Preman Palak Wisatawan, Getok Harga Makanan hingga Pungutan
Pernahkah Anda tiba-tiba merasa kesal saat berada di tempat wisata. Ya, semacam bad mood bukan karena anak tiba tiba tantrum ngajak pulang, atau kena "prank" lokasi yang tak sesuai foto di medsos. Tapi, kesal kena palak oknum di ODTW (obyek destinasi wisata).
Fenomena pemalakan ini masih saja terjadi di sejumlah destinasi wisata, dalihnya pun beragam mulai dari pungutan parkir "katanya " sesuai aturan desa, atau mahalnya tiket masuk "ilegal" yang mengatasnamakan ormas setempat.
Apa yang sebenarnya terjadi di industri pariwisata kita, kenapa seolah kita masih di sibukkan dengan drama seperti diatas.
Agar lebih menjiwai peran para pemalak dan drama di balik layar, yuk siapkan kopi dan camilannya, karena kita akan menelusuri sisi gelap dari industri pariwisata di Indonesia
*****
Bayangkan Anda sedang berlibur bersama keluarga, menikmati kuliner di pinggir jalan (pedestrian street food) di Rue Mouffetard, Paris, Prancis. Duduk santai sembari menanti hidangan Ratatouille - di temani live perform Luke Silva yang membawakan lagu cover "Someone you loved".
Syahdan, sejam kemudian Anda memanggil waitress untuk meminta bill makanan yang Anda santap bersama 3 orang keluarga. Pada print out tertera tagihan USD 150. Mahal ? Tidak, sebab masih worthed dengan rasa maupun lokasi dan atraksi yang di suguhkan.
Kondisi diatas kontras dengan kejadian unggahan viral beberapa waktu lalu. Semua bermula dari keluhan wisatawan mengenai harga makanan yang dinilai mahal di Malioboro, seperti tiga porsi gudeg seharga Rp. 85 ribu.
Harga itu bagi sebagian orang dianggap mahal dan wajar sebab lokasinya berada di tempat wisata. namun belajar dari kasus ini, akhirnya ramai netizen buka suara tentang kejadian yang lebih menyedikan.
Menyikapi fenomena ini, Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta, Fitria Dyah Anggraini, seperti dilansir Jogjainfo menilai harga tersebut sebenarnya masuk akal.
Ia menyoroti bahwa akar masalahnya sering kali bukan pada nominal harga, melainkan pada ekspektasi wisatawan yang tidak selaras dengan lokasi wisata.
"Kayaknya itu normal nggak sih. Tapi ya memang mungkin beda-beda ya. Kalau dia ke gudeg yang terkenal kan bisa lebih syok lagi tuh harganya,” paparnya.
Branding Yogyakarta sebagai kota ramah kantong, menurut Fitria justru menjadi bumerang ketika wisatawan mendapati harga yang berlaku di pusat keramaian.
*******
Lantas apa yang sebenarnya terjadi, mari kita urai satu persatu. Kita mulai dari kalimat Getok Harga, sebuah istilah merujuk pada tindakan terhadap wisatawan yang dipaksa membayar harga yang jauh di atas kewajaran atau harga pasar.
Perilaku Getok Harga diatas justru melibatkan pelaku wisata dan merambah banyak sektor turunan di ODTW, mulai dari makanan, parkir dan jasa.
Berkaca dari kasus diatas, mari kita selami sisi gelap dan modus yang dijalankan. Faktanya, pedagang bermental "preman" ini memalak wisatawan yang kurang jeli. Mari kita perhatikan, jika ada menu makanan yang "sengaja:" tidak mencantumkan harga, maka bisa jadi indikasi getok harga.
Modus lain juga terjadi pada sewa jasa (seperti kuda atau pemandu) yang mematok harga selangit, akibat kita tidak menyepakati harga sejak awal. Celakanya, pelaku Jasa yang memang "tidak mencantumkan" harga, jadi modal terselubung untuk mematok wisatawan
Dalam industri pawisata, fenomena ini disebut sebagai tourist trap, yakni upaya sistematis untuk mengeksploitasi wisatawan secara finansial, padahal layanan yang diberikan berkualitas rendah
Jebakan lain oleh "oknum' pramuwisata memaksa wisatawan melintasi rute tertentu, agar mereka membayar "sumbangan" atau biaya tambahan yang tidak resmi.
Menanggapi fenomena ini, Ketua Umum Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi) Andi Yuwono mengatakan hal ini sangat tidak di toleransi, sebab akan merusak citra pariwisata Indonesia yang kental dengan keramahan dan pelayanan sepenuh hati" ujarnya
Ia menambahan pemalakan dan segala bentuk usaha yg merugikan wisatawan harus di tindak tegas.
Pemerintah harus bisa hadir dalam setiap proses kepariwisataan di Indonesia secara utuh, misalnya membentuk Satber Pungli "Jangan hanya mau hasil nya aja tapi pendampingan di bawah kurang" tegasnya
*******
Maraknya pungli di tempat wisata justru menciptakan suasana intimidatif yang membuat pengunjung merasa tidak aman. Sebab, kehadiran Wisatawan di obyek wisata tentu mencari ketenangan. Sehingga, saat mereka tidak nyaman dan merasa terusik, maka alih alih berharap mereka kembali, justru kampanye "hitam" Getok Tular yang berisi rekomendasi kepada orang lain agar tidak berkunjung.
Akhir kata, pariwisata menganut 3 prinsip dasar yakni Unique, Iconic dan Memorable. Dan, kalimat terakhir yang berarti "kenangan" ini bak pengingat sekaligus merupakan pondasi utama obyek wisata guna menjaga okupansi agar tetap sehat
Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar