Sedekah Sampah, Mengurai Masalah Menjadi Berkah
Sore itu, di sebuah sudut kota Surabaya beberapa warga berkumpul, tampak dari kejauhan tumpukan karung - sepintas isinya botol plastik dan sebagian tergeletak di sudut gang.
Rasa penasaran saya pun muncul, dan memutuskan berjalan mendekat sembari mencoba mencari tahu, apa yang terjadi di balik khidmat kerumunan itu.
Syahdan, saya mendengar suara seorang pria sedang membahas rekapitulasi volume sampah yang terkumpul bulan ini.Beberapa menit berselang, akhirnya saya sadar di lokasi ini sedang ada kegiatan transaksi sampah plastik.
Bagi penulis, hal ini menjadi sebuah fenomena yang layak di apresiasi tatkala pemerintah sedang gencar menyatakan "perang" terhadap sampah, muncul sebuah "embrio" menuju arah perubahan yang nyata
Penasaran dengan kisah ini, yuk sruput dulu kopinya, dan mari kita buka rahasia "pemberdayaan" yang di lakukan warga, dan bagaimana manajemen sedekah yang dijalankan.
*******
Secara etimologi, kata sedekah berasal dari kata bahasa Arab "shadaqah" (صدقة), yang berakar dari kata "sidq" (صدق) atau shidq, yang berarti kebenaran, kejujuran, atau ketulusan.
Di benak khalayak umum, kata sedekah mungkin identik dengan pemberian materi, padahal secara terminologi, shadaqah -yang di artikan dalam pemberian- bukan hanya materi, tetapi juga dapat berupa senyuman, bantuan, bahkan sedekah sampah.
Lantas kenapa sedekah menjadi pilihan diksi sebuah aksi pemberdayaan. Pertanyaan ini di jawab oleh Kuswari, seorang pegiat Lingkungan yang menjadi inisiator gerakan sedekah sampah di RT 02 / RW 07, Kelurahan Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis, Kota Surabaya.
Sedekah sampah, lanjut Kuswari, berbeda dengan bank sampah yang telah berjalan. Itulah sebabnya, ia memilih istilah diatas untuk mengubah persepsi masalah sampah menjadi pemberian (serah terima) yang dilakukan dengan niat ikhlas. "Sampah plastik itu menjadi masalah, namun bisa di kelola dengan baik lewat partisipasi warga" ujarnya
Pria asal Jombang ini menambahkan sampah yang telah terkumpul tidak di konversi menjadi pahala, tidak juga di kembalikan menjadi uang, seperti pada bank sampah.
"Tugas kami hanya mencatat jumlah sampah yang disedekahkan, kalau mencatat pahala itu bukan tugas kami" ujar pria yang akrab di sapa cak kus ini sambil tersenyum.
Melalui Sedekah Sampah Dukuh Pakis ini, lanjut Kuswari , pihaknya juga mencatat keterlibatan wanita di RT 02 dengan proporsi pemberi manfaat sebanyak 52 %, 205 wanita dari total warga 391 orang di lingkungan tersebut.
Partisipasi ini, lanjut Kuswari, tidak serta merta terwujud dengan mudah, sebab di balik geliat warga yang rajin menaruh botol plastik di keranjang, ada perjuangan panjang ia dan warga setempat termasuk dukungan penuh Ketua RT.02/RW.07 Kel. Dukuh Kupang, Andre Yulianto, S.E.
Dalam pengelolaan Sedekah Sampah, maka dibuatkan satu tempat yang diberi nama UKSP (Unit Kelola Sampah Plastik) yang kelola oleh pengurus antara lain Kuswari, Eko Rahmadan, Harto, Basri, Santoso, dan Kusnadi
Perjalanan dimulai 23 Agustus 2025, saat itu cak Kus mendengar keluhan warga yang mulai resah dengan sampah. Ia mengambil inisiatif untuk menggalang dana guna pembuatan Keranjang Sedekah Sampah -sebuah kontruksi dari besi berbentuk kurungan- yang rencana di gunakan untuk mengumpulkan sampah plastik (terutama botol plastik).
"Ketika kontruksi selesai dibuat, langsung kita tempatkan di sudut gang agar mudah terlihat, sekaligus memudahkan warga untuk bersedekah" imbuhnya.
Seiring berjalannya waktu, tumpukan sampah plastik mulai memenuhi drop box (keranjang tempat pengumpulan sampah). Disinilah Arah Perubahan itu mulai nyata, dari hari ke hari semakin sering terlihat warga - bahkan anak dan remaja - ikut memasukkan sampah plastik ke keranjang.
Jika awalnya sampah plastik kerap menumpuk -menanti diangkut ke TPS-, maka kini di lingkungan RT 02 tak lagi terlihat sampah plastik yang tercecer atau di bakar sembarangan. Aksi kecil namun nyata di tingkat RT ini setidaknya membawa dampak bagi pengurangan pencemaran tanah, air, dan udara sehingga lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat.
BACA JUGA:
- Ritual Nyampah di Kali, Fatwa MUI Jadi Senjata Regulasi
- Ritus Budaya Padi, Spirit Kembali ke Bahan Alami
- Hutan Bambu Petung, Solusi Krisis Air di Desa Ngepung
- Ilusi Dana Iklim, Otak Atik Hutan Penyerap Emisi
Gerakan Sedekah Sampah sebenarnya bukanlah hal baru di Indonesia, sebab konsep Gerakan Sedekah Sampah (GSS) awalnya diinisiasi oleh Ananto Isworo (khususnya yang fenomenal di Kampung Brajan, Yogyakarta).
Dilansir laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ananto mengelola sampah melalui pendekatan spiritual-kultural untuk menyelesaikan masalah lingkungan.
Alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini menyebutkan bahwa tujuannya selama ini hanya untuk memberikan kebermanfaatan bagi lingkungan.
Selama lebih dari satu dekade lamanya, lelaki yang kerap di juluki Ustad Ananto itu bergerilya membina masyarakat, mulai dari lingkungannya di Kampung Brajan hingga akhirnya memiliki binaan ratusan masjid dan komunitas di seluruh Indonesia bahkan luar negeri.
****
Gerakan Sedekah Sampah yang makin aktif di berbagai daerah, tentu dapat menjadi solusi mengatasi krisis sampah plastik dengan pendekatan partisipatif dan inklusif untuk mewujudkan gerakan zero waste.
Gerakan ini sering menjadi rujukan dalam jurnal sosiologi dan manajemen lingkungan karena berhasil mengubah paradigma sampah dari "beban" menjadi "sarana ibadah".
Dalam kajian sosiologi lingkungan, gerakan ini memuat dua dimensi yakni Pertama, dimensi ekologi yang membentuk paradigma kolektif di masyarakat tentang kesadaran untuk mengurangi beban TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dan menangani masalah polusi di skala rumahan. Kedua, dimensi spiritual yang mengubah pandangan terhadap sampah dari "barang kotor/masalah" menjadi "sumber pahala/solusi".
Kendati mengambil istilah Sedekah, namun tidak serta merta sampah di angkut begitu saja, karena pada prakteknya, hasil penjualan plastik diumumkan secara terbuka dan 100% dialokasikan untuk kepentingan umat.
Akhir kata, Gerakan Sedekah Sampah merupakan implimentasi dari ungkapan populer bahwa "Kebersihan adalah sebagian dari iman". dan sebagai umat beragama selayaknya gerakan ini menjadi tema ceramah di mimbar khotbah Jum'at atau Pengajian, dan terus menyuarakan slogan Gerakan Sedekah Sampah "Sampahmu adalah hartamu yang tertunda, sedekahmu adalah investasi masa depanmu."
Editorial | Arah Perubahan
![]() |
| Unit Kelola Sampah Plastik Dukuh Pakis yang di bangun lewat Gerakan Sedekah Sampah |


Posting Komentar