Hening dalam Kegaduhan Publik

Daftar Isi

Hening, ia masih muda, lulusan S2 Ilmu Komunikasi di salah satu kampus Surabaya. Kesehariannya bekerja dalam keheningan, tidak nampak namun nyata dalam karya. 

Ia menjadi sosok pseudo, di belakang layar dan mencoba menjadi orang lain saat berinteraksi, ia berkarya dalam narasi, membangun opini dan mengusung spirit optimis membangun Surabaya

Jika boleh jujur, bagi saya, sosok hening adalah mimpi dari ribuan sarjana Komunikasi. Dia begitu beruntung bekerja dalam circle kekuasaan, ya kendati hanya menjadi Admin Medsos Walikota.  

Namun, kegaduhan kini muncul, seolah menjadi pengingat para penggiat media sosial - apalagi yg kini kian marak adalah #FBPro- yang bekerja di balik layar, memuja #algoritma dan berharap menjadi kaya dari konten.

Kembali dalam Keheningan, kami mencoba menaruh empati pada sosok gadis muda kelahiran 1995 ini. Kesalahannya mematikan ponsel saat live, membuatnya tergelincir dalam pusaran arus opini yang menyeret nama Walikota. Bagi sebagian netizen ini seolah info menarik, sebab publik akhirnya tahu, bagaimana sebuah konten dibuat. 

Di balik dapur konten akhirnya terungkap "Hening" berbicara tentang stock shoot video yang rencananya ia jadikan footage untuk konten mendatang. Sampai disini, tidak ada yang salah! hingga kata2 epok-epok muncul dalam live. 

Sontak netizen bereaksi, bak mendapatkan bahan gorengan, tangkapan layar live di bagikan dan di bumbui kata2 pedas yang pastinya membuat telinga Walikota Surabaya panas

*******

Keheningan itupun pecah! Narasi "Drama konten / Epok - Epok" Medsos Walikota Surabaya menyeruak ke publik, mengingatkan kita pada Teori Dramaturgi yang dicetuskan oleh sosiolog Erving Goffman (1959) dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life. 

Goffman menilai interaksi sosial sebagai sebuah pertunjukan drama, di mana individu adalah aktor yang berusaha mengelola kesan (impression management) di hadapan Netizen (audiens). 

Sosok Hening sebagai Pseudonim tentu jadi sasaran persekusi di medsos, padahal justru sebaliknya!  Pemilik akun asli yang malah di hadapkan dalam dua hal yakni Authenticity vs. Performance! 

Ya (sisi otentik ) dari sosok Walikota yang kini di pertanyakan, sebab publik menganggap aktifitas yang sengaja dikelola dan disajikan kepada audiens (linimassa),  merupakan peran, sikap, dan penampilan yang disesuaikan dengan norma sosial dan tujuan yang ingin dicapai, (performa) 

Di media sosial, pertarungan antara Authenticity dan Performance sangat jelas. Netizen sering menuntut "keotentikan" dari pembuat konten (pemilik Akun), namun pada saat yang sama, mereka hanya ingin melihat pertunjukan yang menarik dan sempurna. 

Inilah seni berkomunikasi, ketika tantangan di panggung media sosial hari ini adalah mencari keseimbangan di mana individu dapat mengelola kesan (Performance) sambil tetap mempertahankan inti dari "diri sejati" mereka (Authenticity). 

Dan tak bisa di pungkiri, pertunjukan paling menarik di medsos hari ini adalah sang koboi 

*****

Ketika gaduh frasa "epok epok" muncul, Sosiolog Prancis, Roland Barthes pernah memprediksinya dalam esai "author is dead", sebuah frasa yang mengacu pada teori sastra "bahwa niat pembuat konten (penulis) tak lagi relevan dengan makna teks. "

"Kematian Pembuat Konten".  ini diperkenalkan oleh Roland Barthes dalam esainya tahun 1967, merujuk "penafsiran bebas" pemirsa (netizen) berdasarkan pengalaman mereka sendiri, dengan makna teks ditentukan oleh netizen.

Sampai disini paham khan? Jika konten adalah Raja, maka Netizen adalah Pisau Kebenaran yang siap mengiris logika konten yang kita buat! 

Kini, semua konten dan konteks yang telah di buat dalam keheningan itu, seolah runtuh. Ya, logika itu bak sebuah bangunan, Konten yang sebelumnya dibuat dgn tujuan terlihat "merakyat", dan di bangun dengan narasi "keberpihakan" serta di bingkai dalam "kepedulian" akhirnya runtuh. 

Masih dalam keheningan yang telah berlalu, muncul tanya besar, : "oh jadi selama ini, cuma epok-epok?" 

Sambil sruput kopi, mari kita nantikan panggung drama berjudul "Surabaya Authenticity" (*) 

Editorial |  Arah Perubahan

Posting Komentar