Hari Saraswati, Rekonstruksi Sejarah, Jernihkan Pikiran, Tata Masa Depan
Namun di tengah arus informasi yang liar, muncul kisah-kisah yang menyimpang—bahkan kontroversial—yang jika tidak diluruskan justru menyesatkan pemahaman generasi kini dan mendatang. Maka penting untuk menata ulang: mana sejarah yang benar, mana simbol yang harus dimaknai, dan mana kekeliruan yang perlu dikoreksi.
Hari Saraswati dirayakan setiap 210 hari sekali berdasarkan Kalender Pawukon, tepat pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Dalam tradisi Bali: Kitab suci seperti Weda dimuliakan, Buku dan lontar disucikan
Aktivitas belajar dihentikan sementara sebagai bentuk penghormatan, yang bisa di maknai sebagai penghormatan terhadap ilmu. Sebab, Ilmu bukan sekadar alat, melainkan sumber kesadaran yang harus dihormati.
Di hari Saraswati, saatnya kita kembali merenung sembari meluruskan kisah yang -selama ini- disalahpahami. Beredar cerita bahwa Saraswati dipaksa "menikah dengan anaknya sendiri yang menjadi raja”. Ini bukan bagian dari ajaran Hindu yang sahih, khususnya dalam tradisi Bali.
Akar kesalahpahaman ini kemungkinan berasal dari kisah tentang Brahma dalam beberapa Purana, yang menciptakan Saraswati sebagai manifestasi ilmu.
Dalam simbolisme tinggi. Brahma -representasi- dari kesadaran pencipta, dan Saraswati, berupa pengetahuan yang dilahirkan sebagai -buah- kesadaran
Dalam mitologi, dikisahkan Dewa Brahma menciptakan Saraswati dari pikirannya sendiri. Karena diciptakan oleh Brahma, secara teknis ia disebut "putri" Brahma.
Namun ketika simbol ini dipahami secara harfiah, muncullah tafsir keliru seolah-olah ada hubungan biologis yang tak pantas. Padahal dalam filsafat Hindu, penciptaan ini bersifat intelektual/spiritual, bukan biologis. Padahal hakikatnya: Ini bukan kisah manusia, melainkan bahasa simbol tentang asal-usul pengetahuan.
Tidak ada dalam Weda maupun lontar Bali yang menyebut Saraswati menikah dengan anaknya sendiri.
Hari Saraswati membawa pesan utama, sebuah ilmu harus digunakan untuk menaklukkan diri, bukan menguasai orang lain. Dalam Bhagavad Gita, ajaran Krishna menegaskan, Pikiran adalah sahabat terbaik sekaligus musuh terburuk manusia.”
Sedangkan Ego (ahamkara) dan nafsu (kama) sering menyusupi pikiran, yang membuat ilmu jadi alat kesombongan - menjadikan pengetahuan sebagai pembenaran kekuasaan - sekaligus menyesatkan arah hidup manusia
BACA JUGA :
- Lamongan di Bingkai Sejarah dan Politik Ingatan
- Karya Perupa, Dari Seni Benda Jadi Seni Data
- Lukisan Abstrak, Memaknai Arti Sebuah Imajinasi
Hari Saraswati menjadi pengingat umat manusia, Jika pikiran jernih, ilmu menjadi cahaya. Jika pikiran keruh, ilmu menjadi senjata. Hal ini dapat di lihat dari makna Simbolik Saraswati
Setiap unsur dalam ikon Saraswati mengandung ajaran: Vina yang memuat "harmoni rasa dan logika, Wujud Kitab sebagai sumber ilmu dan Angsa merupakan representasi dari kemampuan memilah benar dan salah
Pesan terdalam yang -bisa- kita terjemahkan sebagai filosofi :
"Kebijaksanaan bukan pada banyaknya ilmu, tetapi pada kejernihan dalam menggunakannya"
Ketika kita di hadapkan pada dunia yang serba pragmatis ini, kita bisa melihat fakta manusia yang di hadapkan pada sebuah Arah Perubahan. Manusia hidup dalam banjir informasi. banyak yang tahu, sedikit yang memahami banyak yang pintar, sedikit yang bijaksana "
Ilmu sering dipakai untuk manipulasi opini, memperkuat ego, hingga melanggengkan "status quo" kekuasaan
Di sinilah nilai Saraswati menjadi semakin penting, ilmu harus disucikan oleh kesadaran. Argumentasi ini menjadi bekal di masa mendatang, ketika Ilmu harus di jadikan "Jalan Pembebasan" .
Bahkan, jika generasi mendatang memahami Saraswati secara benar, maka ilmu akan menjadi alat pembebasan, bukan alat penindasan, apalagi alat kesombongan
Dalam Upanishad tersirat ajaran: "Dari pengetahuan menuju kebijaksanaan, dari kebijaksanaan menuju kebebasan.”
Meluruskan, Memaknai, Meluruskan sejarah bukan sekadar membantah cerita yang salah, tetapi menjaga kemurnian makna agar tidak hilang ditelan zaman.
Hari Saraswati mengajarkan tiga hal, Pertama, Meluruskan pemahaman dari tafsir yang keliru, Kedua, Menjernihkan pikiran dari ego dan nafsu dan Ketiga, Menggunakan ilmu untuk kebaikan dan pembebasan
Yang harus ditaklukkan bukan dunia, tetapi menaklukkan diri sendiri. Dan ilmu adalah jalan menuju kemenangan itu.
Penulis - Mashans Wengker



Posting Komentar