Hilir Mudik, Refleksi Spirit Sangkan Paran

Hilir Mudik, Refleksi Spirit Sangkan Paran

Daftar Isi

Mudik, sebuah istilah yang sering kita dengar menjelang lebaran (idul fitri atau Idul Adha). Tradisi yang selalu lekat dengan migrasi (perpindahan massal) dari kota menuju desa dalam jumlah jutaan. Bahkan, Kemenhub mencatat sebanyak 143,9 juta orang di perkirakan menjalani mudik di 2026 tahun ini

Sebuah angka yang fantastis, artinya hampir separuh populasi penduduk Indonesia melakukan pergerakan di H - 7 hingga H +1 pada Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah ini.  

Sebenarnya, fenomena apa yang sedang terjadi saat mudik ? apakah ada motivasi lain selain merindukan kampung halaman dan -bahkan- lebih dalam lagi tentang Spirit Sangkan Paran! 

Untuk lebih jelasnya, simak ulasan berikut ini, jangan lupa siapkan kopi tanpa gula karena kita akan menjelajahi semangat apa yang mendorong manusia untuk melakukan mudik. 

******

Mudik, secara dari sisi etimologi (asal-usul kata), berasal dari kata dasar dalam bahasa Melayu, yaitu udik.

Udik yang berarti hulu, pedalaman, atau selatan (daerah yang letaknya di bagian atas sungai), dengan menambahkan awalan prefix huruf M menjadi Mudik, maka bermakna "menuju ke". 

Jadi, secara harfiah mudik berarti "menuju ke udik" atau "pergi ke hulu sungai". Itulah sebabnya kita kerap mendengar istilah Hilir Mudik, yang berarti orang dari Hilir kembali ke Hulu

Dalam kosakata Jawa, yang kerap di kenal istilah otak atik gathuk, kata ini konon berasal dari Mulih Dilik (pulang sebentar). Meski tak jelas siapa yang memberi makna "mudik" namun, kita tak perlu berdebat membahas kalimat ini 

Dalam perkembangannya, Tradisi Mudik tak hanya terjadi di Indonesia atau rumpun melayu. Pada beberapa negara, tradisi serupa juga dilakukan kendati waktu dan momennya berbeda tak harus Idul Fitri. Di Tiongkok mengenal tradisi Chunyun, yang di diklaim merupakan tradisi migrasi manusia tahunan terbesar di dunia. 

Bayangkan, penduduk China yang kini mencapai 2 Miliar, dan memiliki saudara yang ber- diaspora ke berbagai penjuru dunia. Mereka, lantas pulang  -saat Imlek- ke daratan China demi berkumpul dengan keluarga.

Di belahan benua lain, yakni Amerika, pekan Thanksgiving merupakan satu minggu tersibuk di Amerika, di mana warga lintas negara bagian pulang untuk makan malam bersama keluarga. 

Pada hari Kamis keempat Bulan November, Dom Toretto, Brian, Mia, Roman, Tej dan Letty makan malam keluarga (kalkun, pai labu), berkumpul bersama merayakan Thanksgiving. Ya, narasi diatas hanyalah cuplikan Film Fast & Furious, tapi itu bukan adegan khayal, melainkan kisah nyata tradisi mudik ala Amerika 

Di Indonesia, mudik erat dikaitkan dengan pola sosiologis masyarakat Pulau Jawa, dan akarnya merasuk ke seluruh Nusantara hal ini akibat pola urbanisasi masif yang terjadi di Jakarta, yang di dominasi oleh Suku Jawa. Padahal, jika kita perhatikan, suku lain juga melakukan hal yang serupa misalnya Tradisi Pulang Basamo yang dilakukan Suku Minangkabau. 

Sementara itu, Suku Batak juga menjaga tradisi pulang kampung untuk upacara adat atau sekadar menjalin silaturahmi, meskipun tidak selalu terpusat di hari keagamaan (natal dan idul fitri) 

*****

Di kehidupan makhluk hidup lain, tradisi kembali ke kampung halaman (tempat kelahiran) juga dilakukan oleh Salmon dan Penyu. Kedua hewan ini melakukan "mudik" ke tanah kelahiran didorong oleh kode genetik. 

Seekor Salmon tak "pernah niat" pulang - demi menjenguk orang tua maupun keluarga, atau bahkan tak ada niat pamer kesuksesan ke teman kampung, lalu -enggan- tidur di rumah orang tua hanya karena lantai dari tanah.

Jika Salmon dan Penyu pulang demi menjalani proses reproduksi & keberlangsungan spesies, maka Sapiens rela melakukan perjalanan pulang demi validasi sosial & identitas psikologis. 

DNA Penyu memerintahkan sistem navigasinya untuk kembali ke pantai -sebut saja pantai Pelang di Trenggalek- meski ia telah menjelajah Samudra Pasifik, dan ia tetap kembali pulang untuk menetas demi kelangsungan reproduksi. Ini adalah perilaku biologis murni untuk bertahan hidup. 

Sementara itu, perilaku mudik yang dilakukan Sapiens,  -sedikit di kupas - dalam buku Sapiens karya Yuval Noah Harari di jelaskan sebagai pemenuhan kebutuhan dalam tatanan imajininer. 

Melihat fenomena mudik, Harari - mungkin- hendak berkata bahwa ini adalah bukti betapa kuatnya kekuatan fiksi (budaya dan agama) dalam menggerakkan fisik manusia. Namun, bagi penganut tradisi spiritual Jawa, mudik mengusung spirit kembali pulang. 

Saat mudik, kita mungkin menderita di kemacetan, rela berdesakan di jalanan, tapi bukan demi dorongan reproduksi seperti hal Penyu dan Salmon yang acapkali kehilangan navigasi karena anomali medan magnet atau tersesat karena pergeseran kimiawi air laut akibat pencemaran.  

Ya, Manusia rela menempuh jalan pulang demi memenuhi kebutuhan emosional yang di percayai sejak ribuan tahun, yakni Spirit Sangkan Paran. Simbol spiritualitas ini mengajak kita untuk merenungkan asal muasal dan tujuan akhir kita sebagai manusia sehingga bermakna jika nilai-nilainya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Rumah dalam perspektif Manusia, menurut Harari, bukan sekadar koordinat geografis untuk bertelur atau awal mula berkembang biak, melainkan simbol identitas, struktur keluarga, dan tatanan sosial yang di ciptakan dan diyakini dalam pikiran manusia

Home isnt House, mengutip lirik lagu Home karya Michael Buble yang mendefinisikan home sebagai tempat yang selalu ia rindukan dan bisa diartikan sebuah hati untuk berlabuh.

**********

Di tengah disrupsi teknologi dan era "pencitraan" di media sosial ini, kita kerap melupakan makna hidup sebagai manusia. Hal ini terdengar naif, sebab pencapaian manusia saat ini diukur dengan materi sedangkan spirit sangkan paran adalah menguji kembali keberadaan kita dan kebermafaatan hidup - knowing the purpose of life - yang kita jalani hari ini dan esok hingga kita -benar benar- kembali pulang.  

Dalam jurnal Hakikat Tuhan: Kajian Pemikiran Islam dalam Falsafah Jawa. ( Firdausy, Syarifah 2017) menyebutkan konsep sangkan paran dalam tradisi Jawa mempunyai tujuan untuk mengupas kembali sebuah permulaan dan akhir dari penciptaan. 

Jika hari ini, kita sedang dalam perjalanan menuju akhir itu, maka patut rasanya kita bertanya -terlebih dahulu- dari mana kita berasal? Dan, ketika memaknai perjalanan pulang (mudik) demi validasi sosial bukankah akan membuat kita semakin tersasar (hilang arah)

Akhir kata, mudah-mudahan mudik lebaran tahun ini, kita tidak sedang kesasar menuju Arah Perubahan yang pragmatis, melainkan mengisi kembali lubuk hati kita yang paling dalam, tentang makna mana (sangkan) dan akan ke mana (paran) dan mengamalkan serta mengisi hidup berdasarkan jati diri kita (dumadi). Untuk apa kita di ciptakan di Dunia ini.

Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar

Flag Counter