Mahisa Lalatĕṅ, Kisah Penguasa Wilis Tulungagung

Mahisa Lalatĕṅ, Kisah Penguasa Wilis Tulungagung

Daftar Isi

Gunung Wilis, hingga kini masih menyimpan misteri yang -seolah- tak pernah ada habisnya. Bukti Geologi, dan peninggalan Arkeologi menyebutkan bahwa Lereng Wilis pernah menjadi titik peradaban yang adiluhung-sebuah istilah dalam frasa Jawa- merujuk pada budaya, atau nilai luhur dan mulia. 

Jejak peradaban di Gunung Wilis di buktikan lewat temuan arkeologi berupa prasasti, dan salah satunya akan kita bahas pada tulisan ini.

Seperti apa potret peradaban itu, dan bagimana gambaran leluhur Jawa masa lalu, akan di kupas lewat perjalanan dr Sudi Harjanto, seorang dokter sekaligus pegiat sejarah era klasik. 

Siapkan kopi dan camilannya, karena kita akan menuju Candi Penampihan, sebuah mahakarya di era Jawa Kuno yang terletak di Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung 

*********

Candi Penampihan, merupakan candi Hindu kuno yang dibangun pada tahun Saka 820 atau 898 Masehi. Kata penampihan -konon- berasal dari kata 'tampik' yang berarti 'tolak' dan merupakan candi yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, dengan SK Bupati Tulungagung Tahun 2019 dengan nomor SK 188.45/96/013/2019.

Peneliti Geologi sekaligus Naturalis Belanda, Rogier Diederik Marius (R.D.M) Verbeek mengidentifikasi Candi Penampihan sebagai reruntuhan bangunan suci yang berada di lokasi terpencil di tengah hutan lindung lereng Wilis.

Dalam bukunya Oudheden van Java (1891), Verbeek mencatat koordinat dan kondisi fisik awal situs, yang ia gambarkan sebagai tempat pengasingan suci (hermitage) atau pusat spiritual yang sengaja diletakkan jauh dari keramaian pusat pemerintahan.

"Dari catatan itu, - kita bisa membayangkan - kala itu Verbeek, menuliskan bahwa ia berada di area yang sangat tinggi dan tersembunyi di dalam hutan lindung. Dan, jika di kaitkan dalam administratif- Belanda saat itu- ia mengategorikannya di bawah wilayah Afdeeling Toeloeng-Agoeng" ujar dr Sudi menjelaskan isi buku Oudheden van Java  atau yang dikenal sebagai catatan Verbeek Lijst. di hal 260 -261.

Candi Penampihan, lanjut Sudi, digambarkan oleh Verbeek sebagai salah satu "tempat suci pegunungan" (mountain sanctuary) yang paling penting di wilayah Wilis karena kelengkapan arca dan keberadaan prasastinya.

"Hasil temuan Verbeek inilah yang selanjutnya di jadikan rujukan J.L.A. Brandes untuk melakukan penelitian epigrafi lebih lanjut yang kemudian diterbitkan dalam Oud-Javaansche Oorkonden (OJO)" imbuh Sudi

Saat menyusuri komplek Candi Penampihan,  Sudi mendapati temuan yang cukup menarik dalam studi epigrafi Jawa, yaitu fenomena Prasasti Tinulad. Istilah Tinulad merujuk pada prasasti-prasasti salinan, atau prasasti yang "ditiru" atau di salin kembali, umumnya dilakukan karena prasasti aslinya sudah rusak, atau ketentuan-ketentuan yang ada di dalammya perlu dikukuhkan kembali.

Pada penulisan tahun 1191 Saka, dapat dilihat hal itu merujuk pada tahun 1269 Masehi, sebuah era dimana Kertanegara berkuasa di kerajaan Singasari

Sudi menjelaskan kendati di buat di era Dyah Balitung, namun prasasti Penampihan ada saat ini bukanlah prasasti asli dari zaman Balitung (820 Saka), melainkan sebuah salinan (tinulad) yang dibuat jauh setelahnya.

"Berdasarkan gaya aksara (paleografi) dan penggunaan istilah bahasa Jawa Kuna yang lebih muda, Brandes memperkirakan penyalinan ini dilakukan pada sekitar tahun 1400-an Saka (Abad ke-15 Masehi)" ujarnya

*****

Dalam penelusuran dr Sudi, ada frasa "menarik" yang muncul dalam prasasti tinulad. "Selain nama Balitung (yang ditulis ṅaluṅtu) disebut pula nama Radya Mahisa Lalatĕṅ yang telah menghilangkan sesuatu yang tidak jelas karena tulisan aus." 

Jika merujuk pada sumber primer dalam kajian filologi, nama "Mahisa" sangat erat dengan ciri khas trah Rajasa (Singasari).

Kenunculan nama ini dalam prasasti -yang mengklaim angka tahun 820 Saka - menyiratkan makna bahwa prasasti ini adalah produk politik masa kemudian (abad ke-15). 

Dan -seolah- mencoba melegitimasi hak atas tanah dengan mencatut nama raja besar masa lalu (Balitung), namun "terbukti" gagal menyembunyikan identitas tokoh kontemporer saat itu (Mahisa Lalatĕṅ).

BACA JUGA : 

"Siapa pangeran (radya) mahisa lalatĕṅ? Tidak diketahui dengan jelas karena nama itu tidak disebut lagi dalam kalimat kalimat berikutnya. Identitas nama ini menjadi sangat kompleks, sebab perlu di garis bawahi bahwa nama "Mahisa" sangat tidak lazim di era Balitung (820 Saka)." tegas dr Sudi

dr Sudi menambahkan bahwa dalam catatannya, Brandes menyimpulkan bahwa Prasasti Penampihan adalah dokumen yang disalin ulang dengan motif tertentu pada akhir masa Majapahit. 

Argumen ini merujuk pada penggunaan gaya bahasa dan aksara abad ke-15 (± 1400 Saka), serta penggunaan gelar Hyang untuk raja adalah ciri khas periode akhir Majapahit (seperti Hyang Wisesa), bukan periode Mataram Kuno.

Ada indikasi penguasa saat itu, hendak mempertahankan status Sima (tanah bebas pajak) wilayah Penampihan di tengah gejolak politik akhir Majapahit. Caranya, mengklaim bahwa status tersebut sudah diberikan sejak zaman Raja sebelumnya

********

Di tengah polemik itu, tak ada salahnya kita mencari tahu siapa sosok "Mahisa Lalatĕṅ" ini. 

Secara etimologi, nama diatas merujuk pada dua frasa. Pertama, Mahisa (Kerbau) melambangkan kekuatan dan kesuburan lahan pertanian (sangat cocok untuk penguasa di lereng Wilis yang subur). 

"Kedua, kata Lalatĕṅ. dari kamus Zoetmoelder diketahui bahwa "lalatĕṅ" berarti Jelatang, yang dalam kamus Bahasa Indonesia berarti tumbuhan yang daunnya dapat mengakibatkan rasa gatal." ujar dr Sudi.

Penggunaan nama hewan dan tumbuhan, -bagi Bangsawan Jawa - kerap sematkan sebagai kiasan atau gelar dalam budaya Jawa Kuna. Nama flora dan fauna, dipilih bukan sekadar pilihan estetik. 

Sebuah gelar resmi penobatan (abhiṣeka) raja saat naik takhta dalam tradisi Hindu-Buddha, memuat manifestasi dari pandangan hidup Kosmologi Jawa yang melihat alam sebagai cermin kekuatan ilahi.

Penggunaan nama "Mahisa Lalatĕṅ" bisa jadi sebuah narasi tentang "Kekuatan yang Mengayomi namun Berbahaya untuk Dikhianati." sekaligus menegaskan upaya protektif untuk menggambarkan betapa wilayah ini sangat "berbahaya" jika diganggu karena dijaga oleh pangeran yang sifatnya seperti jelatang

Akhir kata, nama Radya Mahisa Lalatĕṅ -kemungkinan besar- adalah pangeran atau kepala daerah di lereng Gunung Wilis. 

Jika namanya di tulis dalam prasasti maka Ia adalah tokoh nyata dari abad ke-13 atau 14, dan "sengaja diselipkan" ke dalam naskah salinan dari abad ke-9 zaman Dyah Balitung untuk melindungi wilayah lereng Wilis dari tarikan pajak atau gangguan politik di masa senjakala Majapahit

Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar

Flag Counter