Pedagogi Anak, Jauhkan Gadget Ajak Paralel Talk
Pernahkah Anda melihat ada anak usia 3 tahun tapi tak bisa berbicara? bahkan untuk mengucap satu kata / kalimat yang memiliki makna saja tidak mampu.
Pada fase ini, Anak kesulitan menyampaikan pikiran, memahami instruksi, atau mengucapkan kata-kata secara jelas. Jika itu adalah anak tetangga, saudara atau bahkan Anak anda sendiri maka si balita itu mengalami speech delay.
Ini adalah kondisi ketika kemampuan bicara dan bahasa berada di fase lebih lambat dibanding anak sebaya. Bagi masyarakat tradisional dengan pemikiran puritan, kerap menganggap hal ini wajar, karena di benak orang tua muncul dogma tentang fase tumbuh kembang yang lazim. Padahal, masalah ini bukan sekadar ketidakinginan berbicara, sebab di balik itu ada hal yang mengancam masa depan sang anak.
Diagnosa awal Speech Delay dapat di amati saat Anak tidak bisa memahami kalimat perintah, teguran, atau himbauan dari orang tua.
Pola pendidikan orang tua memberikan sumbangsih besar dalam tumbuh kembang anak. Para psikolog menganalogikan Balita seperti selembar kertas putih yang siap di torehkan tinta bernama pendidikan.
Jika orang tua, terutama sosok Ibu malah abai menjalankan peran pembentukan kognitif anak, maka besar kemungkinan anak akan kehilangan kemampuan untuk berbicara.
Faktor paling berpengaruh yaitu lingkungan yang tidak paham akan pentingnya bahasa pada perkembangan anak (Muhaditsah et al., 2023). Kata lingkungan disini bisa di artikan komunikasi antar kedua orang tua dan anak.
Faktor ekonomi keluarga (kesibukan kedua orang tua), keterbatasan informasi (pendidikan orang tua yang rendah) juga menjadi alasan pola asuh komunikasi yang tidak efektif.
******
Dalam beberapa kasus Speech Delay, banyak di sebabkan oleh kesalahan pola asuh dari orang tua yang memberikan ponsel pada Anak sejak usia dini. Alasan klasik, seperti agar anak tidak rewel saat di tinggal menangani pekerjaan rumah bahkan berjualan (bagi ibu wirausaha), malah memberikan kesempatan anak menjadi sosok pecandu gadget.
Menatap layar gadget dengan durasi lama, dan suguhan konten yang acak -baik itu suara maupun visual- membuat otak anak gagal memproses informasi.
Dr Catherine Birken, seorang peneliti dari Universitas Toronto melakukan riset terhadap hampir 900 anak, dalam studi tersebut di temukan fakta bahwa sebanyak 20 persen anak menghabiskan rata-rata 28 menit sehari menggunakan layar.
Pada setiap peningkatan screen time harian selama 20 menit dikaitkan dengan peningkatan risiko sebanyak 49 persen dari apa yang para peneliti sebut sebagai penundaan bicara ekspresif, yaitu kemampuan yang menggunakan suara dan kata.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut Riset Birken ini sudah cukup untuk menyimpulkan pengaruh signifikan terkait penggunaan gadget dan perkembangan kemampuan bicara pada bayi, serta mendukung rekomendasi pengurangan penggunaan gadget pada bayi.
Rekomendasi yang digunakan saat ini adalah anak-anak di bawah 18 bulan tidak boleh diberikan gadget sama sekali, selain untuk mengobrol melalui video dengan keluarga.
*****
Merujuk pada makin maraknya kasus speech delay, para peneliti menilai perlunya strategi pedagogi untuk penanganan keterlambatan bicara. Istilah Pedagogi berasal dari kata paedagogeo (pais = anak, agogo = memimpin), secara harfiah berarti "memimpin anak" Pada pendekatan ini, Anak di bukan diajari berbicara, melainkan menciptakan lingkungan yang kaya bahasa.
Strategi Self-Talk & Parallel Talk dapat di terapkan dengan menceritakan apa yang sedang kita lakukan, misalnya ibu sedang memasak ya, ayo adek mainan mobil aja (lakukan sambil menyerahkan mobil dan ikutlah bermain sebentar) Hal Ini membantu anak memahami pemetaan kognitif objek/aksi.
Berikutnya teknik ekspansi: Jika anak mengucap "Mobil" maka balas dengan "Ya, mobil yang biru." Tambahkan satu atau dua kata dari apa yang dia ucapkan, bisa warna atau ukuran sebagai pembeda.
Sedangkan untuk lebih memperkuat kosakata, peneliti menyarankan penggunaan narasi yang berulang, misalnya ajak anak untuk menyanyikan sebuah lagu, atau buku cerita yang sama berulang kali. Repitisi (pengulangan) adalah cara otak anak belajar pola bahasa.
Berbagai cara pedagogi diatas, mungkin hanyalah metode yang bisa dengan mudah di jalankan bila Anda telah diagnosis mengalami speech delay akibat kebanyakan main Gadget (*)
Editorial | Arah Perubahan
*******
Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara Anak sesuai Usia Berdasarkan jurnal dr. John Hartono, Sp.KFR, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Panti Rapih Yogyakarta
0-2 bulan | Bayi merespon dengan menangis
2-3 bulan | Bayi mulai membuat suara seperti aaah, uuu , eee, ooo (cooing)
3-6 bulan | Bayi mulai babbling, mulai menggunakan suku kata tunggal yang diulang, misal papapapapap, dadadadadada, mamamamamama
6-9 bulan | Mulai muncul mama, papa, meski kadang tanpa arti, mulai memahami konsep sederhana seperti ya/tidak, habis
9-12 bulan | Panggilan lebih spesifik untuk orangtua atau yang caregiver utamanya,merespon panggilan namanya, serta mulai memahami perintah sederhana, serta mulai menggunakan isyarat (gerakan tangan) untuk meminta sesuatu. Bayi mulai membeo, menirukan kata-kata yang familiar
12-18 bulan | Mulai membentuk kalimat 2 kata, memahami anggota tubuhnya, dapat menggeleng atau menganggukan kepala, melambaikan tangan, suara yang ditirukan menjadi lebih akurat, serta semakin mampu menyampaikan keinginannya dengan kata-kata.
18-24 bulan | Saat usia emas pertumbuhan ini, penambahan kosakata sangat pesat , berbicara dengan kalimat 2 kata dengan jelas, 50% bicaranya dapat dipahami, dan dapat mengikuti perintah 2 langkah, serta anak senang mendengarkan cerita
2-3 tahun | Semua kata-kata anak jelas dan dimengerti, serta mulai membuat kalimat tanya, mengenali benda-benda dan fungsinya, mengenal warna dan senang dengan nyanyian
3-4 tahun | Mulai bercerita, bernyanyi, mulai membentuk kalimat 3-5 kata
4-5 tahun | Memahami konsep arah (atas, belakang, kanan, kiri), memahami konsep lawan kata, mampu diarahkan untuk tugas terstruktur setidaknya 30 menit
**********
Tanda-Tanda Deteksi Awal Adanya Gangguan Keterlambatan Bicara pada Anak bagi Orang Tua
Usia 0-6 bulan
- Respon terhadap stimulus suara yang kurang (pertimbangkan gangguan pendengaran pada anak)
- Tidak munculnya cooing, babbling serta terbatasnya suara konsonan anak
- Anak kurang mampu menirukan bunyi atau suara dan selalu bergantung dengan perintah
Usia 6-12 bulan
- Kurangnya gestur interaksi
- Kurangnya atensi anak
- Tidak merespon panggilan nama
- Tidak memahami perintah sederhana
Usia 1-2 tahun
- Perkembangan kosakata yang minim
- Tidak terbentuk kalimat 2 kata
- Tidak mampu menunjuk atau menyebutkan anggota tubuhnya

Posting Komentar