Parcel Hasil Sampah, Kisah Bahagia di Penghujung Puasa
Hari ini, H-3 lebaran, bayangkan Anda sedang berada di teras rumah menikmati kudapan khas buka puasa, tiba-tiba seorang bapak menghampiri dan memberikan sebuah parcel.
Anda pasti berpikir, "Alhamdulilah, rezeki lebaran dari orang-orang baik, eh tapi dari siapa ya? mungkin dari orang kaya di ujung gang, atau mungkin ini sisa parcel dari perusahaan tekstil di depan jalan raya, dan akhirnya di bagikan ke warga sekitar"
Sejenak masih tertegun - melamun, dan belum genap rasa penasaran itu, pengantar parcel itu menepuk bahu dan berkata "Bu, ini parcel dari Sampah Anda" ujarnya
Nah, kalau kita membayangkan Parcel dari Sampah tentu menguras pikiran, dan baiknya kita urai dalam editorial kali ini. Jangan lupa siapkan Kopi dan Mendoan, karena kita akan mengupas bagaimana strategi komunitas yang bergiat di bidang sosial dan berbagi berkah dari sektor pengolahan sampah
*******
Parcel, secara etimologi bukanlah tradisi Nusantara, sebab frasa itu berasal dari bahasa Inggris - Parcel berarti "Paket". Dalam perkembangannya, istilah ini menggantikan rantang, yang kerap di gunakan orang Jawa untuk mengirimkan paket makanan.
Pada tradisi Jawa, kiriman makanan dari tetangga yang sedang merayakan kebahagiaan (menggelar hajatan), identik menggunakan rantang, dan kita mengenalnya sebagai Ater - Ater (hantaran)
Awalnya, para leluhur Jawa memberikan hantaran ini kepada tetangga terdekat, orang tua, atau tokoh masyarakat setempat menjelang Hari Raya. Isi Hantaran pun beragam, berupa makanan matang hasil masakan sendiri, seperti ketupat, opor ayam, dan terus berkembang menjadi kue-kue tradisional yang diletakkan di dalam tenong (wadah bambu) atau rantang.
Disinilah Arah Perubahan itu bermula, pada era kolonial, pejabat Belanda atau pengusaha sering bertukar bingkisan sebagai bentuk diplomasi atau penghargaan sosial. Kemasannya tak lagi memakai rantang - karena dianggap simbol jelata-. sebagai gantinya para menir Belanda mulai menggunakan keranjang rotan yang dihias, -sepintas mirip dengan tradisi gift basket di Eropa- dan biasanya diberikan saat Natal.
Semakin hari, perubahan bentuk dan makna "ater - ater" semakin berubah, jika awalnya menjadi wujud syukur serta upaya mempererat silaturahmi, maka kini, ia berubah menjadi sebuah "kewajiban" yang harus lakukan. Artinya, jika ada korporasi, organisasi, atau bahkan lembaga yang tidak memberikan parcel, maka dianggap tidak memahami tradisi.
Dalam perkembangannya, Parcel terus mengalami transformasi, dan kini muncul istilah "hampers" yang populer di kalangan anak muda. Istilah ini merujuk pada keranjang anyaman besar yang digunakan untuk mengangkut barang. Di Indonesia, penggunaan kata "hampers" kini identik dengan bingkisan yang lebih personal, estetik (aesthetic), dan tematik.
*********
Di momen menjelang Lebaran, tren bagi parcel ternyata tidak hanya di lakukan oleh perusahaan, namun juga oleh Komunitas. Salah satunya, Komunitas Pengelola Bank Sampah "Pari Bersih Berseri" di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Komunitas ini membagikan "Parcel" kepada 25 nasabah Bank Sampah yang rajin menyetorkan sampah plastik.
BACA JUGA
- Sedekah Sampah, Mengurai Masalah Menjadi Berkah
- Ritual Nyampah di Kali, Fatwa MUI Jadi Senjata Regulasi
- Ritus Budaya Padi, Spirit Kembali ke Bahan Alami
Sementara itu di Surabaya, Pembagian Parcel dari hasil sedekah sampah juga di Surabaya. Pemberian Parcel ini merupakan bentuk apresiasi kepada warga yang telah berpartisipasi dalam program "Sedekah Sampah" khusus warga RT 02 / RW 07, Kelurahan Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis, Kota Surabaya.
Unit Kelola Sampah Plastik membagikan 100 parcel kepada 100 pemberi manfaat yang selama ini menyedekahkan sampah plastik melalui Program Sedekah Sampah (PSS).
Ketua RT.02/RW.07, Andre Yulianto, S.E menjelaskan paket sembako dibagikan kepada seluruh warga RT yang ia pimpin. Melalui program sedekah sampah, lanjut Andre, kini di lingkungan RT 02 tak lagi terlihat sampah plastik yang tercecer atau di bakar sembarangan
Inisiator Program Sedekah Sampah, Kuswari, mengatakan Parcel ini khusus di berikan kepada warga RT.02/RW.07 yang secara partisipatif menaruh sampah plastik pada keranjang Keranjang Sedekah Sampah -sebuah kontruksi dari besi berbentuk kurungan- yang di gunakan untuk mengumpulkan sampah plastik (terutama botol plastik).
"Meski kita memakai istilah Sedekah, namun tidak serta merta sampah di angkut begitu saja, hasil penjualan plastik diumumkan secara terbuka dan 100% dialokasikan untuk kepentingan umat, seperti dalam bentuk parcel kali ini" ujar Kuswari
Fenomena pemberian Parcel saat Lebaran tentu, menjadi hal yang sangat di nanti banyak orang, namun jika pemilihan bahan paket tidak dilakukan dengan bijak maka berpotensi menimbulkan sampah baru.
Guna mengantisipasi hal itu, pihaknya tidak memberikan parcel dalam bentuk kaleng, namun memberikan wadah plastik reuseable, sehingga -kelak - tidak menjadi sampah baru. "Isi parcel yang dibagikan hanya berisi Beras, Mie instan dan telur, sehingga potensi sampahnya sangat minim" ujarnya.
Kedepan, lanjut Kuswari, parcel yang di berikan ke warga tentunya akan semakin merata seiring dengan tingkat partisipasi warga dalam mengelola lingkungan yang berkelanjutan.
"Dan kedepan tentunya di harapkan muncul inovasi baru dalam mewujudkan lingkungan di kampung Dukuh Kupang yang bersih dan asri" pungkasnya.
Editorial | Arah Perubahan



Posting Komentar