tidak sempat terbuka
"Kaum urban di Amerika lebih suka memasak sangat simpel— bahan untuk chop chop- cukup dipotong kasar dan diberi salad dressing" ujarnya
Bicara soal selera, lanjut Nunik, warga Amerika cenderung memilih simple taste—tidak terlalu manis, asin, apalagi pedas. Hal ini sangat kontras dengan lidah Indonesia yang terbiasa dengan ledakan rasa gurih, manis, dan pedas yang kuat.
Oleh karena itu, menu-menu di restoran Indonesia di New York umumnya telah melalui proses "Americanized". - demi menjaga kenyamanan pencernaan warga lokal yang belum terbiasa dengan intensitas bumbu dan rempah yang terlalu pekat.
Pengaruh keberagaman budaya mulai membuat sebagian warga New York meramu bahan-bahan seperti saus tiram, minyak wijen, hingga tahu.
Nunik menambahkan, di New York hanya terdapat satu restoran Indonesia, dengan menu andalan seperti Nasi Goreng, karena bumbu yang simpel dan familiar, terlebih saat disajikan dengan telur mata sapi.
Ada juga Rendang, biasanya hanya mengonsumsi dalam porsi kecil. Bagi mereka, paduan bumbu pekat dan santan kelapa dianggap terlalu berat (heavy) untuk program diet dan sistem pencernaan mereka.
"Sate menjadi hidangan pembuka (appetizer) yang ringan dan mudah dinikmati di Amerika" ujarnya.
Sejarah "Gastronomi Amerika" mencatat, kaum Imigran dari Italia Selatan -terutama Napoli- pada akhir abad ke-19 membawa tradisi roti pipih dengan topping.
Ada pula Imigran Yahudi dari Jerman, Polandia, dan Rumania membawa tradisi deli (delicatessen) yang sangat kuat, dengan sajian roti berbentuk cincin yang direbus sebelum dipanggang -teknik tradisional Eropa Timur- dan terkenal karena memiliki tekstur unik (kenyal di dalam, keras di luar).
Keunikan Kuliner di New York -yang terjadi hari ini - di buktikan dengan menjamurnya resto dari berbagai dunia. Fenomena ini bukan sekadar kisah orang yang pindah negara, melainkan ada "kekuatan rasa" yang dibawa oleh makanan, sehingga ia menjadi "paspor budaya" yang selalu setia menjaga identitas kolektif bagi insan yang ber-diaspora.
******
Dinamika "Budaya Makanan" yang terjadi di New York, juga sedang melanda di kota besar Indonesia. Meski, "cita rasa lokal" tidak serta merta hilang, namun -disadari atau tidak- ada ancaman dibalik hadirnya franchise global.
Persepsi anak muda terhadap "makanan cepat saji" mulai tumbuh pesat sejak satu dasawarsa terakhir. Makan di restoran "fast food" global dianggap sebagai simbol status sosial atau kemajuan, sementara makanan tradisional dianggap kuno.
Kini, kita layak khawatir dengan istilah keterasingan kuliner "Alienasi Kuliner" - sebuah kondisi di mana individu atau masyarakat merasa "terasing" dari makanan asli tanah kelahirannya sendiri.
Jika di New York kehilangan rasa lokal akibat akulturasi budaya dari diaspora seluruh dunia, maka hari ini generasi muda Indonesia terancam kehilangan rasa akibat "Food Colonialism". Makanan tradisional tidak lagi dikenali rasanya, tidak tahu cara pembuatannya bahkan sengaja dilupakan, dan yang paling ekstrim - bahan baku lokal dianggap lebih kuno dibandingkan produk global.
Faktanya, Gen Z lebih tahu cara memesan burger - bahkan varian lebih spesifik - ketimbang menyebutkan nama-nama jajan pasar atau teknik memasak tradisional seperti pepes atau bacem."
Akankah McDonaldization - sebuah istilah yang di cetuskan sosiolog George Ritze - merujuk prinsip restoran cepat saji (efisiensi, kalkulabilitas, prediktabilitas, dan kontrol), kelak menjelma menjadi Imperialisme Kuliner? Dan di amini anak muda untuk memarjinalkan makanan lokal, hingga tergantikan budaya makan negara dominan.
Akhir kata, kita tentu berharap gempuran kuat fast food tidak sampai mencabut akar budaya kita. Hingga pada titik ini, kita harus percaya diri bahwa kuliner lokal tidak akan punah akibat fast food. Di butuhkan inovasi dari pelaku F&B kita agar bisa bersaing.
Sampai hari ini, penulis masih yakin makanan lokal "kaya rempah" kemungkinan besar tidak akan mati, namun diperlukan arah perubahan dari sekadar predikat "makanan lokal yang murah," menjadi "makanan modern yang mewah".
Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar