Agus Marlin : Pejuang Sunyi Asal Dusun Turi
Nama Agus Marlin (Amar) -mungkin tak banyak terdengar- seolah terselip di antara nama seperti Infirmus Abi asal NTT atau Mbah Sadiman asal Wonogiri. Padahal, Amar dan Sadiman memiliki pusaka yang sama, yakni Ficus
Kesamaan lain, mbah sadiman berjuang sendiri menghijaukan bukit tandus di Wonogiri, sedangkan Agus Marlin, - selama 8 tahun terakhir - berjuang bersama kesunyian hutan bernama Alas Plawon, yg berada di kaki Gunung Pandan (deretan pegunungan kendeng) Nganjuk Utara
Syahdan awal 2022, kami bertemu dengan beliau dalam satu aksi bagi2 pohon di Alun Alun Nganjuk. Kala itu, langit di Tlatah Anjuk Ladang mulai gelap, mentari beranjak pulang, namun hiruk pikuk orang lalu lalang mencari takjil seolah terjeda oleh aksi bagi2 bibit. "Ngabuburit kok bagi bibit bukan bagi takjil" gerutu orang yg lewat
Ya, ketika bagi2 takjil di bulan Ramadhan sudah terlalu mainstream. Maka, bagi bibit sengaja dipilih utk menjadi ritual setiap ramadhan. Bibit yang di bagikan juga membuat dahi berkernyit! .
Bayangkan saat Anda ikut antri, jangan harap anda mendapatkan pohon buah, sebab alih alih membagikan bibit pohon buah, Agus Marlin malah membagikan bibit Genus Ficus dari berbagai spesies seperti Preh, Kimeng, Beringin India.
Aksi "anti mainstream" ini justru mendapat cibiran warga, meski tak sedikit pula yang memuji dan menerima "takjil" berupa ringin, karena kebetulan suka dengan bonsai.
******
Sejak 2015, Agus mulai aktif menanam pohon di dekat sumber mata air, dengan lokus kerja konservasi berada kawasan buffer zone sumber mata air plawon. Areal ini merupakan areal kawasan perlindungan setempat (KPS) yang di kelola perhutani.
Berkat ketekunan dan konsistensinya dalam merawat mata air, ia mendapat apresiasi berupa konsesi lahan oleh Perhutani KPH Nganjuk. Dan, terhitung sejak April 2022, areal seluas 12,57 itu di serahkan kepada Agus Marlin untuk terus di jaga.
Di lahan yang masuk kawasan Sumber Mata Air Plawon itu, Agus Marlin berjuang memulihkan kembali zona tangkapan air melalui kerja Konservasi ini yang terus mendapatkan dukungan dari para penggiat lingkungan Nganjuk. Dan kolaborasi lintas organisasi di gelar pada 28 Januari 2023, bertajuk Aksi Tanam Alas Plawon.
Kini, di awal bulan Februari 2026, aksi serupa di gelar dengan tema Tanam Ficus di lokasi yang sama.
****
Membahas Ficus di Nganjuk, tentu tak bisa lepas dari nama Agus Marlin. Kecintaan pada Ficus , membuat ia aktif dalam forum pecinta flora mulai YMFI, (Yayasan Masyarakat Ficus Nasional), hingga Forum Tanaman Langka Indonesia
Di beberapa momen pertemuan, ia selalu bersemangat menebar spirit pelestari ke generasi muda. "Awak dewe kudu guyub mbangun empati kanggo hutan lestari lho kang" ujarnya mengingatkan.
Sosok Agus di kenal dengan perawakan kecil, kulitnya gelap, dan tinggal di rumah mungil yang terletak di dusun Turi, desa Ngadiboyo, kec.Rejoso, kab.Nganjuk. Di belakang rumah, terdapat kebun dengan luas tak lebih dari separuh lapangan bola.
Di sinilah ia merawat ficus dengan penuh ketekunan, memperbanyak stok dengan teknik propagasi batang (stek) dan hasilnya, ratusan ficus berjajar di kebun belakang rumah. Berkat budidaya ficus ini, ia lantas mendapatkan apresiasi dari Pusat Ficus Nasional (PFN), untuk menjadi representatif di regional Nganjuk
Ketika di tanya kenapa menanam Beringin ? bukankah ia tumbuh melambat dan tidak berbuah ? Agus hanya menjawab "aku nandur iki di nggo anak putuku sesuk, nek di nggo saiki aku wis nandur pantun, gandung, lan brambang" ujarnya
Ya, selain bergiat di konservasi, keseharian Agus juga di sibukkan oleh aktifitas bertani organik. Di sebidang tanah milik keluarga inilah keajaiban itu bermula. Ketika, harga pupuk dan pestisida terus merangkak naik, ia memutuskan menanam ladang bawah merah tanpa menggunakan pupuk kimia.
Ia membuat pupuk sendiri bekal pengetahuan tutur tinular secara turun temurun dari leluhur. Agus meracik sendiri komposisi bahan organik di lingkungan sekitar.
"Pupuk organik kui gawe bahan sing enek neng kene kang, mergo tuku pupuk kimia yo eman duite, mending di nggo tuku kebutuhan liyane" ujarnya
Kendati tak di bekali ilmu biologi atau pengetahuan ttg nutrisi, Agus seolah memahami kebutuhan tumbuhan, misalnya ketika tanaman di serang jamur, ia meracik daun mimba sebagai pengusir hama, sekaligus menambah daya tahan pohon.
Nutrisi tanaman itu ia beri nama Amar sebuah akronim dari Agus Marlin, yang dapat juga di artikan sebagai perintah untuk berbuat kebaikan. Keahlian pertanian organik yg otodidak ini lantas di tularkan, bahkan sudah menjadi diskursus forum Pakasa (Paguyuban Kawula Keraton Surakarta) Kab. Nganjuk
**********
Sosok Agus Marlin (Amar) merupakan satu dari sekian banyak para pelestari yang tak pernah lelah berjuang. Ia menjadi pejuang sunyi yang kerap di abaikan oleh pemerintah, mungkin perannya kurang strategis, atau kontribusinya di anggap kurang maksimal jika di bandingkan mbah Sadiman.
Namun dari tindakan Amar, kita belajar tentang arti Urip kui Urup, bahwa hidup itu tak harus menunggu kaya agar bisa berkorban, sebab kiprah terbesar itu ketika seseorang tetap berkontribusi (menanam ficus) meski hasilnya akan di nikmati kelak 50 tahun mendatang
Editorial | Arah Perubahan


Posting Komentar