Investasi Asing di Sektor Pengolahan Bahan Mentah Meningkat USD 8 Miliar
Sektor Sekunder (Industri Pengolahan) merupakan penyumbang investasi terbesar secara konsisten, dengan total di atas 8 miliar USD pada puncaknya di tahun 2025. Di dalam sektor ini, Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya menjadi kontributor utama dengan nilai stabil di kisaran 3,5 - 3,6 miliar USD per triwulan.
Berdasarkan Data Penanaman Modal Asing (PMA) dari portal Satu Data Kemendag (data tahun berjalan hingga Triwulan III), kebijakan hilirisasi industri masih menjadi daya tarik utama bagi investor asing. Pertanyaannya, kenapa pengusaha domestik enggan masuk di sektor ini ? Jawabannya, Industri pengolahan bersifat Capital Intensive (padat modal). Pengusaha harus menginvestasikan dana besar di awal untuk mesin, lahan, dan infrastruktur.
ROI (Return on Investment) Lambat: Berbeda dengan sektor perdagangan atau properti yang perputaran uangnya cepat, industri pengolahan membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk mencapai titik impas (break even point). Di sisi lain, Suku bunga pinjaman modal usaha di Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan negara tetangga, sehingga beban cicilan alat produksi sering kali mencekik margin keuntungan.
Proyek Manufaktur Pengolahan sangat sensitif terhadap biaya tenaga kerja. Munculnya isu kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang fluktuatif setiap tahun tanpa dibarengi peningkatan produktivitas yang signifikan membuat pengusaha domestik khawatir akan daya saing harga produk mereka.
Melihat dinamika dari Triwulan I ke Triwulan III, beberapa sektor menunjukkan tren peningkatan yang signifikan antara lain Industri Kimia dan Farmasi mengalami lonjakan tajam pada Triwulan III mencapai 1.070,7 juta USD (naik dari 650,5 juta USD di TW II). Ini mengindikasikan ekspansi besar di bidang manufaktur bahan kimia dan kesehatan.
Sedangkan Industri Makanan mengalami pertumbuhan dari 522,8 juta USD (TW II) menjadi 677,4 juta USD (TW III), menunjukkan ketahanan dan potensi besar di sektor konsumsi. Di saat yang sama Industri Mineral Non Logam mencatatkan pertumbuhan persentase yang cukup tinggi pada TW III (279,3 juta USD) dibanding triwulan sebelumnya.
Dilihat dari asal negara, investasi didominasi oleh wilayah Asia, dengan Singapura, Hongkong (RRT), dan Tiongkok sebagai investor terbesar. Hal ini memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis utama bagi negara-negara di kawasan Asia Timur dan Tenggara.
Kesimpulan Peluang, sektor yang paling berpeluang tumbuh pesat dalam jangka pendek hingga menengah adalah Hilirisasi Industri (Logam Dasar) tetap menjadi tulang punggung investasi karena dukungan kebijakan pemerintah. Sektor Industri Kimia & Farmasi pun memiliki momentum pertumbuhan yang sangat kuat secara kuartalan.
Sementara itu, Logistik & Telekomunikasi berpeluang tumbuh seiring peningkatan infrastruktur dan kebutuhan distribusi barang. Dan yang terakhir, Industri Makanan terus ekspansif mengikuti pertumbuhan jumlah penduduk dan konsumsi domestik. (*)
Sumber : Kemendag

Posting Komentar