Karya Perupa, Dari Seni Benda Jadi Seni Data
Sejak awal revolusi Industri banyak yang mengira arah perubahan manusia hanya akan berhenti pada elemen bentuk fisik bahkan di era ini sangat lekat dengan penguasaan tanah, alat produksi dan hal yang bersifat material. Dalam buku The Wealth of Nations (1776), karya Adam Smith menyampaikan gagasan invisible hand yang mendukung laissez-faire (ekonomi pasar bebas).
Kaum borjuis yang memiliki alat produksi dan memanfaatkan nilai surplus dari tenaga kerja buruh untuk mengakumulasi kekayaan, menciptakan ketimpangan yang mendalam. Disinililah gagasan pemerataan ekonomi bermula, mendobrak ide penguasaan kekayaan oleh segelintir orang, dan pada akhirnya nilai sebuah karya seni hanya dimiliki oleh kalangan elit seolah mengabaikan hak ekslusif sang pembuatnya
Seperti apa perubahan seni benda menjadi seni data, simak editorial kali ini, siapkan kopi dan kudapannya kita akan menjelajah lini masa perubahan karya seni menuju digital
***
Semua bermula ketika komputer di temukan, ini adalah era ketika semua materi visual di konversi menjadi bilangan biner. Penemuan modem membawa peradaban manusia menjadi bebas, tidak terjebak dalam ruang dan waktu. Bayangkan, butuh waktu sehari agar kita mengirimkan dokumen dari Surabaya ke Jakarta, namun berkat modem, dapat dilakukan dalam hitungan detik
Bahkan, saat Anda membaca artikel ini, sejatinya editor hanya memindahkan gagasan di kepala, lalu menuangkan dalam bentuk text pada notepad dan akhirnya buzz (terpublish). Tak butuh waktu lama bagi anda untuk membuka artikel ini, karena saat anda mengetikkan arahperubahan.com, maka mesin peramban langsung mengakses Internet protokol tempat server ini berada
Itulah Teknologi Digital, penemuan paling fenomenal yang mengubah peradaban manusia di muka bumi. Nah, sejenak kita kembali pada topik awal, tentang bagaimana karya berbentuk benda (tulisan pada kertas) bisa di ubah menjadi teks bit komputer, atau bahkan lukisan / desain yang kini beralih ke format digital berkat bantuan perangkat lunak
Sedikit mundur kebelakang, pada tahun 1826 ketika Joseph Nicéphore Niépce menggunakan kamera obscura dan lempengan timah berlapisan zat kimia. Foto pertama yang dihasilkan berjudul "View from the Window at Le Gras", yang memerlukan waktu pencahayaan (exposure) selama 8 jam.
Bahkan jauh sebelumnya, Ibnu Al-Haitham (965–1039 M), yang dikenal di Barat sebagai Alhazen, menemukan konsep dasar kamera pertama di dunia. Konsep kamera obscura (kamar gelap/al-bayt al-muzlim) melalui eksperimen cahaya dan optik, yang dijelaskan dalam bukunya yang terkenal, Kitab al-Manazir (Buku Optik).
Ya, jika perupa melukis di atas kanvas, maka fotografi berarti melukis cahaya. Di sinilah Arah Perubahan terjadi, transformasi seni lukis dari bentuk fisik ke digital merupakan revolusi medium yang mengubah cara kita menciptakan, menyebarkan, dan memiliki karya seni.
Pada perubahan medium dan alat, pelukis sangat bergantung pada materi organik/kimia (cat minyak, kanvas, pahatan batu, kuas). dan mari kita bandingkan dengan konsep digital, yang memungkinkan seniman memberikan kebebasan tanpa batas untuk berekspresi dalam karya.
Penggunaan media canvas pada platform digital memungkinkan seniman memanfaatkan fitur "Undo" dan "Layers" sehingga saat terjadi kesalahan dapat di perbaiki tanpa merusak tekstur fisik di kanvas. Pada kenyataannya, kini makin banyak seniman melukis di tablet digital sebagai sketsa, lalu memindahkannya ke kanvas fisik, dan melukisnya dengan cat minyak.
Hingga pada titik ini, seni rupa yang mengandalkan fisik tetap tidak akan tergantikan, namun perannya sedikit bergeser menyesuaikan kebutuhan pasar (kebutuhan promosi dan advertising) yang menuntut hasil karya cepat namun tetap menjaga kualitas.
*****
Lamijan seniman asal Nganjuk mengaku desain pada seni rupa mengalami arah perubahan dari wujud fisik menjadi digital. Namun, ia menampik bila bentuk karya fisik akan tergeser oleh digital. Sebab, manusia merupakan sosok wujud
"Dalam menikmati sebuah karya seni rupa pada kanvas, Kita bisa melihat tumpukan cat (impasto), retakan halus pada kanvas, dan arah sapuan kuas yang menciptakan kedalaman tiga dimensi, wujud fisik ini tentu tidak akan di temukan pada hasil karya digital" ujar Lamijan.
Hal senada di ungkapkan pegiat seni digital, Taqwa Putra Adiwijaya. Menurutnya gambar digital memudahkan manusia dalam berkarya, namun sebagai seniman desain ia menganggap media fisik masih sangat relevan, hal ini berkat dukungan digital printing yang terus memaksimalkan kualitas cetak bahkan bisa di lakukan di berbagai media, mulai kertas, kain, kaca, hingga batu.
"Tantangan kedepan, hanya pelaku seni rupa yang memiliki karakter dan dapat survive, selebihnya yang akan bertahan adalah beberapa pelaku yang mampu menjadi bagian dari proses kreatfi dalam mewujudkan karya seni sesuai kebutuhan industri" ujar seniman asal Ngawi Jawa Timur ini.
Era digital, lanjut Taqwa, juga membawa peluang bagi pelaku seni untuk meraih keuntungan, melalui kehadiran NFT (Non-Fungible Token) sosok pelaku seni dapat memiliki hak ekslusif atas karya yang ia buat. Sebut saja fenomena NFT, khususnya kasus Ghozali Everyday di Indonesia. Kendati kini masih menyisakan perdebatan besar antara inovasi teknologi dan manipulasi pasar, namun menurut pendiri Codot Art Creative Ngawi ini, dapat menjadi batu loncatan untuk melegetimasi sebuah karya
Jika dulu sebuah karya desain digital bisa dengan mudah di copy paste dan di pakai oleh banyak orang bahkan untuk keperluan komersial, kini melalui teknologi Blockchain dan NFT , memungkinkan karya digital memiliki "sertifikat keaslian" yang sah, sehingga nilai ekonomi seni digital bisa setara dengan lukisan fisik.
"Tren ini sangat positif, namun menjadi tidak menarik ketika muncul kasus Ghozali yang dianggap menjadi bahan gorengan oleh para pelaku seni digital" ujarnya
Apa yang menjadi kekhawatiran para seniman digital ini cukup beralasan, sebab paska ledakan tren NFT di tahun 2021-2022, pasar NFT kini terus mengalami penurunan volume lebih dari 90%. Hal ini terjadi karena dua hal, Pertama, marak seniman yang memanfaatkan NFT namun tidak sadar bahwa karyanya tidak punya nilai seni, sehingga harganya nol. Kedua, di saat yang sama, publik mulai menyadari bahwa membeli gambar hanya untuk "cepat kaya" adalah strategi yang sangat berisiko dan rentan manipulasi.
Hal ini berbeda dengan karya fisik, seperti hanya di sampaikan oleh Samuel Istiyono, pelaku Seni Asal Nganjuk yang melontarkan istilah kolek - dol, sebuah akronim yang merujuk pada perilaku kolektor yang memborong karya seni untuk di koleksi, dan selanjutnya di jual kembali dengan harga yang tinggi.
Akhir kata, Seni Rupa fisik takkan tergantikan oleh teknologi digital, lukisan di kanvas tetap bertahan sebagai warisan "kognitif" manusia purba (melukis dalam goa). Kehadiran algoritma data dalam proses membuat karya seni rupa, justru akan melengkapi dan memperkaya hasil imajinasi untuk menghasilkan sebuah mahakarya.
Maka, meminjam istilah reconnecting with the physical world, sebuah upaya manusia untuk kembali membumi akan terjadi ketika hidup kita sudah terlalu jenuh dengan layar (HP, laptop, VR), maka melihat dan memiliki benda fisik yang nyata akan menjadi sebuah bagian dari "kemewahan spiritual"
Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar