Ritus Budaya Padi, Spirit Kembali ke Bahan Alami
Pernahkah kita membayangkan bagaimana perjalanan panjang nasi yang kita makan hari ini. Proses panjang dengan dinamika yang kompleks, mulai dari pembibitan, pemupukan, proses panen hingga di sajikan di meja makan, harus di bayar lewat jerih payah dan keringat petani
Hingga pada titik ini, kita diajak merenung dan menyaksikan punggung hitam petani yang mengkilat itu seolah paradoks dengan mobil hitam pejabat yang mengkilat.
Sepintas, analogi diatas terdengar satire, namun itulah fakta yang terjadi, bahkan di balik semua yang kita lihat, ada "monster korporasi" yang memangsa petani, menghisap keringat petani dan menciptakan efek ketergantungan
Seperti apa sisi paling gelap industrialisasi sektor agraris, yuk simak ulasannya, siapkan kopi dan camilan Anda karena kita akan masuk membongkar rahasia kebangkitan petani melalui tradisi yang diajarkan leluhur tanah Jawa.
****
Syahdan, 10.000 tahun yang lalu, di sebuah lembah sungai Yangtze tengah dan hilir para petani telah memanfaatkan aliran sungai untuk mengaliri sawah. Hal ini di buktikan dengan penemuan fosil padi di 100 situs arkeologis. Data radiokarbon menujukkan fosil sisa padi di wilayah ini di laporkan berusia dari 8000 sampai 13.900 tahun yang lalu.
Dalam Jurnal Agricultural origins and frontiers in South Asia, Fuller berasumsi bahwa Lembah Gangga di India sebagai situs dari pertanian padi yang terpisah dan kemungkinan juga merupakan situs domestikasi hingga akhirnya masuk ke Indonesia. Proses migrasi berlangsung lama, dan berkaitan erat dengan interaksi antara petani awal dan pemburu-pengumpul wilayah-wilayah perbatasan penting.
Dalam buku Sapiens: A Brief History of Humankind, Yuval Noah Harari menyebut revolusi pertanian sebagai "manipulasi terbesar dalam sejarah." yang di tandai dengan peralihan dari berburu-meramu ke budaya agraris.
Tradisi ini mengubah cara kita dalam memperlakukan alam—dari rekan sejajar menjadi aset yang harus dikelola. Ya, alih fungsi lahan hutan terjadi secara masif pada periode ini, dan fase inilah yang menandai titik awal terjadinya pemanasan global
Di Jawa, Arah Perubahan ini tidak cukup berhenti pada teknis penanaman, tetapi menjelma menjadi sistem kepercayaan yang menempatkan padi sebagai entitas bernama "Dewi Sri" yang sakral.
Dewi Sri atau Sanghyang Sri bukan sekedar sosok yang "dianggap" memperkenalkan Padi ke Bumi Nusantara, melainkan ia (Oryza sativa) yang di personifikasikan membawa narasi epistemis tentang harmoni alam dan keberlangsungan kehidupan
Disinilah point krusialnya, ketika pupuk urea di perkenalkan di tahun 60-an, seolah menjadi jawaban atas solusi praktis untuk meningkatkan produktifitas padi.
Perlahan petani beralih dari kompos dan pupuk kandang ke pupuk kimia, dan puncaknya terjadi di 1984, ketika Indonesia berhasil memproduksi 25,8 juta ton beras, membalikkan posisi dari importir menjadi eksportir.
Presiden Soeharto, kala itu begitu bangga berpose sambil membawa sabit (ani-ani/arit) dan menggenggam tangkai padi. Sebuah momen bersejarah sekaligus membanggakan yang hingga kini di pakai untuk memperkuat narasi "penak jamanku to".
Namun, siapa sangka di balik pose sang "smiling general" itu, ada jeritan petani yang hari ini terus mengeluh akibat panen yang terus merosot. Di Trenggalek misalnya, jamak kita dengar ungkapan "tani saiki soyo ngrekaos mas, pupuke angel, panen ra sepiro, bumine suloyo" ujar mbah dim.
Beruntung di tahun 2014, saya berjumpa dengan sosok penggiat Organik bernama Eko Supriyanto, yang secara getol berkampanye tentang penggunaan nutrisi organik.
