SEAbling vs Knetz : Popularitas Hallyu Kian Layu

SEAbling vs Knetz : Popularitas Hallyu Kian Layu

Daftar Isi

Fandom, istilah ini mulai marak di bicarakan di dunia maya, sebuah frasa yang merujuk pada singkatan dari fan kingdom, yang berarti kerajaan penggemar atau kumpulan fans. Pada jurnal Cultural Cartography: How Buzzfeed organises their content, kata Fandom menempati posisi ke tiga buble warna ungu, yang menandakan bahwa sebuah konten akan semakin viral bila dilekatkan pada isu kesamaan hobi atau kegemaran 

Sebelum jauh membahas tentang fandom (tren kpop) dan intervensi sebuah negara, mari kita simak terlebih dahulu perseteruan antara Knetz dan SEAbling yang menjadi trending topik paling panas dalam 1 dasawarsa terakhir. Simak kopinya, dan camilan, karena kita akan memasuki sisi kelam penjajahan budaya yang paling epik abad ini

Kita mulai dari era 90 an tepatnya 11 April 1992, saat dimana K-Pop modern lahir. Kemunculan Grup Seo Taiji and Boys yang tampil di acara bakat televisi MBC dengan lagu "Nan Arayo (I Know)", di percaya sebagai tonggak sejarah yang mengubah budaya pop korea dan mendunia seperti kita saksikan saat ini 

Istilah "K-Pop" lantas meledak mengikuti tren drama Korea dan musik mereka di luar negeri, hingga di tahun 1999 muncul istilah Hallyu pertama kali dicetuskan oleh jurnalis di Beijing, Tiongkok,  untuk menyebut popularitas budaya Korea yang menyapu Asia Timur.

Ya, Anda tak salah dengar .. Asia Timur mulai keranjingan musik pop dan budaya ala Korea yang identik dengan vokalis bermuka putih pucat, dengan model pria yang sedikit melambai (feminism) , Mereka tampik mendobrak "Toxic Masculinity" melalui Estetika di atas panggung. Sebut saja nama-nama vokalis pria K-Pop (seperti Jimin BTS, Taemin SHINee, atau Hyunjin Stray Kids) sering menggunakan pakaian yang dianggap feminin (rok, renda, kuteks, atau crop top).

Disinilah sisi gelapnya, sebab merusak paradigma maskulinitas dengan cara membentuk visual (tampilan) feminisme yang bertujuan meruntuhkan batasan gender dalam seni. Kendati banyak pihak menyebut inilah cara agar maskulinitas tidak harus kaku, namun pesan yang di kirim kepublik kira begini " pria tidak berarti harus dominan atau kasar, tetapi bisa juga lembut dan rapuh." 

Hingga pada titik ini, kita semua bisa paham khan dan bisa di tebak kemana arah perubahan itu berlabuh! 

******

Popularitas Kpop yang kita lihat seperti saat ini bukanlah fenomena instan, sebab ada bangunan kokoh bernama panggung dunia Kpop yang di biayai oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata (MCST). Sejak kementerian ini di bentuk 29 Februari 2008, alokasi anggaran untuk "Hallyu" di tingkatkan. 

Terakhir, di tahun 2024, anggaran MCST mencapai hampir 7 triliun Won (sekitar Rp82 triliun). Sedangkan di tahun 2025, anggarannya naik lagi menjadi 7,067 triliun Won (sekitar Rp83 triliun).

Pemerintah Korea membentuk dana kebijakan konten sebesar 730 miliar Won (sekitar Rp8,6 triliun) khusus untuk memperkuat daya saing "K-Contents" (musik, film, drama) di pasar global. Nah, disinilah point menariknya. Pembentukan fans Kpop dibentuk sedemikian rupa dengan membuat desain awal peta jalan Kartografi Budaya (cultural cartography

K-Pop membuat sistem audisi guna memastikan setiap member memiliki kemampuan vokal, dance, dan visual di atas rata-rata sebelum debut. Videonya juga di buat dengan standar sinematografi serta nilai estetika tinggi, agar nyaman ditonton berulang kali (re-watchable). 

Keterlibatan Fans juga di galang melalui partisipasi streaming party, voting, hingga proyek amal yang di dalamnya seolah - olah di buat agar Fandom merasa memiliki "andil" dalam kesuksesan sang idola. 

Proyek besar ini tentu takkan jalan di tingkat domestik (korsel) melainkan melibatkan peran stasiun TV di Indonesia, Iklan di platfom video streaming, hingga media sosial. Tujuannya hanya satu, menduniakan budaya korea ke kancah dunia. 

Keberhasilan Korea Selatan memodifikasi budaya sebagai "senjata ekonomi" (Soft Power) membuktikan bahwa komoditas seni yang kerap dianggap "intangile" dapat sukses bila dikelola dengan anggaran negara yang serius dan manajemen yang profesional. Ya, tentu sebuah kondisi 180 derajat dengan negeri kita, yang kerap telat / gagap perubahan tatkala budaya kita di klaim orang lain

Sebut saja Reog, yang di klaim malaysia dan membuat netizen +62 marah, padahal -mengutip statemen Sujiwo Tejo,- ketika Reog belum di klaim malaysia, kesenian ini seolah di lupakan oleh netizen. Last but not least, reog kian tersisih, bahkan di sejumlah daerah, ia hanyalah hiburan acara hajatan pernikahan yang kini makin sepi mendapatkan job manggung. CMIIW. 

******

Era Kejayaan Kpop mungkin telah menjadi tren setter gen Y dan Gen Z di Indonesia, namun di saat yang sama Nasionalisme tidak serta merta sirna. Disinilah menariknya Netizen Indonesia. Ketika hasrat hiburan mereka terpuaskan oleh hiruk pikuk Kpop, di saat yang sama netizen justru menolak menanggalkan nasionalisme. Terbukti ketika Knetz (sebutan netizen korea membuat onar dengan melontarkan kata narsis terhadap warga rumpun asia Tenggara

Kebencian Netizen Indonesia terhadap Kpop memuncak ketika muncul gerakan unfollow yang di lakukan netizen 62 terhadap artis Kpop. Semua bermula ketika band Korea DAY6 menggelar konser di Axiata Arena, Kuala Lumpur. 

Kala itu, sejumlah fansite master (penggemar fanatik yang biasanya membawa perlengkapan profesional) asal Korea Selatan nekat membawa kamera DSLR dengan lensa tele besar ke dalam venue, padahal promotor sudah melarang keras penggunaan kamera profesional.

Perdebatan berlanjut di ranah Maya, jika semula debat tentang etika konser, mendadak berubah menjadi serangan rasis dan kelas sosial. Beberapa oknum KNetz mulai melontarkan komentar yang sangat merendahkan masyarakat Asia Tenggara.

Titik puncaknya, muncul ejekan bahwa negara-negara Asia Tenggara adalah negara miskin yang hanya bisa menjadi konsumen murah bagi K-Pop, hingga kalimat rasis "monyet" atau "kecoa Asia Tenggara" memicu kemarahan kolektif dan membuat netizen asia tenggara bersatu membentuk aliansi bernama SEAbling.

SEAbling merujuk pada persatuan netizen dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam yang mengibarkan perang taggar #SEAbling (South East Asian Sibling). Tak berhenti di titik ini, aliansi ini terus menggempur dunia maya dengan isu ssensitif di Korea Selatan, seperti rendahnya angka kelahiran (birth rate), tingginya angka bunuh diri, hingga ketergantungan pada operasi plastik.

Pesan moral dari kejadian yang bisa di petik tentu bukanlah sekedar kata Nasionalisme, atau persatuan bangsa melayu yang ikut meramaikan perang taggar #SEAbling (Saudara se Asean) dari Kpop kita belajar bahwa Industri budaya yang di kemas dalam era kekinian 

Nasionalisme rumpun Asean ketika di remehkan, setidaknya menjadi titik balik untuk membendung serbuan Hallyu (Wave of Flow di dalam bahasa Korea). Kita di Indonesia memiliki banyak budaya yang sangat beragam dan jika di dukung alokasi anggaran yang maksimal pasti bisa melebihi korea wave. 

Masih tidak percaya? lihat saja Aura Farming dan Tabola Bale yang sanggup mendunia, kendati akhirnya menghilang di lini massa akibat tidak mendapat dukungan masif dari kebijakan maupun finansial 

Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar