Hutan Bambu Petung, Solusi Krisis Air di Desa Ngepung
Musim Kemarau, bagi sebagian orang di anggap hal yang wajar, yakni siklus iklim yang "lumrah" terjadi di bumi. Namun, kedatangan kemarau seolah menjadi momok bagi warga Desa Ngepung. Setiap kemarau tiba warga Desa Ngepung mengandalkan pengiriman truk tangki dari BPBD.
Seolah menjadi ritual tahunan, pemandangan warga yang mengantri membawa galon dan timba berdiri menunggu giliran air dari truk tangki. Ribuan liter air di kirim dengan tempo pengiriman 2 minggu sekali, sebuah pemandangan yang memilukan dan kontras dengan predikat bumi Nusantara yang "gemah ripah loh jinawi".
Apa yang sebenarnya terjadi di Desa Ngepung sejatinya bukan sekedar krisis air, sebab di balik jeritan warga yang kesulitan mendapatkan air, ada potret kelam deforestasi serta kondisi bentang alam yang memang tidak bersahabat. Simak ulasannya, sambil sruput kopi pahit, agar kita bisa merasakan pahitnya kondisi warga saat kemarau tiba
************
Kita mulai dari kondisi bentang Alam Desa Ngepung yang secara geologi tidak bersahabat. Secara administratif, Desa Ngepung berada di Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk dan secara geomorfologi berada dalam zona Pegunungan Kendeng, yang merupakan jalur pegunungan lipatan yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Secara topografi, karakteristik wilayah ini dicirikan oleh perbukitan rendah yang bergelombang kuat hingga curam. Berdasarkan hasil riset yang di lakukan Pelestari Kawasan Wilis, menunjukkan wilayah Desa Ngepung berada di kawasan ketersediaan air yang rendah. Hal ini merujuk pada peta Hidrogeologi Produktivitas Akuifer, yang menujukkan bahwa ketersediaan Air tanah di Desa Ngepung sangatlah Rendah
Artinya, akuifer yang merupakan lapisan batuan, pasir, atau kerikil di bawah permukaan tanah Desa Ngepung, tidak berpori dan permeabel, sehingga tidak mampu menampung serta mengalirkan air tanah dalam jumlah signifikan, yang menyebabkan cadangan air alami sangat kecil atau tidak berarti.
Dalam kajian Hidrologi, permeabilitas adalah kemampuan suatu material (seperti tanah, batuan, atau membran) untuk melewatkan atau meloloskan fluida (cairan atau gas) melalui pori-pori atau celah yang saling berhubungan.
Bayangkan, Anda sudah menyewa peralatan bor dan bersiap melakukan pengeboran. Ketika mata bor sudah menyentuh kedalaman 100 meter mata bor telah basah dan itu pertanda sumur siap digunakan. Tiga hari berselang, pompa submersible yang tertanam dalam kondisi menyala namun air tak kunjung naik.
Dan disinilah krisis air bermula, Akuifer air tanah sangat rendah menjadi penyebab warga sulit mendapatkan air. Pada musim penghujan, warga mengandalkan air permukaan (sungai/waduk) atau penampungan air hujan. Namun saat kemarau, berharap air lewat cara mengebor tanah seringkali tidak menghasilkan air yang cukup.
Hingga pada titik ini, kita bisa menyimpulkan bahwa secara hidrogeologi, Desa Ngepung merupakan wilayah yang secara alami memiliki keterbatasan sumber daya air tanah karena kondisi lapisan batuan di bawah tanah di daerah ini bersifat kedap air atau memiliki kemampuan yang sangat rendah sehingga tidak akan maksimal untuk menyimpan dalam jumlah besar melalui pendekatan sumur resapan.
Inilah yang menjadi alasan logis ketika berbagai upaya yang telah di lakukan, mulai dari pembuatan sumur bor tetap saja tidak maksimal. Bahkan, pembuatan kontruksi sipil teknis berupa instalasi pemanenan air hujan juga belum mampu mengatasi hal tersebut.
**********
Kondisi geologi yang tidak mampu berfungsi sebagai akuifer ini di perparah dengan deforestasi yang terjadi.
Data analisa pemantauan deforestasi / deteksi perubahan tutupan lahan (forest cover change detection) menggunakan metode remote sensing yang di lakukan Pelestari Kawasan Wilis menunjukkan selama tahun 2000 - 2025 telah terjadi alih fungsi lahan hutan (deforestasi).
Meski berbagai upaya penghijauan kembali dilakukan pada periode yang sama, namun secara kumulatif terjadi deforestasi seluas 15,8 ha sejak 2000 - 2025.
Laju Deforestasi paling masif terjadi sepanjang tahun 2016 - 2018, sebanyak 9 ha lahan hutan di beralih fungsi, sedangkan pada periode terakhir terjadi di tahun 2023, dengan luas 2,4 ha.
Hilangnya hutan di Desa Ngepung makin memperparah ketersediaan air, sebab hutan memiliki peran sebagai penjaga siklus hidrologi. Sehingga ketika hujan tiba, hutan mampu menahan laju air sehingga tidak terlimpas ke sungai.
Masalah Geologi di Desa Ngepung yang tidak mampu menyimpan air saat hujan tentu dapat di carikan solusi melalui program penanaman bambu. Upaya ini bisa di wujudkan lewat pembuatan arboretum bambu sebagai bagian dari konservasi sumber daya air. Pemilihan spesies Bambu yang di pilih adalah petung, salah satu jenis bambu yang memiliki ukuran lingkar batang yang besar
Di Desa Ngepung yang didominasi batuan sedimen padat (napal/lempung) sangat cocok bila di tanami bambu guna mengembalikan fungsi tanah sehingga mampu menyerap air.
Keberadaan Arboretum bambu ini akan menciptakan mulsa alami melalui penumpukan serasah daun bambu yang jatuh. Hal ini dapat menjaga evaporasi air dari tanah, sehingga tanah di bawah rumpun bambu tetap lembap saat musim kemarau.
**********
Secara teknis, keberadaan hutan bambu mampu mengatasi masalah air di batuan padu dan topografi bergelombang, serta dalam jangka panjang (5-10 tahun), penanaman bambu secara masif di area tangkapan air dapat memicu munculnya kembali mata air kecil (belik) di bagian hilir karena cadangan air tanah dangkal terisi kembali.
Bayangkan saja, dalam 5-10 tahun kedepan, (dengan catatan rebung tidak di jarah) tanaman bambu yang kita tanam hari ini akan menjadi hutan. Hal ini berdasarkan hitungan matematis sebab fase pertumbuhan bambu mengikuti rumus bilangan kubik (N Pangkat tiga) (n^{3}. Artinya, jika 1 bambu kita tanam hari ini, maka tahun kedua menjadi 3 batang, dan tahun ketiga menjadi 9, tahun ke empat menjadi 27 batang.
Beberapa jurnal menyebut, jika satu rumpun bambu dewasa dapat menyimpan sekitar 3.000 hingga 5.000 liter air di dalam tanah per tahun. Maka, 500 kepala keluarga (KK) di Desa Ngepung membutuhkan 10 juta liter saat musim kemarau tiba
Estimasi ini didapatkan dari perhitungan sebagai berikut : Kebutuhan Air 500 KK x 4 orang = 2.000 jiwa. Kebutuhan harian: 2.000 warga x 60 liter = 120.000 liter/hari. Cadangan Kemarau (90 hari): 120.000 x 90 = 10.800.000 liter.
Jika satu rumpun bambu dewasa mampu mengonservasi rata-rata 4.000 liter air tanah per tahun, maka di butuhkan 2.700 rumbun bambu. Untuk memenuhi target 2.700 rumpun di masa depan, Arboretum Bambu Petung di Desa Ngepung membutuhkan sekitar 3.240 bibit namun yang ditanam harus lebih banyak untuk mengantisipasi tingkat kematian tanaman (mortality rate).
Melalui penanaman Bambu di tahun 2026 sebanyak 3.240 bibit, dan dilakukan secara masif di lahan seluas 15 hektar, maka desa Ngepung akan memiliki cadangan air tanah yang mandiri dan berkelanjutan untuk masa depan.
Editorial | Arah Perubahan

Posting Komentar