Sebagai pelaku pertanian organik, ia tak pernah lelah berbagi ilmu kepada para petani. Semangat yang di kobarkan hanya satu, "Gunakan material organik yang ada disekitar kita, karena Alam telah memberikan segalanya" ujarnya
Selain nutrisi organik, Samoke - begitu kami memanggilnya- juga gencar berkampanye tentang penggunaan pestisida nabati (pesnab) Sebuah formula untuk pengendalian hama yang di ramu dari bahan organik yang memiliki komposisi unik ( pedas, pahit, wangi, kecut, menyengat), dan kelima unsur itu menjadi formula baku untuk di aplikasikan dalam pembuatan pesnab
"Manusia itu makhluk yang aneh, menggunakan bahan kimia untuk meracuni tanaman agar tidak dimakan makhluk lain, namun manusia yang memakan tanaman itu" ujar Samoke dengan nada sarkas.
Agar tidak meracuni tanaman, lanjut Samoke, maka ada pilihan material organik di sekitar kita yang bisa dimanfaatkan. Ia mencontohkan, jika ada daun mimba disekitar areal pertanian dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama serangga dan jamur.
"Khasiat daun dan pohon mimba yang tumbuh di dekat areal pertanian di yakini lebih ampuh di bandingkan bila kita mengambil daun mimba dari daerah lain, sebab leluhur kita percaya bahwa dimana ada penyakit, disitulah terdapat obatnya" ujarnya
******
Spirit kembali ke Alam juga di lakukan dengan metode lain. Di Nganjuk misalnya, sekelompok penggiat pertanian sehat mulai melirik metode leluhur Jawa yang kerap di kenal sebagai budaya padi.
Menurut Eko Agus Susilo, ada upaya dari masyarakat yang merindukan budaya nenek moyang, sebab di tengah modernitas yang terjadi hari ini, perilaku petani yang telah bergeser meninggalkan tradisi, terbukti gagal dalam meningkatkan hasil pertanian
"Tak bisa dipungkiri, kini petani merindukan kebangkitan Budaya padi yang di ajarkan leluhur Jawa dahulu, yakni tentang bagaimana cara harmoni dengan alam, dan inilah yang sedang dilakukan oleh saudara kita di Pakasa (Paguyuban Kawula Keraton Surakarta) Nganjuk, melalui gerakan pertanian sehat dan penyediaan pupuk murah" ujar pemilik nama lengkap Eko Agus Susilo, S. Sos, M. Si
Praktisi Budaya Jawa sekaligus Dosen FISIP Universitas Merdeka Malang ini menambahkan ada beberapa ritus budaya padi yang kini mulai bangkit dan di aplikasikan pada pola pertanian modern, mulai dari ritual Boyong Mbok Sri hingga ritual Wiwit (ritual di sawah sebelum pemotongan padi pertama)
"Jika kita mau mendalami, apa yang dimaksud stoikisme jawa itu ya budaya agraris. Artinya semua ritus yang berkaitan dengan persembahan, sesaji bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada bumi, sekaligus wujud syukur karena Tuhan Yang Maha Esa" ujarnya
Terkait upaya mengembalikan marwah petani, menurut Eko Agus, harus di mulai dari pemberdaya melalui komunitas kecil, dan terus dilakukan duplikasi model, dan fokus ke hal yang lebih spesifik.
Ia juga menyoroti secara khusus tentang kata Pemberdayaan yang dalam bahasa inggris disebut Empowering. "Penggunaan frasa yang tepat adalah pemberdaya, dan agar bisa berdaya maka harus berbudaya" tandasnya
Hal senada juga di ungkapkan Susanto, menurutnya gerakan kembali ke alam bisa di mulai dari memanfaatkan kembali material di sekitar kita.
Duta Petani Andalan asal Nganjuk ini menawarkan konsep lean farming, yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan mengurangi pemborosan biaya saat memasuki musim tanam.
Dalam konsep ini, pengurangan pestisida pada areal pertanian, dapat menggunakan light trap, sebuah perangkap serangga yang bekerja menggunakan lampu dan berfungsi untuk menjebak hama. sedangkan untuk pupuk, petani dapat memanfaatkan kotoran ternak.
Konsep Lean Farming merupakan versi modern dari Budaya Padi yang diajarkan lelulur, inti dari gagasan ini adalah pemanfaatan material alami, hingga pemanfaatan ruang (space) areal pertanian. "Pada selokan kita bisa membudidayakan lele, sehingga lahan lebih optimal" ujarnya
Kini, lanjut Susanto, sudah saatnya pola pertanian yang menjaga keseimbangan alam di terapkan melalui pendekatan berbasis kawasan. Sebab, dalam konsep ekonomi sirkular, pembangunan ekonomi dan pembangunan ekologi harus seimbang, sehingga berdampak positif terhadap masa depan serta menyiapkan generasi sebagai penerus penyedia pangan.
Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar